Dannis berkali-kali menekan bel pintu apartemennya Katie. Emosinya masih meluap di dalamnya.
Di sisi lain, Katie mengeluh karena belnya terus saja berbunyi. Padahal ia lelah sekali hari ini. Baru saja pulang satu, ini siapa lagi?
Di buka pintunya menampilkan sosok pria yang sedang menatap Katie dengan marah. Katie ketakutan melihat mata Dannis yang berwarna merah darah.
"Ke-kenapa kamu?" tanya Katie dengan bata.
Dannis menyipitkan matanya menatap Katie seperti ingin menelanjanginya secara hidup-hidup. Katie merasa risih di tatap seperti itu. Lalu Dannis berjalan mendekati Katie, tentu saja Katie memundurkan langkahnya.
"Kamu kenapa sih?!" seru Katie.
"Dia siapa?" tanya Dannis dengan dingin dan intimidasi.
Kening Katie mengerut. "Apanya yang siapa?"
"Pria yang menemuimu tadi! Kurasa kamu tidak mungkin tidak mengenalnya!"
Katie memutar tubuhnya, sama sekali tidak ada niat menjawab pertanyaan Dannis.
Dannis mengeraskan rahangnya. "Kutanya sekali lagi, dia siapa?!"
Katie terlonjat kaget dengan teriakan dadakan dari Dannis.
"Ck! Kamu kenapa sih?! Dia bukan siapa-siapa, kenapa kamu semarah itu?!" sahut Katie sambil membalikkan tubuhnya menatap Dannis.
Dannis makin marah mendengar jawaban Katie. Di pegang dagunya dengan kasar. Katie meringis kesakitan.
"Kamu tahu kamu itu hanya milikku! Dan kamu tidak bisa membohongiku!" desis Dannis.
Air mata Katie hampir saja menurun di pelupuknya karena sakit di dagunya akibat tusukan jari Dannis ke dagunya.
"Kamu... kamu menyakitiku," lirih Katie dengan air mata yang mengalir.
✪ ✪ ✪
Dannis mengobati luka di dagu Katie yang di buatnya. "Maafkan aku."
Katie merasa marah dan kesal. Dannis selalu saja meminta maaf tapi ujung-ujungnya di ulangi lagi. Dia sudah lelah seperti ini.
"Dannis," panggil Katie dengan lirih.
"Kenapa? Mana yang sakit lagi?" tanya Dannis dengan panik.
"Kurasa... kita tidak usah bertemu lagi," desis Katie.
Dannis membulatkan matanya tak percaya dengan ucapan Katie. Dannis tidak terima dengan ucapan Katie. Ia tak bisa tanpa Katie. Tidak bisa!
"Tidak mau," sahut Dannis dingin.
Katie sudah tahu pasti jawaban Dannis akan seperti ini.
"Apa kamu mencintaiku?" tanya Katie.
"Tentu saja!"
"Tapi aku tidak bisa membalas cintamu, Dannis."
"Aku akan membuatmu jatuh cinta kepadaku. Maka itu, aku mau kamu selalu di sisiku," ucap Dannis. "Aku ingin menjagamu selamanya dengan sepenuh jiwaku."
Hati Katie menghangat mendengar perkataan Dannis. Sebuah senyuman tercetak di bibir Katie tanpa Dannis ketahui.
Aku tidak pantas kamu perjuangkan Dannis. Di luar sana masih ada wanita yang lebih baik dan cantik yang lebih cocok untukmu, batin Katie.
✪ ✪ ✪
Dannis mengelus wajah Katie yang masih terlelap di lengannya. Bibirnya tidak bisa berhenti tersenyum.
My beauty Angel, kenapa kamu bisa di ciptakan seindah ini? Bolehkah aku menyimpanmu di rumahku biar aku saja yang dapat melihatmu?
