"Katie." Panggilan itu seketika membuat Katie tersentak dari kegiatannya.
"Astaga! Aku merindukanmu! Dari mana saja kamu ini?" Katie mengerucutkan bibirnya menadakan tidak senang.
Orang yang di tanya itu malah ketawa sambil mencubit hidung mungil Katie.
"Ih! Kok ketawa? Senang ya lihat aku derita karena merindukanmu?"
"Katieku sayang. Aku juga merindukanmu. Cumanya waktu itu aku ada urusan, terpaksa hari ini baru bisa menenuimu."
Katie memutar bola mata jengah. "Setidaknya beri kabar dong."
Orang itu lalu menarik pergelangan Katie dan mendekap ke dalam pelukannya.
"Maaf ya," ucapnya sambil mengelus rambut Katie.
"Xafier, jangan ulangin itu lagi. Aku takut kehilanganmu."
Pria yang dipanggil Xafier itu mengangguk kepalanya. Tanpa sepengetahuan wanita itu, ia tersenyum miring dalam diam.
Katie terbangun dengan keringat berderai di keningnya.
Kenapa mimpi ini lagi? batin Katie.
Katie memejamkan matanya sejenak untuk menenangkan emosinya. Lalu membuang napas kasarnya.
"Aku harus melupakannya," gumam Katie kepada dirinya sendiri.
Katie membaringkan badannya lagi ke ranjang. Ingatan-ingatan kejadian dua tahun lalu kembali masuk ke dalam pikirannya.
Jika saja dia tidak melakukan hal itu. Maka aku tidak akan semenderita ini.
Air mata telah mengalir di sudut matanya. Memejamkan mata untuk berusaha tidur agar melupakan kejadian itu.
Xafier, andai saja kamu benar-benar mencintaiku. Mungkin kita sudah berkahir dengan bahagia sekarang. Batin Katie.
Ting Tong!
Bel pintu apartemen Katie berbunyi. Dengan sigap Katie menghapus air matanya dan turun dari ranjang menghampiri pintu apartemen.
"Hai, Katie. Lama tak kita berjumpa " ucap orang itu yang membuat Katie menggertakan giginya.
"Ngapain kau ke sini?!" seru Katie tidak senang.
"Aku merindukanmu, Kat."
Katie menajamkan matanya sejenak dan mengembuskan napas gusar. "Dari mana kau tahu apartemenku?!"
Lelaki itu tersenyum menyeringai. "Baumu sangat menyengat, Kat."
"Jangan memanggilku dengan nama itu, Xafier! Aku tidak sudi di panggil dari mulut kotormu!"
Katie bersedia menutup pintunya tapi buru-buru ditahan oleh Xafier. Katie berusaha menutupnya, tapi kekuatan Xafier tak bisa di ragukan mengingat dia seorang alpha. Akhirnya Xafier berhasil masuk ke apartemen Katie.
✪ ✪ ✪
"Baiklah. Rapat sampai di sini dulu," ucap Dannis dengan menutup rapatnya.
Semua investator itu menghirup udaranya dengan lega karena suasana sempat tegang tadi.
Dannis lalu kembali ke ruangannya dan menelpon Katie.
Nada dering tersambung tapi tidak di angkat oleh Katie.
Dannis mengerutkan keningnya. Lalu kembali menghubungi Katie. Lagi-lagi telpon tidak ada sambutan dari seberang.
Sesibuk apa, sampai tidak bisa mengangkat telponku?
Dannis membaringkan tubuhnya ke sandaran kursi. Berniat untuk mengistirahatkan matanya yang lelah.
Tak lama kemudian, ia lalu bangkit dari sandarannya untuk memanggil Rion dari teleponnya.
"Rion, datang sekarang juga."
Beberapa saat kemudian, Rion mengetuk pintu ruang Dannis yang di setujui masuk oleh Dannis.
"Sir, anda memanggil saya?" tanya Rion.
"Aku mau butuh bantuanmu untuk menyelidiki Katie. Semua yang ada berhubungan dengannya."
Rion mengangguk patuh. "Baik, Sir."
"Aku mau keluar sebentar. Urusin masalahku yang belum siap," ucap Dannis.
"Mau ke tempat wanitamu lagi?" tanya Rion dengan wajah menggoda.
Dannis hanya ketawa atas pertanyaan Rion. Sahabatnya satu ini selalu tahu pemikiran Dannis.
✪ ✪ ✪
Xafier menahan tangan Katie yang akan menamparnya. "Kamu tahu kalau itu tidak akan sakit, Kat."
Katie dengan satu hentakan melepaskan pegangan Xafier. "Jangan berani kau menyentuhku!"
Xafier tersenyum evil dan matanya merubah menjadi kuning sekarang.
"Kamu sangat lucu, Kat. Jika aku memang mau menyentuhmu?"
Katie menggertakan giginya marah. "Aku tahu apa yang kau mau!"
Xafier ketawa terbahak-bahak mendengar ucapan Katie. Di dekatnya ke arah Katie.
"Kamu makin cantik jika sudah marah seperti ini," ucap Xafier dengan mengendus aroma Katie.
Katie spontan menampar wajah Xafier. "Kau tahu kau itu sangat menjijikkan!"
Xafier baru saja akan membuka suaranya itu, di halang oleh ponselnya yang berdering. Lalu di keluarkan ponselnya dari saku celananya dan tertera nama seseorang di layar sana.
"Ck, sayangnya aku ada sedikit masalah. Baiklah, lain kali... aku tidak akan sebaik ini lagi, Katie."
Katie menatap Xafier dengan tajam yang di balas Xafier dengan senyum remeh di wajahnya.
✪ ✪ ✪
Dannis memasuki lift untuk menuju ke lantai dua belas di mana tempat Katie tinggal.
Di keluarkan ponselnya dan menghubungi Katie lagi.
Ting!
Dannis kembali mengeluh sambil keluar dari liftnya.
Ck! Kok tidak di angkat sih?! batin Dannis seraya meyimpan ponselnya ke dalam saku celananya.
Gubrak!
"Ck!" decak Xafier.
Dannis mengangkat wajahnya dan menyipitkan matanya.
Aroma werewolf?! pikir Dannis.
Dia vampir huh? batin Xafier.
Setelah rasa saling tatap menatap dalam waktu yang cukup lama. Dannis menggertakan giginya karena terdapat aroma manis dari tubuh Xafier. Aroma manis yang sangat Dannis ketahui.
Xafier hanya menampilkan senyum licik di wajahnya. "Maaf telah menabrakmu."
Lalu Xafier berjalan dan berhenti di sebelah Dannis. "Tapi masalah kita akan berlanjut lagi. Sampai jumpa lagi, Mr. Vampire."
Xafier melenggang pergi dan masuk ke dalam lift dengan ketawa terbahak-bahak membuat Dannis menggeram marah.
Heh? Inikah aroma lain dari Katie? Ternyata vampir ini bergerak dengan cepat, batin Xafier dengan senyum mengejek.
Mata Dannis telah berubah warna menjadi merah darah. Kemudian dengan berjalan cepat dia sampai di depan pintu Katie.
"Tidak ada yang boleh mendekati atau meyentuhnya. Tidak ada!" desis Dannis dengan nada amarah di dalamnya.
✪ ✪ ✪