Dannis mempererat pelukan di bahu Katie untuk menandakan bahwa wanita di sebelahku ini adalah miliknya.
Katie merasa aneh dengan tingkah posesif Dannis. Tapi entah kenapa Katie merasa nyaman, dia merasa di jaga.
"Sapa Pamanku dulu ya," ucap Dannis yang di balas Katie dengan mengangguk kepalanya.
Mereka pun berjalan mendekati seorang pria yang bertubuh cukup besar dengan balutan kemeja hitam.
"Uncle Tio," panggil Dannis.
Pria yang di panggil Tio menoleh saat merasa ada yang memanggil namanya.
Mata Tio itu pun terbuka lebar dengan sempurna. "Dannis?! Beneran ini kamu?!"
"Iya, Uncle. Oh ya, ini pacarku." Katie yang berdiam diri di sebelah Dannis terkejut dengan ucapan Dannis yang mengatakan dirinya itu pacarnya.
"Bukan seperti it-" Ucapan Katie terhenti saat bahunya di remas Dannis.
Tio menatap Katie dengan bingung.
"Dia hanya malu saja," timpal Dannis.
"Kupikir kamu akan membawa Christy," sahut Tio.
Christy? Pikir Katie. Entah kenapa ia merasa tidak suka dengan ucapan Tio.
Dannis berdeham sebentar. "Kami pergi dulu ya, Uncle. Ada pengusaha lain yang mau kusapa," pamit
Dannis akibat merasa tak enak dengan nama Christy yang di sebut saat ada Katie di sampingnya.
✪ ✪ ✪
"Pa, Ma." Dannis menghampiri kedua orang tuanya.
"Loh, Dannis? Kamu ke sini sendirian?" tanya Mama Dannis, Sylvia.
"Tidak dong, Ma. Aku sama pacarku," balas Dannis dengan ketawa. "Cumanya dia lagi ke toilet, terus aku nampak kalian."
Sylvia memangut-mangut. "Namanya siapa?"
"Katie, Ma. Mama akan suka kalau sudah ketemu dengannya. Dia mirip sekali denganmu," ucap Dannis sambil terkekeh.
"Bukannya Christy, ya?" Tanya Papanya, David yang sepertinya belum tahu apa yang terjadi beberapa tahun lalu.
"Ma, apa kamu tidak memberitahu kepada Papa kalau Christy sudah meninggal?" tanya Dannis bingung kala David masih mengungkit nama gadis itu.
Sylvia menggeleng, wajah David berkerut samar-samar.
"Oh, aku sungguh penasaran dengan pacarmu itu. Sungguh, tidak pernah aku mendengarmu mengklaim seorang wanita sebagai pacarmu." Sylvia mencoba mengalihkan pembicaraan mereka.
Mengingat Katie, Dannis merasa Katie lama sekali di toilet.
"Pa, Ma. Aku pergi cari Katie dulu ya, serasa dia belum balik dari tadi." David dan Sylvia mengangguk setuju.
Di lain sisi, Katie berusaha menghindari diri dari orang yang ada di hadapannya.
"Farrel, maaf banget. Dannis sedang menungguku di luar sana," ucap Katie pelan.
"Bukannya kamu tidak suka dengannya?" tanya Farrel dengan nada tidak senang saat mendengar nama Dannis di sebut.
"Bukan begitu juga, tapi-"
"Apa yang kalian lakukan?" Suara bariton seorang yang sudah Katie hafal itu membuat tubuhnya membeku.
Katie memanfaatkan kesempatan ini dengan melepaskan diri dari Farrel ke sebelah Dannis. Karena Farrel menghimpit Katie di dinding setelah bertemu tanpa sengaja.
"Sudah kupernah peringatkan kalau jangan mendekati wanitaku!!" Geram Dannis dengan marah.
Farrel senyum mengejek. "Tapi aku tidak menyetujuinya."
"Sialan!" desis Dannis sambil berteleportasi di hadapan Farrel lalu mencengkram kerah Farrel dengan kasar.
"Sudah kubilang, kalau kamu sendiri yang mengklaim Katie sebagai milikmu. Apa kamu pernah berpikir dengan perasaannya? Apa kamu pernah memikir Katie bahagia apa tidak?" Pertanyaan Farrel itu sukses menohok ke lubuk hati Dannis.
Farrel tersenyum kemenangan dalam hati saat melihat mimik Dannis yang telah berubah.
✪ ✪ ✪
Dannis menghela napasnya dengan kasar. Pertanyaan Farrel dua hari yang lalu itu membuatnya mengingat kembali dengan kejadian lalu di mana dia juga pernah di tanya seperti itu.
"Apa kamu pernah berpikir dengan perasaanku?"
Suara ketukan di pintu ruang kantornya membuat Dannis mengembuskan napas lega. Karena dia tahu itu pasti Rion, dari bau darahnya.
"Masuklah, Rion." Rion membuka pintunya lalu memberi hormat kepada Dannis.
