"Surprise!" seru Dannis yang melepaskan bekapan pada tangannya.
Katie yang terkejut dengan seruan Dannis sontak membuka kedua bola matanya. Mulut Katie menganga tak percaya.
"Kamu ... Kamu yang melalukannya?" tanya Katie takjub.
Dannis tertawa sembari menarik pergelanggan tangan Katie untuk mendekat.
"Gimana? Suka?" Katie mengangguk berkali-kali seperti anak kecil, gemas.
Katie sama sekali tidak menyangka kalau Dannis bisa seromantis ini. Dengan senyum yang mengembang ke atas, Katie mengecup pipi Dannis dengan cepat. Dannis tertegun, kemudian berdeham sebentar.
"Apa kamu sedang menggodaku?" tanya Dannis yang mendekatkan pinggang Katie ke arahnya, hingga menempel pada d**a bidangnya.
Wajah Katie meeona merah, jantungnya berdetak cetak seolah-olah ingin meloncat keluar dari tempatnya.
"Aku ... Aku lapar," ujar Katie sambil mendorong Dannis menjauh. Ia segera menutupi malunya dengan mencoba mengalihkan pembicaraan.
Dannis yang tahu jika Katie malu itu tersenyum menggoda. "Kamu makin cantik kalau wajah merah seperti itu."
Katie memukul lengan Dannis pelan. "Dasar gombal. Ayo kita makan, aku benar-benar sudah lapar dari tadi, Dan."
Dannis menuntun Katie sampai di kursi makan dan menarik keluar kursi tersebut agar membiarkan Katie duduk.
"Hari ini memang hari apa sih?" tanya Katie bingung sekaligus penasaran.
Dannis mengulas sebuah senyum yang penuh arti. "Tidak ada kok. Ayo pesan, bukannya kamu sudah lapar?"
Katie memandang ragu, tapi detik selanjutnya tak ia peduli lagi. Perut ratanya benar-benar sudah lapar, segera diambil buku menu yang ada di hadapannya dan mulai memesan makan malam mereka.
✪ ✪ ✪
"Dan, kamu di mana? Jangan tinggalkan aku sendirian," ucap Katie yang merasa tak ada sahutan dari tadi.
Katie sama sekali tidak dapat melihat sebab matanya ditutup kain hitam yang diikat oleh Dannis.
"Dan," panggil Katie namun lagi-lagi tidak terdengar sahutan dari pria itu.
Katie hampir menangis yang masih belum mendapatkan jawaban dari Dannis. Ditariknya kain penutup mata dengan kasar. Ia tidak peduli lagi dengan Dannis yang menyuruhnya untuk tutup mata.
Spontan kedua kelopak mata Katie terbuka lebar. Tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Di depannya terdapat lilin-lilin yang berbentuk hati menghiasi lantai tersebut.
"Indahnya," gumam Katie tanpa disadarinya.
Katie menolehkan kepalanya ke sekeliling arah dan berhenti pada sebuah tanda panah yang tertempel di dinding yang menunjuk arah lurus.
Kedua alis terangkat ke atas menandakan ketidak pahaman, tapi juga mengikuti instruksi yang ditujukan padanya. Ia memangut-mangut apa ini benar-benar ini Dannis yang melakukannya? Sendiri? Atau sesungguhnya pria itu menyewa orang menghiasi kamar tersebut?
Mulut Katie membentuk O besar. Kali ini, tangga itu diberikan kelopak-kelopak mawar asli ditemani dengan lilin sebagai penerangan. Terlihat sangat romantis.
Kini Katie sudah sampai di lantai atas. Namun, belum juga kelihatan sosok Dannis di sana. Ke mana pria itu pergi?
"Entah Dannis melakukannya untuk apa? Dan sekarang ia di mana sih?" gerutu Katie kesal kemudian langkahnya terus menelusuri sepanjang perjalanan.
Samar-samar dari kejauhan, mata Katie menangkap sebuah pintu yang tidak tertutup dengan rapat. Katie pun berjalan mendekati pintu yang tampak seperti sebuah kamar. Dipikirnya Dannis pasti menunggunya di dalam sana.
Saat mendorong pintu tersebut, titik di kedua sudut bibir Katie mengangkat ke atas. Matanya menatap berbinar-binar.
"Gimana?" Sebuah suara bariton dari arah sebelah terdengar. "Apa kamu menyukainya?"
Katie memalingkan wajahnya menatap ke arah Dannis. Air mata sudah hampir menetes dari kedua pelupuknya. Kemudian dipeluknya Dannis dengan erat seperti tidak ada hari esok lagi.
"Kamu ... Kamu kenapa sih hari ini? Kenapa banyak sekali kejutan yang kamu berikan?" tanya Katie sembari menghapus bekas air mata di kedua pipinya.
