“Tania sayang, kenapa kamu tidak mual atau muntah? Bukankah orang hamil seperti itu?” Tanyaku heran, tiga hari sejak tahu dirinya hamil aku meminta Teo mengambil alih tugasku untuk memantau keadaan kaum vampire di beberapa pack yang jauh. Aku tidak mau meninggalkan istriku terlalu lama, khawatir jika ia membutuhkan sesuatu.
Tania tersenyum manis, “Menurut pengalaman Sinta, ia baru mengalami morning sickness dan ngidam di bulan kedua Tris jadi aku tidak khawatir.”
“Berarti ini saat yang tepat, bagaimana menurutmu jika sekarang kita mengunjungi Ayah dan Ibu? Mereka harus tahu hal menggembirakan ini.”
“Ayo! Rasanya aku sudah bosan hanya berdiam diri di kamar.” Aku tersenyum, menarik tubuhnya ke pelukanku lalu berbisik, “demi ratuku dan calon bayi kita sayang”
Blush
Nampak rona merah jambu menjalar di pipinya, aku pun mengecupinya berkali-kali.
Bukan tanpa alasan aku melarangnya, berkegiatan. Karena setahuku, kehamilan awal adalah masa rentan bagi janin. Meski selama ini apa yang dilakukan istriku bukan hal berat, aku tidak mau fikirannya terganggu sehingga bisa mempengaruhi kesehatan anak kami. Wuah, bukankah aku calon ayah yang bijak?
“Kau ingin makan sesuatu sebelum berangkat sayang?”
“Tidak Tris, siapkan camilan dan s**u kotak saja di mobil.”
Aku menatapnya yang keluar dari closet, ia berganti dengan dress floral selutut berlengan panjang, rambutnya diikat sebagian. Nampak anggun di mataku.
“Kau melamun?” Ujarnya menyadarkanku.
“Kau sangat cantik, kau bilang apa tadi? Maaf.”
Tania dan senyum lembutnya. Ia membungkuk, menyamakan wajah kami karena aku sedak duduk di sofa kamar, “aku ingin camilan dan s**u kotak untuk di jalan sayang.”
Cup
Ia mengecup bibirku kilat.
“Baiklah, ayo!” Ku gandeng tangannya saat keluar kamar.
“Kau tidak ganti baju?” herannya. Aku menggeleng, ia tidak tahu saja, jika aku sudah tidak sabar mencerca Ayah dengan serentetan pertanyaan.
“Max,” sapaku kepada salah satu warrior. Dia mengangguk sebentar, “siap Alpha, ada perintah?”
“Tolong siapkan mobil ya, aku akan mengunjungi orangtuaku. Satu lagi, minta salah satu maid membawakan camilan manis dan s**u kotak.”
“Laksanakan.” Jawabnya cepat, secepat ia melesat mengerjakan tugas dariku.
Jangan kalian tanya, mengapa aku dan istriku tidak melesat kan itu lebih menghemat waktu? Jika kalian memaksa, ku jawab dengan tegas, aku sangat tahu bahwa hal itu bisa menimbulkan guncangan pada janin Tania-ku.
Jangan tanyakan pula kenapa kami tidak menghilang? Membuat portal? Kan Tris raja klan vampire? Aku beritahu, klan vampire tidak sehebat klan demon.
“Tris, dimana Teo dan Sinta? Siapa yang bertanggung jawab di kastil nanti?”
Aku memejamkan mata menyadari kecerobohanku. Hampir saja! Kemana pula beta dan pasangannya itu? Ucapku membatin.
Tania melangkah menuju dapur, entah apa yang hendak dia lakukan, aku mengikutinya saja dari belakang.
“Bibi Inara, maaf menganggumu. Apa bibi melihat Teo dan Sinta?”
Mataku menangkap cairan merah pekat di teko, aku pun mendekati meja makan dan menuangkan cairan itu ke gelas.
“Duduk sayang,” aku menyeringai ke arah istriku, sempat-sempat nya dia memergoki ku yang sering melupakan table manner.
Setelah melihatku duduk manis di kursi, perhatiannya pun kembali pada kepala maid itu.
“Oh, Beta Teo di halaman belakang Luna, seperti biasa berlatih bersama warrior hingga pukul lima. Nona Sinta menyuapi Arkhan tidak jauh dari tempat latihan.”
