Xafier menatap Katie dengan mata tajamnya. Katie yang sudah tersulut emosi itu tidak peduli bahwa ia akan mati di tangan Xafier atau tidak.
Serigala Xafier itu terus saja berucap kepada Xafier.
"Bunuh dia! Jangan melepaskan dia! Karena dia, mate kita mati! Dia tidak mau memberikan stone itu! Mate kita mati karenanya!"
Xafier langsung berlari menuju ke arah Katie.
"Katie!"
"Farrel! Tolong menjaga Dannis untukku!"
Katie mengepakkan sayapnya tepat saat Xafier bermaksud mencakarnya. Kaki Katie kembali menginjak lantai.
"Katie," lirih Dannis.
Katie segera menoleh dan mendekati ke arah Dannis.
"Kamu tidak apa-apa?" Dannis menganggukkan kepalanya.
Tanpa mereka ketahui bahwa Xafier bersedia mencakar Katie. Farrel yang mengetahui terlebih dahulu langsung mengambil pedang yang ada di tangan Dannis itu menancapkan ke Xafier.
Xafier terpengkal ke lantai, beberapa saat kemudian aungan demi aungan bermunculan. Ruangan bawah tanah itu mulai bergetaran. Xafier perlahan-lahan menutupkan matanya.
"Sepertinya sudah mau runtuh!" teriak Farrel.
Katie melebarkan matanya dengan tidak percaya.
"Kalian pergi dulu! Aku harus mencari Sang Ratu!"
Dannis menahan tangan Katie. "Jangan ... jangan pergi."
Farrel membantu Dannis berdiri. "Aku yang akan pergi mencari Ratu Quinie. Katie, kamu yang bawa Dannis keluar."
Awalnya Katie tidak setuju. Tapi melihat Farrel yang sudah menjauh itu akhirnya Katie membiarkannya.
✪ ✪ ✪
Katie dan Dannis keluar dari mansion kemudian berdiri tak jauh dari mansion sambil menunggu kemunculan Farrel dan Ratu Quinie.
Dannis yang melihat tatapan khawatir Katie itu meremas tangan untuk memberikan kekuatan kepadanya.
"Bagaimana kalau mereka tidak keluar?" tanya Katie.
"Mereka akan baik-baik saja."
Mansion tersebut mulai runtuh. Katie menutup mulutnya tidak percaya.
"Farrel! Ratu Quinie!" teriak Katie sambil berlinang air matanya. Dannis menahan Katie yang bermaksud untuk berdekatan dengan mansion itu.
"Lepaskan! Ratu masih ada di dalam!" teriak Katie.
"Tenangkan dirimu! Kamu masuk tidak akan membantu apa pun. Aku percaya, Farrel akan menolong Ratu keluar."
Katie mulai tenang, walaupun air matanya masih setia membasahi kedua pipinya. Dannis yang ikut sedih itu menarik Katie ke dalam pelukannya. Tangannya mengelus pelan pundaknya dengan lembut.
Beberapa saat kemudian, mata Dannis menangkap sesosok yang muncul.
"Katie, coba lihat." Katie melepaskan pelukan Dannis dan memalingkan wajahnya.
Seorang wanita berjalan dengan susah payah mendekati ke arah mereka. Katie yang mengenali sosok tersebut langsung berlari ke arah wanita tersebut.
"Ratu! Apa Anda baik-baik saja?" tanya Katie khawatir. Ia pun mencari sosok seseorang yang belum juga muncul-muncul di belakang Ratu.
Ratu Quinie memegang lengan Katie saat mengetahui siapa yang dilihatnya.
"Dia tidak akan keluar lagi," lirih Ratu Quinie.
Mata Katie terbelalak mendengar penuturan dari Ratu Quinie.
"A-apa maksud Anda, Ratu?"
Dannis mendekati Katie dan bersuara. "Maksud Ratu ... Farrel sepertinya dia ... dia telah mengorbankan dirinya."
✪ ✪ ✪
Katie duduk sambil menangis di pelukan Dannis. Ia merasa sedih, serasa baru kemarin Katie mengenal dengan Farrel. Kini, Farrel telah tiada karena menolong jiwa Ratu. Hanya karenanya.
Dannis mengelus rambut Katie dengan sayang. "Nangislah. Mungkin akan membuat perasaanmu lebih enak."