Dannis ketawa membayangkan jika ia benar-benar mengunci Katie di rumahnya. Dannis tahu Katie akan mengamuk, mungkin bisa saja membencinya.
"Aku tak bisa kehilanganmu, Katie. Aku terlalu mencintaimu, bahkan aku takut setiap saat jika kamu akan menghilang di hadapanku."
Dannis menghela napas gusar. Lalu di kecup kening Katie dengan lembut. Kemudian turun mengecup di kedua mata Katie. Selanjutnya ia mencium di hidung mungilnya, dan terkahir berhenti di bibir Katie dengan lembut dan hati-hati agar Katie tidak terbangun. Berlanjut lagi ke leher jenjangnya, Dannis membuat tanda kepemilikan lagi di sana.
Jadilah milikku selamanya, Katie. Aku membutuhkanmu, aku tidak bisa tanpamu. Aku bisa gila, Katie.
Satu tetes air mata menitik di pipi Katie membuat Katie membuka kelopak matanya. Dannis pun menancapkan gigi taringnya untuk menghisap darah Katie.
Katie terkejut dengan apa yang di lakukan Dannis. Ia ingin protes tapi dia merasa lemas dan penglihatannya mulai buram. Hingga akhirnya alam gelap yang menjemputnya.
✪ ✪ ✪
Katie terbangun saat pendengarannya menangkap suara riuh di sekitarnya. Ia pun bangun dari tidurannya.
"Ini di mana?" tanya Katie dengan alis yang bertautan satu sama lainnya.
Seorang wanita dengan baju maid menyahut pertanyaan Katie. "Ini rumah Tuan Dannis, Nona."
"Rumah Dannis?! Di mana orangnya?! Kenapa sesuka hati membawaku ke rumahnya?!" seru Katie.
Pembantu itu gelagapan. "Itu... Nona... Tuan Dannis lagi di kantor."
Katie menghembuskan napas kasar. "Jangan menyusun barangku lagi! Aku tidak akan tinggal di sini."
"Tapi ini perintah Tuan Dannis, Nona."
Katie memijit pelipisnya hingga terdengar suara seorang wanita.
"Kak Katie." Katie menoleh ke sumber suara. Mata katie terbelalak kaget melihat siapa yang berdiri di depannya.
"Kamu... kamu bukan Nona Cory yang waktu itu?" tanya Katie tidak percaya. "Bagaimana kamu bisa di sini?"
Cory ketawa. "Tentu saja aku bisa, Kak Katie. Aku kan adiknya Kak Dannis."
Adiknya Kak Dannis? Adiknya? Hah?! Dia itu adiknya?! batin Katie.
"Kak Dannis menyuruhku untuk menjagamu, dia takut kamu kesepian di rumah."
"Aku mau pulang," ucap Katie.
Cory tidak menyetujui perkataan Katie. "Jika Kak Katie mau pulang, jangan salahkan aku menyerangmu sekarang juga."
Katie tahu bahwa Cory itu termasuk seorang vampir juga. Jika mau di bilang, seorang Katie sama sekali bukan lawan makhluk-makhluk yang lebih berkelas alias lebih kuat.
"Ba-baiklah." Akhirnya Katie pun kalah karena takut jika Cory benar-benar akan menyerangnya.
Cory pun tersenyum. "Aku penasaran sekali denganmu, Kak Katie."
Katie memberengut. "Penasaran? Penasaran apa?"
"Kamu itu... bukan manusia kan?" tanya Cory yang membuat tubuh Katie membeku.
"Iya kan?" lanjut Cory.
Katie senyum tipis. "Aku... aku tidak mengerti dengan apa yang kamu ucapkan."
"Tapi aku tidak tahu kamu itu makhluk apa. Yang kupasti saja kamu bukan manusia. Dari bau darahmu yang berbeda dengan manusia biasa," jelas Cory.
Bagaimana ini? Sepertinya identitasku akan segera terungkap. Pikir Katie dalam hati.