Aku berdecak, mengingat betapa seringnya aku yang tengah ikut berlatih bersama warrior ku harus menahan konsentrasi dari berbagai aroma makanan.
“Bocah itu sudah berani memainkan pedang. Bukan begitu Ina?” Tanyaku ikut menyahut.
“Benar Alpha, tetapi Beta Teo tidak akan mengizinkan sebelum usianya tujuh tahun. Maka dari itu Arkhan tidak mau melewatkan satu hari pun tanpa melihat ayahnya berlatih.”
Aku mengangguk-anggukkan kepala menanggapi.
Sebenarnya bisa saja aku memindlink Teo, tapi aku enggan mengganggunya yang tengah berlatih, atau Sinta? Biarlah, aku sedang malas membuat drama perpisahan Sinta dan Tania.
“Aku titip pesan kepadamu Ina, tolong sampaikan ke Teo dan Sinta jika aku dan istriku berkunjung ke kediaman orang tuaku, bisa jadi aku menginap sepekan. Hari akan semakin gelap jika aku terus mengulur waktu.”
Aku beranjak, mendekati Tania untuk meraih tangannya.
“Laksanakan Alpha. Semoga Alpha dan Luna selamat sampai tujuan. Salam hormat saya untuk Sir Samuel dan Madam Sammy.”
“Iya, terimakasih Inara. Ayo sayang!”
“Sampai jumpa bibi, titip Sinta ya,” ujar Tania melambaikan tangan yang dibalas anggukan hormat.
Perjalanan kami teramat santai membuatku sedikit jenuh, sesekali aku membuang pandangan ke luar mencoba mencari sesuatu yang menarik, sialnya memang tidak ada.
Tania tertidur sejak tadi, mungkin baru lima menit setelah kami masuk mobil. Informasi baru yang aku tau darinya bahwa hormon ibu hamil membuatnya cepat lelah dan sering mengantuk di jam-jam tertentu.
Jika mengemudi sendiri, aku yakin, tidak akan sampai dua puluh menit. Sedangkan perjalanan kali ini bisa jadi memakan waktu dua jam, sedangkan aku tidak yakin Tania-ku akan segera bangun. Mau tidak mau aku harus berdamai dengan kebosanan.
Mataku menangkap tumpukan ciki, entah ilham darimana tanganku terjulur untuk mengambilnya. Seumur-umur aku tidak pernah makan camilan seperti ini. Semenjak mengenal Tania, memang aku sedikit tertarik dengan makanan yang sudah di masak.
“Antonio, apa kau pernah memakan camilan seperti ciki ini?” Antonio menoleh ke kaca depan untuk melihat apa yang aku tunjukkan.
“Belum Alpha, memikirkannya saja tidak pernah,” ucapnya dengan senyum kecil.
“Tapi aku penasaran,” jawabku, seketika aku membuka bungkus itu. Aroma manis langsung menyergap indra penciumanku.
Kalian pernah dengar jika penciuman kaum immortal sangat tajam bukan? Maka tidak perlu meragukan itu.
Kres kres kres
“Tidak buruk, masih lebih baik dari daging rusa tua yang cukup alot. Antonio, kau mau mencoba?” Sedikit mengulungkan tanganku agar ia bisa meraihnya.
“Tidak Alpha, biarkan pria tua ini menghabiskan daging alot itu.”
“Hahaha, baiklah.”
Kres kres kres
Enak juga!
Aku tebak kalian berfikir bahwa mate ku adalah manusia yang aku gigit lalu berubah menjadi vampire? Haha, tentu tidak. Mate ku murni keturunan vampire, hanya saja keluarganya memang memilih tinggal di dunia manusia. Hal itu menjadi salah satu dilema besar untuknya ketika harus meninggalkan keluarganya. Jaringan ponsel dari dunia manusia tidak bisa menembus dimensi kami. Jika Tania-ku mengeluh rindu, segera kami meluncur ke satu-satunya portal penghubung dimensi yang ada di perbatasan klan vampire dan werewolf. Hal ini tidak sulit, asal melakukannya sesuai prosesure.
Begitulah hidup, ketika kita berharap jalan yang kita lewati halus lurus tanpa hambatan, ada saja hal-hal tak terduga yang menjadi kejutan.