Tok. Tok. Tok.
"Masuk," ucap Dannis.
Rion membuka pintu ruangan Dannis setelah mendapat persetujuan dari Dannis.
"Saya sudah menyelidiki atas apa yang Anda perintah waktu itu, Pak," ucap Rion dengan sopan.
"Coba aku lihat." Dannis mengulurkan tangannya. Rion memberikan berkas itu kepada Dannis.
Di bukanya berkas itu. Tampilah gambar seorang wanita yang selalu ada di pikirannya itu. Matanya pun tersita dengan sebuah gambar yang memiliki sayap putih.
Angel? Batin Dannis.
"Saya awalnya juga sempat terkejut. Tapi tidak heran juga dengan lambang yang ada di belakang telinganya."
Dannis tidak pernah tahu bahwa ada tanda itu di belakang telinga Katie. "Kenapa kamu bisa tahu?"
"Tanda itu akan muncul saat dirinya merasa bahaya," sahut Rion.
Kening Dannis berkerut saat matanya tersita dengan sebuah gambar. Gambar itu menampilkan Katie yang lemas di lantai dengan tatapan terluka sambil air mata berderai. Hati Dannis seperti tersayat melihat Katie tidak berdaya seperti ini.
"Ini kenapa?" tanya Dannis sambil menunjukan gambar tadi.
"Itu terjadi saat perangnya antara werewolf dan angel."
"Werewolf?" tanya ulang Dannis. Rion mengangguk.
"Apa yang terjadi saat itu? Bagaimana bisa terjadi perang? Setahuku, werewolf dan angel itu tidak pernah memiliki hubungan," ucap Dannis.
Rion seperti tidak ingin niat menjawab. Karena ia tahu jika Dannis akan marah besar jika tahu hal itu.
"Kenapa tidak di jawab?" tanya Dannis sambil membalikkan lembaran kertasnya.
Rion menghela napasnya. "Kamu lihat sendiri saja, kejadiannya semua tercantum di kertas itu pada halaman paling belakang."
"Tapi, setelah kamu membacanya. Kuharap kamu dapat menahan emosimu dan jangan memperparah keadaannya. Jika itu terjadi, maka clan kita akan terjadi masalah. Asal kamu tahu, kalau clan werewolf sekarang memiliki hubungan baik dengan Demon. Aku mengatakannya sebagai anggota clan-mu. Karena Demon bukanlah makhluk yang gampang di takhlukan."
Dannis diam mendengar nasehat dari Rion. Memang benar adanya, kalau sampai ia ada masalah dengan mereka. Maka clan vampire akan bahaya. Tapi semenjak Xafier selalu mendekati Katie. Dannis tidak bisa lagi tidak memiliki masalah dengan werewolf itu.
"Terlambat, Rion. Sekarang aku sudah mulai memiliki masalah dengan clan werewolf."
"Karena Katie?" Dannis mengangguk atas pertanyaannya. "Tapi kamu tahu itu akan membuat clan kita bahaya."
"Aku tidak peduli lagi, Rion. Pria b******k itu benar-benar harus musnah. Kalau tidak, aku tidak akan tenang saat ia berdekatan dengan Katie. Aku tahu dia seorang alpha, tapi aku selalu dapat merasa aura bahaya darinya. Bukan karena dia itu sainganku, tapi aku merasa dia ada maksud tertentu," jelas Dannis yang membuat Rion tak mampu mengeluarkan suara.
✪ ✪ ✪
Katie yang sedang menata bunga di ruang tamu itu, tiba-tiba mendapat pelukan di belakangnya. Tak usah pikir lagi kalau itu sudah pasti Dannis.
"Kamu sudah pulang?" Tanya Katie.
"Iya," sahut Dannis singkat sambil mendengus aroma Katie membuatnya menggeliat karena geli.
"Geli, Dan. Minggir ah," keluh Katie.
Dannis pun melepaskan pelukannya dan berpindah duduk di sebelahnya.
"Kamu lagi ngapain?" Tanya Dannis.
"Kamu tidak lihat kalau aku sedang menata bunga ini?"
"Aku tahu, tapi kenapa kamu yang menata, bukan pembantu?"
"Aku bosan, jadi aku yang memintanya."
"Baiklah, kalau kamu bosan. Bagaimana kalau kita keluar jalan-jalan sekarang?" tanya Dannis yang seketika membuat mata Katie berbling-bling seperti berlian.
"Mau! Aku mau!" seru Katie semangat.
Dannis ketawa melihat wajah Katie itu. Dalam hati ia berharap kalau selamanya sebahagia sekarang.
Sudah dua bulan setelah kepindahan Katie ke rumah Dannis. Awalnya, Katie masih ketus-ketus atau pun kesal dengannya. Tapi lama-lama sepertinya, Katie mulai menerima Dannis. Itu membuat Dannis sangat bahagia.
"Kamu mau ke mana?" tanya Dannis.
Katie berpikir sebentar kemudian dengan semangat dia menyahut. "Aku ingin duduk bianglala!"
✪ ✪ ✪
Mata Katie menatap tidak percaya dengan pemandangan New York yang sangat indah di bawahnya.
"Ini indah banget!" seru Katie dengan girang.
Dannis tersenyum melihat ekspresi bahagia Katie.
"Lain kali kita boleh sering-sering ke sini kalau kamu mau," ucap Dannis yang membuat Katie menoleh ke arahnya.
"Benarkah?!" Dannis mengangguk kepalanya.
Katie menyipitkan matanya curiga. "Kamu aneh hari ini."
Dannis ketawa. "Aneh gimana?"
"Tidak biasanya kamu bawa aku keluar, dan sebaik ini kepadaku."
Dannis melotot tidak menyetujui perkataan Katie. "Enak saja! Aku selalu baik kepadamu. Hanya kamu yang tidak peka."
Katie meringis. Memang benar kalau Dannis selalu baik kepadanya, meskipun dengan cara yang kasar. Tapi tetap saja, Katie merasa tidak enak. Lalu, Katie kembali melihat pemandangan kota yang indah itu.
Dannis menatap Katie dengan sendu. Aku harap kita bisa selamanya seperti ini, Katie. Aku harap kamu tetap di sisiku apa pun yang terjadi. Aku tidak bisa kehilanganmu. Kamu sudah seperti jiwaku, Katie. Jika kamu hilang, maka aku akan mati.
Katie menoleh saat merasa di tatap oleh Dannis. "Lihat apa?"
Dannis menggeleng. "Aku hanya berpikir betapa cantiknya kamu ini."
Perkataan itu sukses membuat wajah Katie memanas dan juga jantung yang bergetar di dalamnya.
"Katie," panggil Dannis membuat Katie menunduk malu. "Aku mencintaimu, sangat."
Katie tidak menjawab, hanya merasakan jantungnya yang terus saja berpacu dengan cepat. Katie tahu jelas kenapa jantungnya seperti itu. Kali ini, Katie tidak lagi mengelak bahwa dirinya telah jatuh ke pesona Dannis.
Dannis mengangkat dagunya Katie. Lalu menipiskan jaraknya dengan Katie. Perlahan tapi pasti, Katie menutup kedua kelopak matanya. Akhirnya Katie merasa sesuatu hangat dan kenyal di bibirnya.
✪ ✪ ✪