Dannis tersenyum sambil mengelus punggung Katie dengan lembut dan penuh kasih. Lalu dilepaskan pelukannya memandang lekat manik mata Katie.
"Ayo masuk, surprise-nya masih ada sedikit lagi," ujar Dannis sembari menarik pergelangan tangan Katie beranjak dari tempatnya.
Mata Katie memandang penuh takjub, mulutnya melongo besar. Katie benar-benar bingung dengan apa yang direncakan oleh Dannis untuknya.
Jangan-jangan ia melakukannya karena hari ini akan menjadi hari perpisahan kita? Aku masih ingat hari ini bukan ulang tahunku dan juga ulang tahun Dannis." Batin Katie bingung di dalam hati.
"Dan ... Apakah ada sesuatu yang ingin kamu ucapkan? Jika tidak, kamu tidak akan melakukan ini semua."
Dannis tersentak mendengar perkataan dari wanita itu. "Darimana kamu tahu jika aku ada sesuatu yang ingin diucapkan? Apa kamu bisa membaca pikiranku sekarang?" tanya Dannis menggoda.
Katie menggerutu sebal. "Aku serius ini, kamu mau berpisah denganku ya? Jadi hari ini akan menjadi hari terakhir kita bersama?"
Kening Dannis berkerut. "Berpisah? Apa yang kamu bicarakan?"
"Sudahlah, Dan. Jika kamu tidak ingin berpisah dan bukan hari terakhir kita, kamu tidak akan melakukan banyak kejutan seperti ini. Di drama kan banyak yang seperti itu, di hari terakhir mereka akan melakukan sesuatu yang sebelumnya tak pernah dilakukan, biar memberikan kenangan yang bagus untuk keduanya," kata Katie dengan polos.
Pletak!
Katie mengerucutkan bibirnya sambal menggosok keningnya yang disentil Dannis.
"Jauhi semua drama itu, kamu terlalu banyak menontonnya."
Katie menggerutu kesal. "Kalau bukan, lalu apa dong?"
Senyum Dannis seolah-olah menyimpan rahasia di dalamnya. Kemudian ia setengah berlutut di depan Katie dan mengeluarkan sebuah benda berkotak beludru warna merah. Lalu dibukanya kotak tersebut untuk menunjukkan isinya kepada Katie. Sebuah cincin emas yang dihiasi berlian, tampaknya begitu indah dan mewah.
Katie menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya.
"Maukah kamu menikah denganku, Nona Katie?"
Air mata kembali membendung di kedua pipi Katie. Ia benar-benar terharu, tak sangka jika Dannis akan melamarnya dengan cara seperti ini.
"Kupikir ... Kamu bukan tipe pria yang romantis," tutur Katie.
Dannis terkekeh kecil. "Untukmu, aku bisa apa pun sayang. Jadi maukah kamu menikah denganku?"
Katie mengangguk dengan antusias. "Seharusnya kamu sudah tahu jawabanku, Dan."
✪ ✪ ✪
Hari menjelang siang, Katie bangun dari tidurannya. Ingin bergerak namun seperti tubuhnya serasa dihalang oleh sesuatu yang berat menimpanya. Ia melihat ke bawah, dan ternyata itu kakinya dan lengan Dannis.
"Bangun, Dan." Katie menggoyangkan tangan Dannis agar ia terbangun. “Aku tidak bisa bangkit.”
"Hmm ... Jangan rebut, Yang. Aku masih ngantuk nih," sahut Dannis dengan suara seraknya khas baru bangun tidur.
Katie berdecak sebal, namun diempaskan kaki dan lengan Dannis menjauh dari badannya. Baru saja akan bangkit dari ranjang. Dannis kembali mengunci tubuh Katie yang lebih mungil ke pelukannya.
"Ih, Dan! Aku ... Aku kebelet nih. Lepaskan dong," pinta Katie yang terdengar panik.
"Aku ikut boleh?"
Katie memukul lengan Dannis dengan geram. Akhirnya Dannis bangkit dari ranjang sambil menguap. Katie pun segera berlari menuju ke kamar mandi.
Di dalam kamar mandi, Katie membuang napasnya berkali-kali. Detakan pada jantungnya melompat dengan cepat, hawa panas pun membungkus di wajahnya. Untung saja ia cepat masuk ke kamar mandi, kalua tidak, Dannis pasti akan meledeknya.
Semenjak Dannis melamarnya, Katie jadi lebih malu berhadapan dengan Dannis. Apalagi Dannis jadi lebih sering menggodanya, bahkan terang-terangan menciumnya di depan umum. Sampai orang iri melihat kemesraan sepasang joli ini.
Ya, kejadian lamaran telah berlalu seminggu yang lalu. Dan hari ini, Dannis akan membawanya ke mansion untuk menemui mama Dannis.
Tok. Tok. Tok.
"Siap-siap ya, Kat!”
✪ ✪ ✪