Ternyata tidak mudah mencari jalan terang ketika keadaan memaksa bergelut dengan kenyataan. Aku berada di bawah rerimbunan pohon, namun hijaunya tidak bisa mewarnai pikiranku yang kemelud selayak awan hitam. Angin juga datang, berkali-kali membujukku untuk tenang, namun ku rasa ia gagal.
Aku berhasil menemukan hening, namun tidak jua mendapat hasil. Ini bukan masalah runyam, yang bertumpuk-tumpuk, atau masalah yang tiada habisnya. Tetapi masalahku saat ini sulit, karena berhubungan dengan kuasa Tuhan.
“Alpha,” aku menoleh dengan enggan. Dia menunduk sebentar; sebagai bentuk penghormatan.
“Ya”
“Luna mencari anda, anda bisa menjumpainya di kamar.”
Tanpa ingin menjawab, aku bangkit dari akar pohon yang sejak tadi ku duduki. Melesat kembali menuju kastil.
Sampai di halaman, aku melangkah perlahan, sengaja sedikit mengulur waktu untuk menata hatiku.
“Alpha, anda ingin sesuatu? Saya belum melihat anda menyentuh makanan sejak pagi.” Sapa Inara, menghentikan langkahku.
“Tidak Ina, aku habis berburu di hutan.” Jawabku sekenanya. Inara adalah kepala maid di kastil ini, karena ia sudah bekerja sejak kekuasaan Ayahku. Ia juga yang membantu ibu merawatku dulu, maka aku juga harus menaruh hormat padanya.
“Baik Alpha, izin kembali bekerja.” Aku mengangguk, Ia kembali bergabung dengan lalu lalang para maid yang tengah sibuk menyiapkan makan siang untuk keluarga pack dan juga warrior.
Beberapa warrior yang berkeliling kastil juga menunduk hormat saat berpapasan denganku. Aku mengangguk sekilas, Ayah dan Ibu tidak akan pernah suka jika aku bersikap acuh terhadap siapapun.
Kakiku menapaki tangga melingkar, menuju kamar ku di lantai dua.
Ceklek
Aku melihatnya, ratuku, tengah berdiri memunggungiku menatapi pemandangan di luar jendela.
Menyadari kedatanganku, ia berbalik. Lekas menghampiriku dan menarikku lebih jauh ke tengah kamar.
Seminggu ini, aku sedang enggan menanggapi apapun secara berlebihan, aku hampir tidak pernah tersenyum.
Dia ratuku, maka sebisa mungkin aku memaksa menerbitkan senyum untuknya.
“Ada apa sayang?” Tanyaku, berusaha menjaga suara selembut mungkin.
Aku balik menatap matanya yang amat berbinar, senyumnya mengembang sempurna. Tangannya memegang siku tanganku sedikit erat.
“Tris, aku hamil!” pekiknya girang, ia melompat-lompat kecil di tempat. Aku masih setengah sadar saat tiba-tiba ia menarikku dalam peluknya.
Aku merasakan bahagia yang meluap dari hatiku, menuju seluruh tubuh hingga aku memiliki kekuatan untuk tersenyum lebih lebar.
“Aku hamil Tris.. Kita akan punya anak” tegasnya sekali lagi. Aku kembali memeluknya lebih erat.
Dia melepaskan pelukan kami, setelah sudah sama-sama menguasai diri.
“Lihat!”
Aku menatap strip test kehamilan dengan dua garis yang ia tunjukkan. Aku benar-benar tidak bisa menyembunyikan senyumku.
Lantas ku tarik tangannya perlahan, mendudukannya di atas ranjang.
“Kau darimana Tris? Bukankah ini hari libur? Aku mencarimu daritadi. Hampir saja aku memasuki semua ruangan dari lantai tiga sampai dasar. Untung aku bertemu Teo yang bersedia membantuku.” Aku tersenyum, dari dulu ia begitu lucu saat merajuk.
“Aku ada di taman. Mengapa kau tidak mencium dan mengikuti aromaku sayang?”
