Dannis mencak-mencak mendapat telpon dari nomor asing terus menerus. Dannis paling tidak suka sembarangan mengangkat telpon dari nomor yang tidak di kenalnya.
Beberapa saat kemudian, sebuah pesan singkat masuk.
Mau ketemuan?
-Cathlin-
Seketika Dannis menggeram marah melihat nama yang tertera. Kembali lagi ponselnya berbunyi dari nomor yang barusan mengirim pesan itu.
"Darimana kau dapat nomorku?" tanya Dannis kesal setelah mengangkat telponnya.
"Kau tidak perlu tahu itu. Jika tidak ingin bertemu, bisa saja aku memberitahumu dari sini." jawab Cathlin di ujung sebrang telpon.
Dannis mengerutkan keningnya. "Apa maksudmu?"
"Aku telah membatal proyekmu itu," sahut Cathlin dengan santai.
"Apaaa??" seru Dannis sambil bangkit dari kursinya.
"Kenapa? Kau marah?" Terdengar nada ejekan di dalamnya. "Kau hanya kehilangan beberapa juta, Dannis. Dan aku kehilangan satu-satunya keluargaku!"
Dannis mulai mengerti arah pembicaraan Cathlin. "Apa maumu?"
Cathlin ketawa di ujung sana. "Aku mau kau juga merasakan bagaimana rasanya hilang satu-satunya yang berharga! Tenang, ini masih awal permainannya."
Dannis mengepalkan kepalan tangannya untuk menahan emosinya.
✪ ✪ ✪
Katie pergi mendatangi mansion-nya tanpa sepengetahuan Dannis. Kembali dia melihat kesepian di mansion-nya.
"Kenapa sepi sekali?" gumamnya.
Katie berjalan ke arah ruang Sang Ratu dan mendapati dua pengawal menjaga di depannya.
Katie memberengut saat dua pengawal itu memberikannya masuk seperti sudah duga bahwa Katie akan kemari.
"Welcome, my pretty!" Sebuah suara bariton membuat Katie membeku.
Seketika Katie menatapnya dengan waspada. "Apa yang lo lakukan di sini, Xafier?! Di mana Ratu Quinie?!"
Xafier senyum menyeringai. "Dia sedang tidur, tenang saja."
Katie terkejut mendengar perkataan Xafier. "Apa maksud lo?!"
Xafier ketawa menyeringai. "Dia kubuat tidur, tidur panjang."
Tersirat pandangan benci dari mata Katie saat menatap Xafier yang tersenyum penuh arti itu. Tanpa bisa di elak, bahwa Katie merasa takut. Bayangan-bayangan 2 tahun lalu kembali berputar di depan matanya.
"Santai saja, Kat. Aku tahu kamu membenciku, tapi aku lebih membencimu!" teriak Xafier marah.
Mata Xafier yang cokelat itu sudah di ubah dengan warna kuning. Kemudian, tubuh Katie terangkat oleh sesuatu yang seperti tali yang di kendalikan oleh Xafier.
"Lepaskan gue!" seru Katie sambil memberontak.
"Katakan, di mana Wings of Stone itu?!" tanya Xafier. Suara mengaung menggema di ruangan ini.
"Aku ... aku tidak tahu!" sahut Katie dengan susah payah. Karena tali tersebut sudah mencekam di lehernya.
Di sisi lain pada saat yang bersamaan, Dannis meringis saat merasa sesak di dadanya.
Rion yang sedang berdiri di hadapan Dannis sedang membaca berkas itu menyadari keanehan dari Dannis itu mengangkat wajahnya memandang ke arah Dannis.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Rion khawatir.
"Aku harus pergi. Tolong bereskan kerjaku."
✪ ✪ ✪
Dannis menelpon ke nomor Katie. Tapi suara operator-lah yang menyahut. Dannis berdecak kesal.
Mobilnya pun memasuki perkarangan rumahnya. Kemudian keluar dari mobilnya dan masuk ke dalam rumah.
"Katie!" panggilnya. Tidak mendapat sahutan dari Katie.
"Tuan Dannis, Nona Katie keluar dari siang tadi sampai sekarang belum pulang." Kepala pembantu muncul dari balik tembok ruang tamu.
Perasaan Dannis tidak enak, kembali lagi rasa sesak di dadanya menyerang.
"Sialan!" desisnya sambil keluar dari rumah tersebut.
Dannis sambil mengemudikan mobilnya sambil berpikir ke mana Katie akan pergi.
Drrtt... drrt...
Dannis menepikan mobilnya dan mengeluarkan ponselnya yang bergetar hebat di jasnya.
Rion is calling.
"Rion? Untuk apa ia menelponku?" batinnya dengan kening berkerut.
"Apa?" tanya Dannis setelah menggeser tombol hijau.
"Raja ... Raja telah kembali, Dan. Tapi--" Rion tidak melanjutkan katanya, hanya terdengar suara helaan napas.
"Tapi apa?!" Tanpa Dannis sadari bahwa ia meninggikan suaranya.
"Tapi Raja telah meninggal." Mata Dannis membulat.
Dengan emosi yang meluap, Dannis melajukan mobilnya dengan cepat ke mansion-nya.
✪ ✪ ✪
"Ayah di mana?" tanya Dannis setelah masuk ke kamar mamanya.
Mata Dannis pun tersita dengan ayahnya yang terbaring lemas di ranjang mamanya. Seketika matanya berubah jadi merah. Emosinya naik membuat semua barang di kamar mamanya melayang di udara.
"Dan," ucap mamanya sambil menangis sedih. "Jangan di kendalikan oleh emosimu."
Prank!
Barang-barang yang melayang di udara itu jatuh ke lantai marmer saat Dannis menahan emosinya.
"Ma... relakanlah Ayah. Dia sudah meninggal," bujuk Dannis membuat tangis mamanya makin deras.
"Kenapa... kenapa bisa seperti ini, Dan? Ayahmu tidak pernah memiliki hubungan dengan Ratu Quinie, kenapa... kenapa membunuhnya?"
Dannis menahan tangisnya dan sakit di hatinya. "Maafkan aku, Ma. Semua salahku, semua terjadi karenaku."
Di sisi lain, Katie terduduk lemas di sebuah ruang yang gelap hanya di temani dengan beberapa lilin.
"Apakah aku akan terkurung di sini selamanya? Di mana sang Ratu?" batin Katie.
Katie menggelengkan kepalanya. "Tidak. Aku yakin, Dannis akan menolongku."
"Hahaha... masih berharap Mr. Vampire itu bisa menolongmu?" Tiba-tiba Xafier muncul di balik pintu.
Katie menatap Xafier dengan males. "Aku tidak percaya dia akan meninggalkanku di sini!"
"Baiklah, tetaplah berpegang teguh dengan hatimu itu." Terdengar nada ejekan di dalamnya.
"Coba lihat saja, Kat."
Setelah itu, Xafier keluar dari ruangan tersebut.
"Benarkah kalau Dannis akan meninggalkan aku di sini? Tidak! Aku tidak percaya!" pikir Katie dalam hati. "Aku akan tetap menantimu."
✪ ✪ ✪