Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. Dan Dannis masih ada di kantornya. Perutnya terus saja berkicau karena belum makan malam. Bahkan jam makan siang dia hanya makan sedikit saja karena pekerjaan yang tidak bisa di tinggalkan lama.
Sebenarnya Dannis bisa saja makan malam duluan sebelum pulang. Tapi ia ingin sekali makan malam bersama dengan Katie mengingat dirinya tidak pernah dinner bersama Katie sebelumnya. Itu pun kalau Katie belum makan malam.
Dannis menghela napas gusar bersamaan dengan ketukan pintu di ruangannya.
"Dan, kamu belum pulang?" tanya Rion.
"Masih pakai tanya lagi, jadi yang lagi duduk di sini itu siapa?" ucap Dannis dengan malas.
Rion ketawa mendengar ucapan Dannis. "Mana tahu kembaranmu."
"Aku tidak ada mood bercanda, Rion."
Rion jelas tahu dari nada bicaranya. "Kamu kenapa lagi? Ini ada hubungannya dengan wanita kamu itu?"
Dannis mengelengkan kepalanya. "Bukan. Aku hanya merasa pusing."
"Apa kamu sakit?" tanya Rion khawatir.
"Mungkin aku hanya kurang asupan. Aku pulang saja, kamu urusi barang-barangku nanti." Rion mengangguk.
"Perlu kuantar?" Dannis menyahut pertanyaan Rion dengan gelengan di kepala.
✪ ✪ ✪
"Kamu tidak apa-apa? Kamu kelihatan pucat." Samar-samar Dannis mendengar suara yang sudah hafal di luar kepalanya saat baru menginjak kakinya di rumahnya.
Dannis pun berjalan menuju asal suara itu sampai di ruang makan. Di sana ada Cory dan Katie yang sedang makan sendirian.
"Kamu kenapa?" tanya suara bariton milik Dannis mengejutkan kedua wanita itu.
Katie menoleh. "A-aku tidak apa-apa." Ia pun kembali makan.
Dannis duduk di samping Katie dan memalingkan wajahnya ke Cory. "Tolong ambil satu porsi lagi."
Cory mencibir. "Memangnya aku pembantu kamu?"
Dannis hanya tersenyum. Kemudian fokus lagi ke Katie. Entah kenapa Dannis suka sekali melihat wajah Katie.
"Kenapa baru makan malam?" tanya Dannis karena Katie terus saja diam.
Meskipun Dannis bertanya seperti itu, tapi dia tidak bisa menghilangkan rasa senangnya karena dapat makan malam bersama Katie.
Katie tidak menyahut. Malah terus saja menyuap makanan ke dalam mulutnya.
Jangan terlalu dekat dengan mereka. Jika tidak, identitasmu akan di ketahui, rapal Katie dalam hati berulang kali bagaikan sebuah mantra.
"Ini, Kak." Cory membuka suara menginterupsi mereka.
"Kamu tidak pulang?" tanya Dannis saat melihat Cory masih duduk di kursi makan.
"Oh ya, aku masih ada urusan yang mau di urus." Cory mengerti maksud dari pertanyaan Dannis.
"Kamu tinggal di rumahku saja," ucap Dannis membuka suara merasa hening yang cukup lama setelah kepulangan Cory.
"Aku tidak mau," sahut Katie singkat.
Kening Dannis berkerut. "Kenapa?"
"Tidak ada alasan," Lagi-lagi Katie menjawab dengan singkat.
"Jangan lupa kalau kamu itu milikku, Katie!" geram Dannis.
"Aku tidak mau tinggal bersamamu!" seru Katie.
Mata Dannis berkilat merah. "You're only mine, Katie. Jangan harap bahwa aku akan melepaskanmu begitu saja."
"Kamu tidak hak! Kamu bukan siapa-siapaku!"
"Tentu saja aku ada hak! Karena kamu sekarang sudah menjadi milikku seutuhnya!" teriak Dannis. "Kamu mesti tinggal di sini bagaimana pun!"
✪ ✪ ✪
Katie terbangun saat silaunya matahari menusuk ke matanya. Dengan enggan Katie membuka matanya.
"Hm...," gumam Katie sembari menggeliatkan badannya. Tapi ternyata ada sebuah lengan kokoh yang melingkari perutnya dengan erat.
"Ck! Betah banget meluk perutku," gerutu Katie dengan pelan. "Memangnya aku bantal guling apa."
Dengan pelan Katie melepaskan pelukan Dannis di perutnya.
"Jangan goyang, baby. Aku masih ngantuk nih."
Katie mencibir. "Aku mau mandi. Kamu beli bantal guling saja kenapa sih?!"
"Nggak mau, nggak empuk-empuk kayak perutmu." Jawaban itu sukses membuat kedua mata Katie terbelalak.
"Ih, enak saja! Aku nggak gemuk. Dari mana empuknya?!"
Dannis tidak lagi menyahut perkataan Katie. Malahan terdengar suara dengkuran halus di sebelahnya.
"Ck! Memang kebo banget!"
Dengan pelan Katie memindahkan tangan Dannis ke arah lain. Katie pun turun dari ranjang sehabis memindahnya.
Katie menggeleng-gelengkan kepalanya saat melihat Dannis tidur seperti anak bayi. Meskipun begitu, tak di pungkiri jika kedua sudut bibirnya terangkat ke atas.
