Dannis berdiri di sisi peti David itu bersama Sylvia yang masih menangis, belum rela melepaskan David.
"Ma, relakanlah Papa, Papa pasti sedih melihat Mama terus seperti ini." Sylvia menangis di pelukan anak semata wayangnya.
"Mama hanya masih belum percaya, Dan. Belum percaya Papamu tega meninggalkan Mama sendirian."
Dannis menghela napas gusar melihat mamanya seperti ini. Ia tak tahu mau bagaimana lagi, sangat frustasi dengan kejadian yang telah menimpa di clan-nya dan juga hilangnya Katie masih belum tahu di mana keberadaannya.
"Apa ini ada hubungan dengan Katie?" pikir Dannis.
Dannis segera menghapus pemikiran negatif bahwa Katie yang merencanakan ini kemudian meninggalkannya.
"Aku yakin Katie tidak melakukan apapun!" Dannis meyakinkan hatinya.
✪ ✪ ✪
"Rion, aku butuh bantuanmu." Dannis menatap sahabatnya itu dengan tatapan mohon.
"Aku akan membantumu sebisaku," sahut Rion.
Dannis tersenyum. "Aku butuh kamu menggantikanku sebagai Raja." Rion terbelalak mendengar ucapan Dannis.
"Tidak boleh, Dan! Aku hanya tangan kananmu, tidak boleh duduk di posisi itu."
Dannis menghela napasnya. "Sementara waktu saja, Rion. Tidak akan lama."
Rion menggelengkan kepalanya. "Tidak, Dan. Aku tidak ada hak untuk duduk di sana. Jika yang kamu khawatirkan itu perusahaanmu, maka aku bisa atasi itu sampai kamu bisa menangani lagi."
"Thanks, dude."
Rion menepuk pundak Dannis. "Lihatlah dirimu, betapa kacaunya kamu ini." Ujar Rion sambil ketawa geli.
"Aku tahu kamu khawatir sama Katie. Apa kamu sudah mencari di mansion-nya?" tanya Rion.
Dannis menggelengkan kepalanya atas jawaban Rion. "Apa mungkin dia di sana? Aku pernah melacak keberadaannya lewat ponsel Katie. Tapi tidak menemukannya di mana pun."
"Aku akan membantumu mencari keberadaannya. Kamu tidak usah terlalu khawatir, dia akan baik-baik saja. Sebaiknya kamu urus dirimu sendiri terlebih dahulu."
Dannis senyum tipis. "Aku tidak ada waktu untuk itu sekarang, Rion."
✪ ✪ ✪
"Xafier! Pergi dulu dari sini, aku akan menahan Sang Angle!" seru Katie.
Dari belakang tanpa sepengetahuan Katie, jari-jari Xafier langsung menggores punggungnya.
Mata Katie terbelalak, tanpa perlu waktu yang lama untuk membuat Katie jatuh terkulai lemas di lantai. Sang Angel menutup mulutnya, kemudian ia mulai menyerang Xafier.
Serangan demi serangan, akhirnya Xafier terpental di dindingnya. Aungan di dalam tubuhnya itu serasa membakarnya.
"Xa ... fier," lirih Katie dengan air mata berderai. Ia tidak sangka bahwa Xafier, pria yang di cintainya itu melakukan ini kepadanya.
"Arrghh!!"
Di sebuah ruangan gelap yang hanya ditemani dengan secerah lilin, seorang wanita yang tadinya tengah berbaring di lantai dingin dengan pulas itu terbangun karena mimpi buruk melandanya.
Suara rantai yang menggema itu membuat sang wanita menoleh. Pengawal yang menjaga di depan pintu tersebut meletakkan makanannya. Katie memutar bola matanya dengan malas.
"Kamu pikir dengan tidak makan, aku akan melepaskanmu? Oh, kamu tahu itu tidak akan terjadi." Xafier muncul di balik kegelapan pintu tersebut.
"Bagiamana? Apa belum ada keinginan memberitahu di mana stone itu?"
Katie menguap tanda ia tidak peduli dengan keberadaan Xafier. Kemudian berbaring kembali di lantai.
"Hmm... Masih tidak ada niat membuka suara?"
Sudah seminggu Katie menetap di ruang bawah tanah mansion-nya. Katie pun tidak lagi mulai berharap dengan kedatangan Dannis. Mungkin saja Dannis sedang bersama wanita yang telah mengganti posisinya– itulah yang di pikirkan oleh Katie.
"Ckckck, kubilang apa? Dia tidak akan datang menjemputmu. Kenapa? Karena ia hanya mempermainkanmu, Katie. Hahaha...," ejek Xafier yang masih belum membuat Katie ingin membuka suara.
Meskipun Katie terlihat tidak peduli, tetapi ia tidak bisa berbohong dengan hatinya sendiri. Ia kecewa dengan Dannis yang tidak datang.
✪ ✪ ✪
"Dannis!!"
Dannis menoleh ke sumber suara. "Kenapa, Rion?"
"Projek resort yang sudah di bangun setengah itu terbakar," ujar Rion.
Mata Dannis membulat. "Apa katamu?!"
Drrt... Drrtt...
Manik mata Dannis memerah saat melihat nama yang tertera itu. Dengan cepat ia menyambar ponselnya yang ada di mejanya.
"Kau?!" seru Dannis.
"Hahaha ... Aku kenapa? Oh, jangan bilang kalau projekmu itu terbakar?" Ejekkan dari sebrangnya membuat Dannis mengepalkan tangannya.
"Sepertinya aku sudah terlalu baik menghadapimu, Cathlin."
"Haha ... Kau mau membalasku? Sebaiknya, pikirin dulu wanitamu itu. Dia sedang kesusahan, hahaha...."
Sambungan telpon di sebrang terputus. Dannis menggeram marah saat nama Katie disebut.
"Aku akan ke mansion-nya Katie. Kamu tetap mencarinya, jika menemukannya langsung menelponku!" Rion menganggukkan kepalanya mengerti.
"Tapi, bukannya kamu tidak menemukan Katie dimana pun? Kamu yakin dia ada di sana?"
"Ada atau pun tidak ada, aku akan tetap ke sana!" ujar Dannis dengan nada tingginya.
"b******k!" umpat Dannis dalam hati.
✪ ✪ ✪