David memegangi tangan wanita yang ada di sebelahnya. "Tidak apa-apa, Sylvia. Aku akan baik-baik saja."
"Tapi-"
David menggelengkan kepalanya. "Aku harus melindungi clan kita, terutama kamu. Aku tidak boleh menjadi seorang pengecut, Sylvia."
Air mata Sylvia berderai di kedua pipinya. "Aku takut mereka... mereka akan..."
Sylvia tidak tahan lagi melanjutkan kata-katanya. David menarik Sylvia ke dalam pelukannya.
"Sst... my love. Aku akan kembali dengan baik-baik." Akhirnya Sylvia mengangguk pasrah dengan keputusan David.
"Femo, panggilkan Dannis ke sini jika dalam dua hari kalau aku belum pulang," ucap David kepada tangan kanannya.
Femo mengangguk patuh. "Baik, Raja."
Sylvia memandangi David dengan sedih. "Kamu harus pulang, sayang. Aku akan menunggumu."
David tersenyum sambil mengelus pipi Sylvia dengan lembut. "Aku pasti akan pulang dengan selamat."
✪ ✪ ✪
Dannis melirik ke jam yang tergantung manis di dinding ruangan tersebut yang telah menunjukkan pukul 12:37 PM.
"Kenapa Katie belum datang? Biasanya sebelum jam dua belas sudah ada di sini," batin Dannis.
Lalu di keluarkan ponselnya yang tertera gambar Katie di wallpaper ponselnya.
Tok. Tok. Tok.
"Masuk," ucap Dannis sambil meletakkan ponselnya di meja kerjanya.
Pintu ruangan Dannis pun di buka. Menampilkan sosok wanita yang baru di pikirkannya.
"Baby-ku," ujar Dannis dengan riang seperti anak kecil membuat Katie menertawai tingkah lakunya. "Kupikir kamu tidak datang lagi, kasihan anak-anakku nanti."
"Biarin," ledek Katie sambil menjulurkan lidahnya.
Dannis ketawa sambil berdiri menghampiri Katie. Lalu di peluknya dengan erat.
"Aku rindu," lirih Dannis yang seperti bisikan.
Katie melepaskan pelukan Dannis kemudian menjawil hidungnya. "Baru saja beberapa jam tidak ketemuan. Lebay kali!"
Dannis terkekeh. Kemudian mengikuti Katie yang berjalan ke meja tamu. Katie mengeluarkan bekal dan membukanya.
"Aku masak makanan kesukaanmu, belakangan ini kamu makan tidak teratur," ucap Katie sambil sibuk menyiapkan sendok dan garpunya. "Aku khawatir kamu bisa sakit."
Dannis tersenyum dalam diam melihat kelakukan Katie yang sudah seperti istrinya.
"Suapi," perintah Dannis. Katie membulatkan matanya.
"Ih! Nggak mau, makan sendiri."
Dannis menekuk wajahnya. "Kalau nggak mau, ya aku nggak makan."
Katie cemberut. "Jangan seperti anak kecil deh."
"Kamu kan Ibu dari anak-anakku ini," sahut Dannis sambil menunujukan ke perutnya.
"Memangnya kamu hamil, anak pula."
Dannis ketawa terbahak-bahak melihat wajah Katie yang gemas minta ampun. Di kecup pipi Katie sekilas lalu memakan bekal yang di bawa Katie.
✪ ✪ ✪
Katie menyimpan bekal yang barusan siap di makan Dannis.
"Kamu pulang dengan apa?" Tanya Dannis.
"Naik taksi," sahut Katie sambil bangkit dari sofa panjang warna hitam.
Dannis baru saja akan membuka suaranya tapi di tahan dengan suara di pintunya di buka dengan buru-buru.
"Dan!" Seru Rion yang membuat Dannis memberengut.
"Apa? Kenapa buru-buru?" Tanya Dannis.
Rion melirik ke Katie lalu kembali menatap Dannis dengan ragu. "Itu... itu..." kembali lagi Rion melirik ke Katie.
Katie sepertinya ngerti dari lirikan Rion karena keberadaannya yang tidak mendukung dirinya untuk di sana. Ia pun mengajukan diri untuk keluar sejenak.
"Kamu di sini saja," ucap Dannis mencekal tangan Katie.
Dannis menatap ke Rion. "Kamu bicara saja, tidak apa-apa."
Rion tampak ragu karena itu ada hubungan dengan mereka. "Itu..." Rion menghembuskan napasnya kemudian kembali berucap. "Raja pergi menemui Ratu Quinie."
Katie membulatkan matanya. Dannis malah mengerutkan keningnya.
"Ratu Quinie? Kenapa ayahku menemuinya?" Tanya Dannis.
Rion menatap Katie dengan khawatir. "Ada clan lain yang mengatakan kalau clan kita menculik... menculik sang angel."
"Apa??" Seru Katie terkejut.
✪ ✪ ✪
Katie menatap luar jendela dengan khawatir. Sebuah tangan besar memegangi tangan mungil milik Katie.
Kini mereka lagi di dalam mobil Dannis untuk menuju ke mansion Ratu Quinie.
"Jangan khawatir," ujar Dannis lembut. Katie menoleh ke arahnya.
"Aku khawatir hal lain, Dan." Batin Katie.
Tapi Katie tetap menganggukan kepalanya.
"Kamu tidak ingin bertanya?" Tanya Katie bingung karena Dannis sama sekali tidak menanyakan identitas aslinya.
Dannis ketawa sekilas. "Aku sudah tahu, sayang. Jadi tidak ada yang perlu di tanyakan lagi. Aku sudah tahu semuanya."
Katie menarik tangannya dari genggaman Dannis kemudian menoleh ke luar jendela membuat Dannis memalingkan wajahnya ke arah Katie.
"Apa kamu marah denganku yang mencari tahu tentangmu?" Tanya Dannis.
Katie menggelengkan kepalanya. Tapi dia tidak bisa menghilangkan rasa kekhawatirannya.
✪ ✪ ✪
Katie berjalan masuk ke mansion-nya yang di ikuti Dannis di belakangnya.
Mansion yang biasanya banyak para Angle, anehnya sekarang tidak kelihatan satupun. Tanpa Katie pikirin, dia tetap berjalan ke ruangan Ratu Quinie.
Sampainya di depan ruangan Ratu Quinie. Dua pengawal yang menjaga ruangan Ratu itu menghalangi jalan mereka.
"Aku mau bertemu dengan Ratu!" Ujar Dannis kesal karena jalannya di halangi.
"Maaf-"
"Kau tahu aku siapa?! Beraninya kau menghalangi jalanku!" Seru Dannis dengan nada tinggi.
Katie menyentuh lengan Dannis bermaksud untuk merendahkan emosinya.
"Biarkan aku yang bicara dengannya. Apalagi ini terjadi karenaku."
Dannis menggelengkan kepalanya. "Aku yang salah, memaksamu untuk tetap di sisiku." Katie tersenyum meyakinkan.
"Aku sang Angel, biarkan aku bicara dengan sang Ratu," ucap Katie.
✪ ✪ ✪