Aku terpaksa berbohong. Tentu aku memiliki alasan yang kuat, bahwa aku tidak ingin membuat ratuku khawatir. Selama aku mangkir aku tetap berpamitan seolah akan berangkat menunaikan tugasku.
“Aku tidak memikirkan itu Tris. Aku hanya ingin segera menemuimu dan memberitahukan kehamilanku. Tadinya aku fikir aku sakit, tapi saat aku melihat kalender, ternyata sudah terlambat tiga hari dari jadwal bulananku. Kau tau? Aku bahkan tidak menyangka akhirnya Moon Goddes mengabulkan doa kita.”
Aku senang melihatnya bersemangat menceritakan kejadian pagi ini.
“Terimakasih sayang,” aku mencium keningnya lembut. Ia tersenyum sangat manis.
“Kau masih merasa tidak enak badan? Atau pusing? Ingin sesuatu? Darah rusa nampak lezat untuk menambah energi bukan?” Tanyaku beruntun yang membuatnya menimbang-nimbang fikirannya.
“Tidak Tris, aku masih kenyang. Aku hanya ingin bersamamu.”
“Baiklah, kau harus istirahat. Aku akan tetap di sini.”
Dia membaringkan diri. Aku mengusap perut ratanya, ada perasaan tidak sabar melihat perut itu membuncit.
Lima belas tahun lalu, aku menemukan belahan jiwaku. Dia adalah Taniaku. Moon Goddes memberikanku mate yang cantik, memiliki aroma strawberry, asam menyegarkan.
Perjalanan cinta kami tidak semanis cerita di film telenovela. Kami harus mengarungi banjir air mata yang ketika mulai surut turun lagi hujan permasalahan. Belum lagi meredakan perang berdarah dengan klan werewolf demi kedamaian.
Selang lima tahun dari awal pertemuan kami, keadaan membaik.
Akhirnya Tris Axelio bersanding dengan Tania Arkhan Ananda di altar. Mengucap janji suci dihadapan pendeta dan disaksikan seluruh klan vampire dari semua penjuru.
Selama satu tahun pernikahan, kami dengan semangat menanti buah hati.
Tak terhitung bujuk rayu yang kami lantunkan dalam senandung doa, namun belum juga mendapat jawaban.
Memasuki tahun ke dua, semakin banyak tekanan; mulai dari Ayah dan Ibuku yang hampir setiap hari menanyakan cucu. Saudara yang bukannya mendung namun seolah mengejek keadaan kami. Belum lagi gunjingan yang timbul tenggelam dari klan vampire, hingga desas-desus dari para maid yang saban hari membicarakan kesehatan rahim Taniaku.
Ibuku mulai terpancing rayuan dari para maid yang menyarankan agar memeriksakan calon Lunanya.
Dari situ, ibu mulai mencekoki Taniaku dengan ramuan tradisional yang ketika aku mencium baunya saja sudah mual. Setelah menunggu tiga bulan belum mendapatkan hasil, ibu kembali membawakan ramuan dengan racikan berbeda. Nyatanya nihil.
Pada akhirnya aku memprotes ibu, yang saat itu masih menjadi Luna untuk Klan vampire. Aku bahkan sempat hampir beradu dengan Ayah, karena terlalu membela ibu dan memojokkan Taniaku, istriku.
Meski Taniaku selalu menurut dan bersemangat, aku tidak bisa. Aku tau, di balik ketegaran dan senyumnya, dia rapuh.
Dua tahun berikutnya, Ibu mengajak kami mengikuti pemeriksaan di dokter.
Hasilnya baik.
Tidak ada yang salah di antara kami.
Namun tiga kali mengikuti progam hamil dari dokter yang berbeda, belum juga kami diberi keturunan. Akhirnya aku pasrah, aku tidak lagi mau mengikuti ajakan ibu untuk menemui dokter baru, mengkonsumsi obat-obatan yang bahkan kami tidak sakit.
