Katie terbangun dan menyadari dirinya tanpa sehelai benang sekali pun. Kemudian menoleh ke arah sebelah di mana Dannis sedang terbaring.
Ingatannya kembali ke kejadian semalam di mana ia kehilangan kesuciannya.
Air matanya pun membuncah dari pelupuknya.
Kenapa dia tega melakukan itu kepadaku? pikir Katie dalam hati.
"Apanya yang mencintaiku? Dasar pembohong!" gumam Katie dengan pelan.
Katie kemudian turun dari ranjangnya. Goyangan di ranjang itu membuat Dannis spontan terbangun.
"Ugh... Katie? Kamu sudah bangun?" tanya Dannis dengan serak khas baru bangun tidur.
Katie yang memungggungi Dannis itu tak menjawab ucapan Dannis.
"Apa kamu baik-baik saja? Maafkan aku yang merobek bajumu itu. Dan juga... maafkan aku yang sudah terlalu kasar denganmu."
Katie lalu membalikkan tubuhnya menghadap ke Dannis.
"Kenapa lo tega melakukan ini, hah?!" teriak Katie sambil memukul d**a bidang Dannis.
"Kau bukan mencintaiku! Tapi kau hanya ingin memainkanku kan?! Lalu kau akan membunuhku, ya kan?!" teriak Katie lagi. Tangannya masih belum berhenti memukul d**a bidang Dannis.
Dannis memegang tangan Katie dan menariknya ke dalam pelukannya. "Tenangkan dirimu, Katie."
Di eluskan rambut Katie untuk menenangkannya. "Aku meminta maaf atas perlakukanku semalam. Tapi aku tidak pernah menyesal melakukannya."
Air mata Katie terjun makin kencang. "Kenapa... Kenapa kau tega... Melakukannya."
"Karena... Aku mencintaimu, Katie."
✪ ✪ ✪
Seharian ini Katie tidak ada niat melalukan apa pun. Dannis menatap Katie dengan tatapan bersalahnya.
"Katie, maafkan aku ya?" pinta Dannis dengan setengah jongkok di hadapan Katie yang sedang duduk di ranjang hotel.
Katie tertawa pilu. "Dannis, kau selalu melakukan kesalahan dan ujung-ujungnya kau menyuruhku untuk memaafkanmu. Tapi apa benar kau menyadari salahmu?"
Dannis menatap yakin ke dalam manik mata Katie. "Aku membuat kesalahan karena aku mencintaimu, Katie."
"Tapi kau itu sudah keterlaluan, Dannis! Kali ini, aku tidak akan memaafkanmu! Jangan muncul di hadapanku lagi!"
Dannis merasa hatinya di tusuk belati. Oh, bukan. Lebih baik dirinya mati di tusuk belati daripada tidak dapat berdekatan dengan wanitanya.
Dannis yang selalu dapat memikat wanita mana pun. Dan vampir yang terkuat. Sekarang menjadi lemah hanya seorang wanita. Wanita yang sangat di cintainya.
✪ ✪ ✪
Dannis berdiri di depan pintu apartemen Katie. Dia ragu untuk menemui Katie. Sejak kejadian terkahir di mana Katie bilang dia tidak ingin Dannis muncul di depannya lagi. Ini pertama kali lagi Dannis muncul batang hidungnya.
Selama seminggu lebih.
Dannis merasa tersiksa karena tidak dapat bertemu dengan Katie selama ini. Dia tidak yakin dirinya bisa di maafkan.
Ting Tong!
Dannis akhirnya memutuskan untuk menekan bel pintu apartemen Katie setelah mondar-mandir di depan apartemen wanita itu.
Tak lama kemudian, Katie membuka pintunya. Katie terkejut dengan sosok di hadapannya.
"My baby," ucap Dannis dengan senyum lebar.
Katie bersedia menutup pintunya. Tapi refleks di tahan Dannis.
"Katie, jangan terus mengusirku," ucap Dannis. "Aku benar-benar tidak bisa tanpamu."
"Pergi! Pergi dari hidup ku!" teriak Katie tak sadar.
Hati Dannis mencelos mendengar ucapan Katie.
"Tidak... Aku tidak bisa!"
Air mata Katie kembali pecah. Kakinya lemas membuatnya hampir terjatuh jika saja Dannis tidak memeluk pinggang Katie.
Katie memukul punggung Dannis.
"Kenapa kau muncul lagi?! Kenapa tidak bisa membiarkan hidupku kembali tenang?! Apa maumu sih?!"
Dannis makin mengeratkan pelukannya. "Aku ingin bersamamu. Aku ingin hidup bersamamu."
✪ ✪ ✪
Katie duduk terdiam di kursi ruang tamu saat melihat Dannis sepertinya berusaha menaklukan hati Katie. Ia tersenyum melihat Dannis yang kacau balau itu dengan rambut acak-acakan, baju juga kusut. Bahkan Dannis tidak begitu peduli dengan dagunya yang sudah di tumbuhi rambut-rambut halus.
"Makan dulu, kamu tampak lebih kurus dari terakhir yang kulihat." Suara Dannis membuat Katie tersentak.
Dannis menyodorkan bubur yang di masak sendirinya. Katie menerima bubur yang di berikan Dannis.
"Thanks," ucap Katie lesu lalu memakan buburnya.
Dannis senyum melihat wanitanya telah tidak berusaha menyingkirnya lagi.
"Kenapa kau senyum?" tanya Katie saat menyadari Dannis terus saja menyunggingkan seulas senyum.
"Tidak kenapa-kenapa, hanya senang melihatmu."
Jawaban sederhana yang dilontarkan dari Dannis membuat kedua pipi Katie merasa hangat.
Dannis kembali senyum. "Aku sangat mencintaimu."
Katie tak menyahut pernyataan Dannis. Ia tak tahu mau menjawab apa. Dia belum merasakan ada perasaan cinta kepada Dannis. Hanya nyaman. Ya, nyaman saja saat bersama Dannis.
Setelah Katie makan sendok terkahir. Dannis bangkit dari duduknya dan menghampiri Katie dengan setengah jongkok di hadapannya.
"Katie, aku belum menjelaskan hal yang sebenarnya," ucap Dannis.
Katie menatap Dannis dengan bingung. "Apa maksudmu?"
Dannis menghela napasnya. "Kamu masih utuh, Katie."
Kening Katie berkerut. "Utuh?"
Dannis mengangguk. "Maksudku... Waktu itu setelah aku merobek bajumu. Dan saat aku menghisap darahmu itu, kamu jatuh pingsan."
Katie menganga. "Maksudmu sebenarnya kita tidak ...."
Dannis mengangguk. "Maafkan aku, Katie."
Air mata Katie menyerang di pelupuk matanya. Katie merasa tenang sekarang. Hatinya benar-benar serasa ringan.
Tanpa Katie sadari, ia memeluk Dannis. Awalnya Dannis terkejut. Tapi akhirnya tersenyum sambil membalas pelukan Katie.
"Terima kasih," lirih Katie.
✪ ✪ ✪