"Aku ... aku tak pernah berpikir ... dia ... dia melakukan ... sejauh ini demiku," ucap Katie sambil sesunggukkan.
"Sudahlah, Katie. Lagipula, itu kemauannya."
Kejadian terjadi beberapa jam yang lalu.
"Ratu! Ratu Quinie! Apa Anda mendengarku?!" teriak Farrel sambil sibuk menghindari runtuhan bebatuan.
"Uhuk ... uhuk ...."
Farrel menangkap suara seseorang yang tak jauh darinya, kemudian berlari mendekat.
"Ratu Quinie! Apa itu Anda?!" Lagi-lagi Farrel berteriak.
Dalam hati Farrel, ia harus menolong Ratu Quinie karena ia telah berjanji dengan Katie.
"Ratu Quinie!"
"Si-siapa di sana? Uhuk ... uhuk ...."
Farrel melihat sosok wanita sedang berjalan dengan susah payah. Ia mendekati ke wanita tersebut.
"Ratu Quinie! Katie sudah menunggu di luar mansion. Ayo cepat pergi, sebelum semuanya runtuh."
Farrel membantu Ratu Quinie berjalan meninggalkan ruangan kamar yang sudah tak terbentuk lagi.
"Sepertinya aku tidak pernah melihatmu? Siapa kamu sebenarnya?"
"Kami tidak banyak waktu untuk banyak bicara, Ratu. Terpenting kami keluar dulu dari sini."
Hindaran demi hindaran yang mereka lalui. Akhirnya tinggal beberapa jarak lagi mereka akan keluar. Tapi, kaki belum sempat menginjak ke luar mansion. Bebatuan tersebut runtuh hampir mengenai Ratu jika saja Farrel tidak menolongnya.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Ratu.
Kaki Farrel tertimpa batu besar. Ia sudah tidak dapat bergerak.
"Ratu! Cepat pergi!" perintah Farrel.
Ratu tak tega meninggalkan Farrel yang mengorbankan jiwanya demi dirinya.
"Tapi--"
"Aku menolong Ratu, karena aku pernah berjanji kepada Katie. Aku akan menjagamu jika dia tidak ada, karena Katie itu segalanya bagiku."
Farrel mengeluarkan kupu-kupu kertas dan memberikannya kepada Ratu.
"Tolong ... berikan ini kepada Katie." Ratu menatap kupu-kupu kertas itu.
"Cepat pergi, Ratu!" teriak Farrel.
✪ ✪ ✪
Katie melipat kupu-kupu kertas sebanyak mungkin. Air mata terus saja menetes di kedua pipinya. Ia ingat kupu-kupu kertas, waktu Katie umur 5 tahun itu.
Ia melihat sesuatu kecil seperti kupu-kupu itu bertebangan di dekat Katie. Awalnya Katie kira itu kupu-kupu dan berusaha untuk menangkapnya.
Sesuatu kecil itu bertebangan menjauh dan akhirnya jatuh ke lantai. Katie yang mengejar, melihat sesuatu yang ia kira kupu-kupu itu dan mendekatinya.
"Kupu-kupu, apa kamu baik-baik saja? Kamu terluka?" tanya Katie sambil membawa sesuatu kecil itu ke telapak tangannya dan mengelusnya.
Kemudian Katie meletakkan telunjuknya ke sesuatu yang kecil itu. Sinar cahaya kuning itu pun muncul.
"Hangat. Apa dia sedang menyembuhku?" batin sesuatu yang kecil itu ternyata makhluk elf.
Seiring waktu, Katie dan kupu-kupu itu menjadi semakin dekat. Sering bermain bersama, walaupun Katie hanya menganggap itu hanya kupu-kupu.
Ingatan Katie membuyar saat ada sesuatu yang hangat menyentuh wajahnya.
Katie mengangkat wajahnya sambil air mata berlinang. "Dia ternyata kupu-kupu itu."
"Dia pasti sudah bahagia, karena ia telah menepati janjinya. Dan juga, kamu masih mengingatnya."
"Dannis, aku tetap merasa bersalah kepadanya."
Dannis menarik Katie ke dalam pelukannya. "Farrel pasti tidak akan senang jika kamu terus seperti ini. Dia pasti berharap kamu bahagia."
"Farrel, maafkan aku. Sungguh maaf," batin Katie sambil membalas pelukkan Dannis.
✪ ✪ ✪