Ayah tidak setuju dengan keputusanku, beliau mengharuskan aku memiliki anak untuk meneruskan garis keturunan. Begitupun ibu, yang sedikit banyak mengomporiku untuk meninggalkan Taniaku demi mendapatkan keturunan walaupun dari wanita lain.
Aku dibuat heran, dari mana ibu memiliki pemikiran seperti ini? Bukankah selama ini ibu menyayangi Taniaku?
Perdebatan kami berakhir dengan pertengkaran hebat.
Meski beliau adalah Alpha sekaligus Ayahku, tidak ada kata status dalam pertarungan. Nyatanya aku berhasil membuat beliau tersungkur, emosilah yang menjadi bahan bakar membuat kekuatanku bertambah.
Ibu dan istriku berteriak histeris.
Segera Tania memelukku agar aku tenang.
Ibu meneriaki warrior yang hanya diam mematung lantas bergegas membawa Ayah ke rumah sakit di samping kastil.
Itu suasana yang buruk untuk dikenang.
Lima tahun di awal pernikahan benar-benar menjadi penantian yang berat. Harapan-harapan baik kami berujung helaan nafas kekecewaan.
Tentu itu adalah salah satu pemicu emosiku yang semakin bergejolak ketika mendapat tekanan dari orangtuaku.
Untungnya, luka Ayahku tidak terlalu parah. Lukanya pulih sebelum hari genap seminggu.
Kejadian itu membut Ayah dan Ibuku lebih mengerti perasaanku. Ketika aku didampingi Tania mengucapkan maaf, mereka memeluk kami dan mengatakan tidak akan lagi memaksakan kehendaknya.
Dari situ Taniaku merasa amat bersalah. Sebisa mungkin aku meyakinkan bahwa memilikinya adalah anugerah, dan tanpa anak semuanya baik-baik saja. Aku tidak akan pernah meninggantikan posisinya apalagi meninggalkannya tidak peduli apa yang dunia katakan. Aku juga selalu mengatakan betapa sempurnanya dia, dan betapa aku tidak mau lagi melihat kesedihan di wajahnya.
Di tahun itu juga usiaku menginjak angka tiga puluh lima. Ayah dan Ibuku memutuskan untuk menyerahkankan puncak kepemimpinan klan vampire di tanganku dan istriku. Tepat di hari ulang tahunku, acara itu di gelar.
Tidak ada lagi yang membicarakan kami. Jikalaupun ada, dan Taniaku menangis, jangan salahkan aku jika mereka harus kehilangan nyawa.
Selepas acara, Ayah dan Ibuku tinggal di perkampungan vampire yang cukup asri. Rumah yang mereka siapkan untuk menikmati masa tuanya.
Kami tidak mengunjungi mereka setiap bulan, paling tidak, tidak kurang dari empat kali dalam satu tahun.”
Lima tahun terakhir, aku menjalani hidup dengan baik. Benar-benar tidak ada pembahasan lagi soal anak.
Aku dan Lunaku disibukkan dengan berbagai laporan keuangan; dari pajak, laporan pendapatan rata-rata dari klanku, dan lain-lain. Belum lagi, tentang data perpindahan penduduk dari satu klan ke klan lain. Juga kunjungan rutin ke lapangan, untuk memastikan semua berjalan baik.
Begitulah, tidak jauh berbeda dengan pemerintahan di dunia manusia. Dimana seorang pemimpin harus mengayomi rakyatnya.
Tanpa terasa, tahun ini genap sepuluh tahun pernikahan kami. Umurku terbilang empat puluh tahun. Aku merasa tua, meski aku yakin kau akan mengatakan jika umurku masih dua puluhan saat kita bertemu. Kalau bisa!
Seminggu kemarin, aku benar-benar kacau. Aku yakin hanya Moon Goddes yang tahu, ketika aku meneteskan air mata di hening rimba untuk kembali mengulas senyum saat bersama istriku tercinta.
Namun hari ini aku tidak perlu lagi berpura-pura. Thankyou Moon Goddes.