Katie membuka matanya dan sedikit terkejut saat mendapati wajah Dannis sangat dekat dengannya. Di pandangi wajah Dannis dengan senyum di bibirnya. Tangannya yang merasa gatal itu menyentuh wajah Dannis.
Di lain sisi, Katie merasa sangat sedih karena tidak bisa membantu apa-apa saat mengingat kejadian 2 minggu yang lalu di mana dirinya tidak dapat membujuk Sang Ratu untuk melepaskan David.
"Jangan membangunkan adik kecilku, sayang." Katie tersentak lalu dengan cepat menurunkan tangannya.
"Apaan sih!" gerutu Katie untuk menutupi malunya itu membuat Dannis ketawa geli.
"Kamu nggak tahu kalau sentuhanmu bisa membuatku gila," ujar Dannis.
Katie memutar bola matanya kemudian turun dari kasur. "Bangun gih! Nanti kan kamu mau meeting pagi."
"Tarik," pinta Dannis manja sambil mengulurkan tangannya.
"Ih! Kamu anak kecil apa?! Cepat bangun! Aku mau bikin sarapan dulu."
Dannis mengerucutkan bibirnya saat melihat Katie berjalan keluar dari kamarnya.
Hari demi hari yang mereka lalui, Katie semakin terbuka dengan Dannis dan tentu saja hubungan mereka lebih dekat dari sebelumnya. Dengan males, Dannis menuruni ranjang menuju ke kamar mandi.
✪ ✪ ✪
Katie berkeliling di toko buku untuk mencari novel yang ingin di belinya.
"Pretty, masih ingat denganku?" Suara seseorang membuat Katie terkejut.
"Farrel?? Kenapa kamu bisa di sini?" tanya Katie dengan sedikit meninggikan nadanya.
"Memangnya kenapa? Aku tidak boleh di sini?"
Katie menggelengkan kepala. "Bu-bukan begitu. Aku hanya terkejut saja."
Farrel melirik ke sekitarnya dan tidak mendapati orang lain lagi selain Katie. Kemudian bersuara.
"Kamu sendirian?" Katie mengangguk.
Dengan senang hati, Farrel mengajaknya untuk makan bersama.
"Mau makan?"
"Eh?" Tanpa ada persetujan dari Katie, Farrel menarik pergelangan tangan Katie untuk meninggalkan toko buku tersebut.
Di samping itu, Dannis memasuki ke restoran yang ternama itu, Union Square Cafe. Matanya langsung tertuju kepada seorang wanita yang sedang bercermin itu. Di dekati wanita tersebut dan duduk di hadapannya.
"Tak kusangka kalau kau yang menangani proyek ini," ujar Dannis.
Wanita tersebut ketawa. "Kenapa? Kau kecewa?" tanya wanita itu.
"Mending kau pulang saja," ucap Dannis bersedia berdiri.
"Jadi... kau mau membatalkan proyek itu? Sepertinya itu sangat penting bagimu," ejek wanita tersebut.
"Bukan urusanmu, Cathlin!" kesal Dannis. Kemudian dia berjalan melewati wanita itu.
Tanpa sengaja matanya menangkap seorang wanita yang sudah tidak asing di matanya bersama seorang pria yang juga sudah di kenalnya itu duduk di dekat pojokan jendela.
Emosinya yang sudah di tahan karena wanita tadi sekarang meledak saat melihat kedekatan mereka.
✪ ✪ ✪
Katie duduk di meja makan sambil menunggu kepulangan Dannis dari kantor. Jam sudah menunjukkan pukul 19:45 PM berarti sebentar lagi Dannis akan sampai rumah.
Setengah jam berlalu dan Katie masih setia duduk di meja makan sambil menunggu kepulangan Dannis. Tapi sosok itu tidak muncul-muncul membuat Katie khawatir.
"Mungkin terjebak macet ya," gumam Katie kepada diri sendiri untuk menenangkan diri.
Kekhawatiran makin melanda saat melihat jam telah menunjukkan pukul 10 malam. Katie sudah menghubungi Dannis terus-menerus dan sama sekali tidak aktif.
