Dannis memasuki area mansion Katie. Tanpa Dannis ketahui jika ada seseorang tengah memperhatikan gerak-geriknya.
"Hm... akhirnya datang." Batin orang itu.
Dannis melihat betapa sepinya mansion Katie seperti terakhir ia datang untuk menjemput ayahnya.
Sampainya di dalam ruangan Sang Ratu, dadanya serasa sesak dan diremas dengan kuat. Sakit sekali.
"Akh!" Rintih Dannis sambil memegang dadanya.
"Well, well. Vampir yang lemah," ejek Xafier tiba-tiba muncul membuat Dannis memberi tatapan tajam kepadanya.
"Sepertinya aku datang ke tempat yang tepat. Dimana Katie?!"
Xafier mengangkat bahunya pura-pura tidak tahu. "Dia tidak ada di sini."
Dannis menyipitkan matanya, ia bisa merasakan keberadaan Katie di sini. Dia yakin kalau Katie pasti ada di mansion ini.
"Mencoba menbohongiku?!"
Dannis berteleportasi untuk mencekik Xafier. Tapi sayangnya Xafier segera menghindar dan mengeluarkan cakarannya.
"Kamu masih jauh di bawahku, Mr. Vampire, hahaha...."
"Cih! Asal kamu tahu jika makhluk seperti kalian selamanya bukan lawanku!"
Dannis kembali mendekati Xafier, bermaksud untuk menyerangnya. Xafier pun tidak memberikan Dannis untuk mendekati tubuhnya. Satu sama lainnya itu berusaha mencari kesempatan untuk menyerang.
"Vampir yang licik, heh?" batin Xafier sambil menyeringai.
Dannis berteleportasi tepat di belakang Xafier membuat Xafier membalikkan tubuhnya. Tepat pada saat itu, Dannis kembali berteleportasi ke belakang Xafier dan menghantamnya mengenai dinding kemudian jatuh ke lantai. Darah mulai keluar dari bibir Xafier.
"Akh! Ternyata licik memang licik! Hahaha ...," ujar Xafier sambil berdiri.
"Aku tidak selicik dirimu!"
"Dan ... Dannis," lirih Katie dari arah belakang Dannis.
Dannis segera membalikkan tubuhnya. Di sana terdapat wanita yang sangat dicintainya itu tersekap oleh dua orang pengawal.
"Jangan mendekat!" Dannis ingin mendekati Katie, tapi terhenti karena salah satu pengawal Xafier mencekik Katie.
Mata Dannis merubah menjadi merah. Kemudian ia berteleportasi ke belakang para pengawal itu. Pengawalnya Xafier mengikuti bayangan Dannis itu memalingkan wajahnya.
Dannis langsung mencengkram baju kedua pengawal itu dan melemparkan tubuh mereka ke dinding mengakibatkan dindingnya retak. Kedua pengawal itu hilang bagaikan debu.
Katie berlari mendekati Dannis dan memeluknya dengan erat. Air mata mengalir di kedua pipi Katie.
"Aku ... aku takut kamu ... kamu tidak akan menolongku," lirih Katie dengan terisak.
Dannis mengelus punggung Katie dengan pelan. "Aku tidak akan meninggalkanmu, aku pasti datang menolongmu."
"Aaauuu!!" Aungan demi aungan yang di keluarkan dari bibir Xafier itu membuat dua pasangan itu melepaskan pelukannya.
Dannis berjalan di depan Katie untuk melindunginya. Dannis menyipitkan matanya agar mengantisipasi jika Xafier tiba-tiba menyerangnya.
Xafier tiba-tiba berhenti mengaung, malah menatap tajam mata merah milik Dannis.
"Hm ... berubah juga ternyata," ujar Dannis dengan senyum seringaian.
Dannis mengulurkan tangan kanannya, sebuah cerah sinar putih muncul. Beberapa saat kemudian, pedang berwarna silver itu sudah berada pada genggaman Dannis.
"Ggrr...."
Xafier berlari mendekati Dannis ingin menancapkan cakarannya. Tapi Dannis berhasil menghindarinya.
Mereka satu sama lainnya berusaha mencari kesempatan untuk menyerang.
"Dannis, hati-hati." Dannis memalingkan wajahnya ke arah Katie untuk meyakinkan.
Tanpa pada saat itu pula, Xafier menggunakan kesempatan itu untuk menyerang Dannis.
Srek!
"Aarggh!!"
"DANNIS!" pekik Katie terkejut.
Cakaran Xafier mengenai dadanya Dannis. Rasa panas bergejolak di dalam tubuhnya. Mata Dannis kembali mengantisipasi Xafier.
Katie di belakang Dannis sudah nangis sambil menutup mulutnya. Ia merutuki kebodohannya karena memanggil Dannis membuatnya kewalahan.
Dannis menahan sakit dan panas di dalam tubuhnya itu. Di angkat pedang tersebut dan berteleportasi di belakang Xafier.
Baru saja akan melayangkan serangannya. Xafier terlebih dahulu menyerang dan menggigit lengan Dannis.
"Sshh!" rintih Dannis sambil memegang lengannya.
"Sialan! Jika seperti ini terus. Aku tidak dapat menyerangnya," batin Dannis dalam hati.
Dannis diam berdiri di hadapan Xafier. Bermaksud menunggu serigala itu mendekatinya.
Beberapa saat kemudian, Xafier mulai berjalan perlahan-lahan. Kemudian tiba-tiba saja Xafier berlari ke arah Dannis.
Dannis menyeringai, tangannya sudah siap untuk memberi serangan. Tubuh Dannis masih bergeming di tempatnya. Seakan-akan ini saatlah yang ditunggunya.
"Dannis!" seru Katie.
Dannis melirik Xafier dengan ekor matanya dan melayangkan pedang itu mengenai tubuh serigala itu.
Xafier jatuh ambruk di lantai, Dannis menghembuskan napas leganya dan menjatuhkan dirinya di lantai. Katie berlari mendekati Dannis.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Dannis sambil melihat Katie dari atas sampai bawah.
"Seharusnya itu yang kutanya, Dan! Kamu terluka!"
Dannis tertawa. "Aku tidak apa-apa. Luka ini bisa sembuh sendiri, jadi tidak usah khawatir."
Cairan kristal mengalir dari pelupuk mata Katie. Dannis tersenyum sambil menghapus air mata Katie.
"Jangan menangis, aku tidak apa-apa." Dannis mengelus pipi Katie dengan sayang.
Mata Dannis terbelalak kemudian menarik Katie ke dalam pelukannya dan membalikkan tubuhnya. "Awass!!"
Srek!
"Akhh!!"
Katie terdiam saat melihat jari panjang menancap di punggung Dannis.
"Dannis!" seru Katie sambil berlinang air matanya.
"Dannis! Bangun! Jangan bercanda!" pekik Katie. "Kamu bilang kamu bisa sembuh sendiri! Ayo bangun! Jangan tidur lagi!"
"Katie!" teriak seseorang sambil mendekati Katie.
"Hmm ... mangsa yang lain lagi?" ujar Xafier.
Katie mengangkat wajahnya dari Dannis dan menatap Xafier dengan benci.
"Yang kamu mau itu hanya stone itu! Kenapa sampai kamu harus menyakitinya! Xafier, jangan harap bahwa aku akan memberikan stone itu kepadamu! Sampai aku mati, kamu selamanya tidak akan mendapatnya!" teriak Katie dengan emosi.
Manik mata Xafier berubah warna menjadi kuning. Di dalam manik mata hanya terdapat Katie.
"Kamu cari mati!"
✪ ✪ ✪