"Kamu datang tepat waktu, Rion. Aku mau kamu membatalkan semua jadwalku hari ini. Aku sedang tidak enak badan," ujar Dannis yang membuat Rion menatap dirinya dengan bingung.
"Kamu kenapa?" Tentu saja itu sangat membuat Rion penasaran. Tidak biasanya Dannis seperti itu.
"Aku lagi... lagi haus darah," ucap Dannis asalan.
"Kapan terkahir kamu minum darah?" Tanya Rion.
Dannis meringis bahwa dirinya lupa kapan terkahirnya dia minum darah.
"Mungkin sekitar satu bulanan?" Tebak Dannis asal.
"Oh My God! Baru satu bulan saja kamu sudah haus darah?! Biasa kamu kan minum dalam beberapa tahun sekali!" Seru Rion terkejut.
Dannis mengangkat kedua bahunya. "Tidak tahu, mungkin karena darahnya yang sangat manis."
Dannis tersenyum membayangkan wajah Katie.
✪ ✪ ✪
"Katie," panggil Dannis setelah sampai di rumahnya. Dia merasa sangat rindu dengan wajahnya itu.
"Tuan Dannis?" Suara pembantu itu membuat Dannis menoleh. "Nona Katie keluar tadi siang, Nona belum pulang sampai sekarang."
Dannis memberengut. "Ke mana?"
"Saya tidak tahu, Tuan."
Ia segera mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi nomor Katie. Nada dering tersambung, tapi tidak di angkat oleh Katie.
Dannis segera berlari keluar dan masuk ke dalam mobil untuk mencari Katie. Segala macam pikiran berkecamuk di dalamnya.
"Apakah Katie akan pergi dariku?" tanya Dannis kepada diri sendiri.
Dannis khawatir jika itu benar terjadi. "Tidak! Itu tidak boleh terjadi! Bagaimana pun, aku tidak akan membiarkan Katie meninggalkanku!"
Dannis celingak-celinguk di jalanan yang masih ramai itu mengingat jam baru menunjukkan pukul delapan malam.
Seorang wanita dengan pakaian kaos hitam dengan celana jeans itu menarik perhatian Dannis, karena hampir mirip dengan Katie. Segera Dannis menepikan mobilnya lalu berlari mendekati wanita itu.
"Katie!" Dannis menepuk pundak wanita itu.
Dannis merasa malu saat salah mengenali orang.
"Aku Lery! Bukan Katie!" serunya marah.
Dannis mengangukkan kepalanya meminta maaf kepada wanita itu. Ia akhirnya memutuskan kembali lagi ke rumahnya.
✪ ✪ ✪
"Kamu baru pulang?" tanya seorang yang membuat Dannis menuju ke ruang tamu saat baru pulang.
Dannis mengerutkan keningnya kesal saat melihat Katie nonton TV sedangkan dirinya tadi mencari Katie di luar sana.
"Kamu dari mana saja?!" tanya Dannis dingin nan datar yang membuat Katie tertegun.
"Kamu kenapa sih?!"
Dannis menghampiri Katie.
"Kenapa kamu keluar tidak memberiku tahu?! Kamu ke mana saja? Kenapa tidak mengangkat telponku?!" Katie meringis saat mendengar Dannis yang meninggikan nada bicaranya.
"Aduh! Tanya satu-satu bisa enggak sih?! Pusing aku jadinya mau jawab yang mana duluan!" gerutu Katie yang membuat Dannis memandangnya dengan tajam.
Tapi dengan cepat-cepat Katie membalas pertanyaan Dannis saat melihat rahang Dannis yang mengeras dan juga suara gemertak giginya serta mata merah Dannis.
"Aku tadi ke apartemenku ambil barang keperluanku, lalu aku sekaligus urus kontrakan itu," sahut Katie dengan menundukan kepalanya.
Hening, Dannis menatap Katie dengan tajam sedangkan Katie masih belum berani mengangkat wajahnya menatap Dannis.
"Apa kamu marah?" tanya Katie.
"Tentu saja! Kamu tahu aku sangat khawatir denganmu! Kupikir... kupikir kamu mau meninggalkanku," ujar Dannis dengan lirih. "Setidaknya kamu mengangkat panggilanku, itu akan membuatku lebih tenang. Atau kamu bisa mengajakku pergi bersama."
Hati Dannis seperti beban berkilo-kilo yang telah di angkat. Lega sekali rasanya. Sangat lega.
Dannis membuang napas keluar sambil menarik Katie ke dalam pelukannya dengan erat. Seakan-akan Katie akan hilang begitu ia lepas.
"Jangan ulangi lagi ya?"
Katie mengangguk kepalanya dan tersenyum melihat Dannis yang begitu khawatir dengannya. Tanpa bisa Katie pungkiri kalau ia suka sekali dengan perasaan nyaman dan sayang yang di berikan oleh Dannis.
Mungkinkah, ini saatnya aku membuka hatiku untuknya? Batin Katie.