PRANK!
"Ya ampuuun!!" teriak Katie saat mendengar suara pecah dari arah belakangnya.
Katie memelototi orang tersebut dan yang di pelototin malah menyengir tak salah.
"Dan, mending kamu keluar saja dari dapur daripada mengangguku masak," ucap Katie bete.
"Aku nggak menganggu, Kat. Aku kan mau bantu kamu masak," tolak Dannis. "Siapa tahu, piringnya jatuh sendiri."
"Keluar nggak!" ucap Katie dengan galak.
Dannis akhirnya mengangkat kedua tangannya tanda menyerah. "Iya, sayangku."
Semenjak ciuman waktu itu di bianglala yang sudah berlalu seminggu yang lalu. Dannis tidak lagi segan-segan memanggil Katie dengan panggilan sayang yang tidak di pedulikan Katie. Dannis juga jelas menunjukkan cintanya kepada Katie begitu juga sebaliknya.
Menurut Katie, cinta tidak harus di bicarakan dari mulut. Tindakan sudah cukup bukti kuat untuk menunjukkan sebuah cinta mereka. Daripada tiap hari mengatakan cinta dari bibir mereka tapi tidak dengan hatinya.
Ya, walaupun belum jelas status mereka itu termasuk pacaran atau bukan. Tapi Katie tidak ambil pusing dengan hal itu, malah menikmati saja waktu yang ada.
Dannis mendekati Katie lalu mencium pipi Katie dengan gemas. "Jangan galak, nanti aku-nya makin cinta."
Katie mengibas tangannya menyuruh Dannis pergi. "Hush! Jangan gombal!"
Dannis pun ketawa sambil keluar dari dapur.
Beberapa saat kemudian, Katie membawa keluar beberapa macam masakannya. Dannis menatap takjub dengan makanan di hadapannya.
"Kamu memang istri idaman, Kat."
"Jangan mulai lagi deh gombalnya, kamu tahu itu tidak akan mepan untukku," sahut Katie sambil memutar bola mata jengah.
Dannis menyeringai. "Kalau seperti ini mepan tidak?" Dannis pun bangkit dari duduknya dan mengecup bibir Katie.
Mata Katie terbelalak kaget. Dannis tertawa geli melihat ekspresi Katie. Katie akhirnya mengedipkan matanya, sadar dengan kerjaan Dannis.
"Sialan!" Umpat Katie kesal. "Nanti nggak lagi kumasak untukmu!" Ancamnya.
Dannis pura-pura bergedik takut. "Ih! Dedek takut sekali dengan ancamanmu."
Katie melototi Dannis yang membuat Dannis menyengir lebar. "Maaf, sayang."
Akhirnya mereka pun makan dalam diam.
✪ ✪ ✪
Katie berkeliling supermarket untuk melihat apa yang akan di belinya.
"Say, beli ini ya?" Tanya Dannis sambil memberikan semangka kepada Katie.
"Itu nggak perlu, Dan."
"Tapi aku ingin makan," ujar Dannis.
Katie berdecak. "Waktu itu aku kasih kamu tidak mau, sampai busuk semangkanya. Sekarang bilang mau makan. Nanti setelah kupotong, jangan bilang nggak mau lagi."
"Sip!" Sahut Dannis dengan senyum lebar sambil meletakkan semangkanya ke dalam troli.
"Well, well. Siapa pasangan baru ini?" Sebuah suara membuat Dannis seketika mengambil ancang-ancang melindungi Katie. Katie yang mendengar suara itu pun membeku di tempatnya.
"Dasar serigala liar! Kenapa ke mana pun bisa bertemu dengan kau?!" Ucap Dannis dengan kesal.
Xafier pun tertawa lalu matanya melihat ke troli yang Katie bawa. "Beli semangka saja?"
Memang trolinya Katie dan Dannis hanya di isi dengan semangka.
"Memangnya ini urusan kau?" tanya Dannis geram.
Lagi-lagi Xafier ketawa. "Ah... aku rindu masa-masa di mana Katie selalu memotong buah-buahan untukku dan kita makan berdua."
Rahang Dannis mengeras seketika mendengar ucapan Xafier yang sepertinya mengejeknya.
"Itu semua masa lalu!" desis Dannis dengan menahan amarahnya untuk tidak menyerang Xafier.
Menurut Dannis, belum saatnya ini untuk menyerang serigala liar itu.
"Dan, kita pergi saja." Katie membuka suaranya setelah diam lama karena menyaksikan mereka.
Dannis menyetujuinya, dan membalikan tubuhnya untuk menjauhi Xafier.
"Masa lalu, memanglah masa lalu. Tapi, masa lalu kita belum selesai."
Dannis berhenti berjalan begitu juga dengan Katie. Sekujur tubuh Katie itu menegang. Katie tahu jelas apa yang Xafier maksud. Lelaki itu sontak menarik pergelangan Katie untuk lanjut berjalan tanpa memedulikan perkataan Xafier.
Xafier tersenyum dalam hati. Aku akan mendapatkan apa yang belum kudapatkan.
✪ ✪ ✪
Dannis menyentuh tangan Katie dengan lembut membuat Katie sadar dari lamunannya.
"Kenapa diam saja?" tanya Dannis sambil menyetir mobilnya untuk pulang kembali ke rumahnya.
Jalanan lebih padat dari biasanya mengingat hari ini hari Minggu. Membuat perjalanan menuju rumahnya pun jadi lama.
Katie menggelengkan kepalanya. "Tidak apa-apa."
Dannis tahu apa yang membuat wanita di sebelahnya diam. Tapi ia tak ingin memaksa wanita itu untuk bercerita kepadanya. Dia hanya bisa menunggu, menunggu waktu yang membuat Katie sendiri membuka suaranya.
Dannis mengeratkan pegangan di tangan Katie. "Aku akan melindungimu, apa pun yang terjadi."
Perkataan Dannis sukses membuat Katie tersenyum. Dia lupa, kalau di sisinya sekarang ada Dannis yang
selalu sedia menjaganya.
"Terima kasih, Dan."
Dannis mengangguk kepalanya sekilas. "Kamu wanitaku, Katie. Nggak usah formal begitu."
Katie ketawa di buatnya. Ya, walaupun tidak kejelasan status mereka. Katie tahu, bahwa dirinya itu adalah wanita yang paling berharga bagi Dannis, mungkin? Katie berterima kasih dalam hati, bahwa ia memiliki Dannis di sisinya.
✪ ✪ ✪