Beberapa saat kemudian, terdengar suara pintu di buka membuat Katie menyungging sebuah senyum di bibirnya.
"Kamu darimana saja? Kenapa tidak menghubungiku? Kamu sudah makan belum?" tanya Katie khawatir.
Dannis mengabaikan pertanyaan Katie. Berlalu di hadapan Katie dengan jalannya yang agak sempoyongan.
Katie menoleh ke arah Dannis. Di ikuti Dannis dari belakang.
"Kamu kenapa? Kok minum bir?" Lagi-lagi Dannis mengabaikan Katie membuat Katie menatap Dannis dengan tatapan kebingungan.
"Apa salahku? Kenapa dia mengabaikanku?" batin Katie. Wajahnya tak luput dari kerutan di keningnya.
✪ ✪ ✪
Katie menghela napas gusar sambil menoleh ke arah sebelah di mana Dannis tidur sambil memunggungi Katie.
Kemudian Katie berbaring dan mengelus rambut Dannis dengan lembut. Dannis menutup matanya untuk menikmati sentuhan Katie.
Dannis baru saja akan membuka suaranya tapi di duluan oleh suara Katie.
"Aku... aku tidak tahu apa yang membuatmu mengabaikanku. Tapi, kuharap... kamu jangan meninggalkanku." Suara lirih milik Katie membuat hati Dannis seperti tercabik.
"Jika kamu sudah bosan denganku... kamu bisa bilang denganku. Tapi jangan tidak menghiraukanku. Padahal aku berusaha membuka gembok di hatiku untukmu," lanjut Katie.
Dannis membalikkan tubuhnya membuat Katie terlonjat kaget. Wajah Katie memanas karena ternyata perkataannya di dengar Dannis. Katie langsung memunggungi Dannis karena terlalu malu.
Sebuah lengan kokoh itu memeluk perut Katie dengan erat.
"Maafkan aku," ucap Dannis. "Aku bukan bosan denganmu. Hanya saja... hanya saja tadi aku melihatmu dengan elf itu."
Seketika kedua sudut bibir Katie terangkat membentuk sebuah senyum. "Oh... sebenarnya kamu cemburu tuh?"
Dannis membalikkan tubuh Katie. "Aku melihat kalian bermesrahan, gimana aku tidak marah?"
Katie mengertukan keningnya mendengar perkataan Dannis.
"Bermesrahan?" batin Katie.
"Apaan?"
"Dia memegang wajahmu, terus kamu senyum kepadanya. Kamu tahu bagaimana kesalnya aku melihat kamu berdekatan dengan pria lain!" Gerutu Dannis.
Katie ketawa mendengar nada cemburuan di dalamnya. "Dia itu menghapus bekas kue di sudut bibirku, terus aku ketawa bilang terima kasih. Itu saja."
Dannis bangun dari baringannya. "Tetap saja aku tidak suka!" Suara rengeknya membuat Katie ketawa cekikikkan.
"Aduh... pacarku ini kok cemburuan sih," ucap Katie sambil memeluk lengan Dannis. "Sudah dong cemburuannya."
Dannis mengerucutkan bibirnya. "Tidak, aku mau menghukummu."
Katie terbelalak. "Hah?"
Sebuah kecupan mendarat di bibir Katie. Dannis ketawa geli melihat Katie yang terkejut itu. Kemudian Dannis menarik wajah Katie mendekat dan menciumnya. Katie menutup kedua kelopak matanya dan membalas ciuman Dannis.
Jika ini mimpi, kuharap jangan bangun selamanya. Aku rela tidur selamanya jika bertemu denganmu hanya dalam mimpi. Tanpa ada ketakutan, tanpa usah memikir hal lain, hanya kita berdua. Terima kasih telah membuka gembok di hatiku. Pikir Katie.
Bertemu denganmu itu mungkin kebetulan. Tapi, mendapatkanmu itu adalah keberuntunganku. Terima kasih membuka hatimu untukku, batin Dannis.
Tanpa kata pun, keduanya merasakan cinta itu dalam ciumannya. Ketulusan cinta tidak bisa di jelaskan, tapi bisa di rasakan dengan sebuah tindakan.
✪ ✪ ✪