Beberapa saat kemudian, Katie menggeleng kepalanya saat dia menyadarinya.
Jangan terlalu dekat dengan mereka. Katie mengingatkan kepada dirinya.
Katie berjalan memasuki ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setengah jam kemudian, Katie keluar dari kamar mandi dan mendapati ranjang itu sudah kosong. Loh, ke mana Dannis pergi?
Kemudian menuruni tangga menuju lantai dasar untuk sarapan. Di ruang makan, sudah terlihat Dannis yang sudah rapi dengan setelan baju kerjanya.
"Cepat banget mandinya, tadinya masih tidur," ledek Katie.
Dannis berdeham sebelum membuka suaranya. "Nanti malam akan ada acara. Aku ingin membawamu pergi, persiapakan dirimu."
✪ ✪ ✪
"Ganti," perintah Dannis tanpa memedulikan wajah Katie yang sudah bete.
"Ck! Ini sudah yang ke sepuluh! Apa yang kamu tidak suka lagi?!" kesal Katie.
"Roknya terlalu pendek," sahut Dannis seraya melambaikan tangannya.
"Ya ampun! Tadi di bilang belakang terlalu turun, lagi-lagi di bilang bagian V-nya terlalu turun. Lalu di bilang terlalu ketat. Ini di bilang rok terlalu pendek. Mau kamu apa sih?! Masa aku pakai dress panjang sampai kepala kaki?!" gerutu Katie yang sudah kesal setengah mati.
"Inginnya cari yang seperti itu. Ada enggak?" tanya Dannis kepada pelayannya.
Katie ingin sekali mengambil sepatu heels di pukul ke kepala Dannis. Ia benar-benar tidak bisa mengerti dengan jalan pemikiran Dannis.
"Kuno banget kamu ini! Sekarang kan ini lagi trend," keluh Katie.
Dannis berdecak. "Kau tahu aku paling tidak suka pakaian yang mengeksposkan badanmu. Ayo, cepat ganti."
Dengan menghentakkan kakinya, Katie pun menuruti perkataan Dannis.
Katie mengumpat dalam hati sambil mengganti bajunya lagi. Matanya pun tersita dengan dress panjang tanpa lengan berwarna tosca. Katie mengambil dress itu dan memakainya.
"Kulihat kali ini kamu akan mengeluh apa lagi."
Katie menyibakkan tirainya dan berjalan keluar dari fitting room.
"Gimana? Ini sudah panjang kan?" tanya Katie dengan memutar bola mata malas.
Kening Dannis berkerut. "Kenapa kamu semua milih bajunya yang tidak jauh-jauh dari terbuka?"
Kali ini ganti Katie yang mengernyit. "Apanya yang terbuka lagi?!"
"Lenganmu terekspos, aku tidak suka."
Katie benar-benar ingin sekali membedah kepala Dannis untuk melihat isinya.
"Kamu ini mau aku pakai baju seperti apa sih?! Pendek salah! Panjang pun salah! Tanggung saja satu badanku dibungkus hanya menyisahkan wajahku!"
"Lebih baik seperti itu daripada tubuhmu di lihat orang lain. Pokoknya semua inchi dari tubuhmu itu milikku! Titik!" ucap Dannis dengan nada posesifnya.
"Ah, enggak tahu lagi! Aku pulang saja daripada ikut pesta sialan itu!" geram Katie sambil masuk kembali ke dalam fitting room.
Katie kesal setengah mati dengan Dannis. "Entah ada apa yang di otaknya itu! Dasar gila!"
"Nona, sepertinya ini akan sangat cocok dengan Anda." Seorang pelayan menawarkan dress yang menurutnya lumayan bagus.
Akhirnya Katie gatal untuk mencobanya. Setelah selesai memakai, Katie berjalan keluar dari fitting room untuk memperlihatkan ke Dannis.
"Puas dengan dress ini?" ketus Katie.
Katie benar-benar tidak akan ikut pesta sialan itu lagi kalau Dannis masih mengeluh dengan dress-nya.
Kening Dannis mengerut. Membuat Katie membuka suaranya. "Kalau tidak puas lagi, mending aku tidak usah ikut saja."
Akhirnya kedua sudut bibir Dannis terangkat. Merasa cukup puas dengan dress kali ini daripada sebelumnya yang lebih terbuka. Meskipun masih tidak rela kaki jenjangnya terkespos.
"Ayo jalan," ujar Dannis sambil bangkit dari dudukannya di sofa.
Setelah sampai di Hotel Michelangelo yang pestanya akan di adakan. Katie pun turun dari mobil Dannis dan langsung mendapat kalungan tangan Dannis di pinggangnya.
Katie merasa sedikit risih karena merasa geli. "Bisa tidak jangan di pinggangku? Geli tahu!"
Dannis ketawa menanggapi perkataan Katie, tapi tangannya berpindah ke pundak Katie. "Ternyata kamu takut geli."
Katie cemberut. "Iya, ejek saja."
Dengan gemas, Dannis mencubit kedua pipi Katie. "Kenapa kamu gemas sekali?"
Tak di ketahui Dannis dan Katie jika kelakukan Dannis itu di tatap sepasang mata dengan tatapan benci.
✪ ✪ ✪