Katie mengeluh tak senang di sebelah Dannis.
"Dannis, coba kau lihat deh. Mana ada orang datang ke pantai menggunakan kaos dan celana panjang seperti ini?" keluh Katie geram.
"Kamu itu wanitaku. Tak mungkin aku membiarkan orang lain melihat tubuh mulusmu itu. Hanya aku yang boleh melihatnya."
Perkataan itu kembali membuat Katie menggerutu sebal. "Tapi ya tidak begini juga! Kau tahu ini sangat panas?! Masa kau sendiri boleh buka setengah! Ini sungguh tidak adil!"
Katie bersedia pergi dari dudukkan di kursi santai. Tapi tangannya di tarik Dannis.
"Apa itu salah satu kecemburuanmu?"
Katie mengentakkan tangannya. "Ya! Aku merasa tidak adil! Seementara kau sendiri? Bisa seenak-enaknya membuka setengah, kenapa aku tidak boleh memakai bikini!"
Tatapan wajah Dannis menjadi kecewa. "Tidak tetap tidak!"
Katie mengumpat Dannis dalam hati. Lalu melenggang pergi ke bibir pantai menikmati sepoian angin.
"Dannis sialan!" keluh Katie.
"Hi, pretty. Kamu tampak sedang marah?" tanya seorang pria mendekati Katie.
Katie menoleh ke sumber suara. "Aku merasa tidak adil!"
"Kenapa?"
"Masa aku di suruh memakai baju ini di pantai! Ini sangat tidak lucu!"
Pria itu ketawa lalu mengulurkan tangannya. "Kamu lucu. Namaku Farrel, siapa namamu kalau boleh tahu?"
Katie membalas uluran tangannya Farrel itu. "Katie."
Dari kejauhan, Dannis menggertakkan giginya marah. Melihat wanitanya dengan seorang pria apalagi pria itu adalah seorang elf.
Dannis menghampiri Katie dan pria bernama Farrel. Dannis masih sempat mendengar ucapan mereka.
"Katie, jika kamu menjadi milikku. Aku tidak akan mengekangmu seperti itu," ucap Farrel dengan senyum seringaian.
"Maaf saja! Dia itu pacarku," tutur Dannis sambil memeluk pinggang Katie dengan posesif.
Katie berusaha melepaskan diri dari Dannis. Dan Farrel menatap Dannis dengan pandangan tak suka.
"Kamu sepertinya tidak melihat jika Katie tidak ingin di pelukmu."
Dannis tersenyum miring. "Dia hannya malu-malu saja, ya kan Katie?
Katie yang mendengar nada penekanan di perkataan Dannis hanya bisa mengangguk pasrah.
Farrel menatap Dannis dengan tajam. Lalu menoleh ke arah Katie dengan senyum khasnya.
"Aku pergi dulu, Katie. Sampai jumpa lagi." pamit Farrel.
✪ ✪ ✪
"Apanya yang sampai jumpa lagi?! Dia pikir aku akan membiarkanmu menemuinya lagi?!" seru Dannis dengan marah.
Katie yang mendengar itu hanya mengangkat kedua bahunya.
"Aku rasa aku memiliki hak untuk berteman."
"Tidak! Tidak boleh! Kamu hannya boleh bergantung kepadaku! Tidak siapa pun!"
"Dannis! Kenapa lo sangat pemaksa sih?! Memangnya aku ini bonekamu?" teriak Katie tidak terima jika hidupnya harus di atur mati-matian oleh Dannis.
Dannis mendekat ke Katie dengan teleportasi. "Kamu milikku. Kehidupanmu sudah takdir di tanganku."
Nada tak terbantahkan Dannis membuat Katie ingin menumpahkan air matanya.
"Kau jahat! Ini tidak adil! Aku tidak mau bersamamu!" teriak Katie kesal lalu pergi keluar dari kamar hotel mereka.
Dannis merutuki kebodohannya yang terlalu mengekang Katie. Tapi ia tak bisa melihat wanitanya berdekatan dengan pria lain. Dia tak suka itu.
✪ ✪ ✪
Katie menagis di bibir pantai. Langit telah malam, dan angin berhembus makin kencang. Seseorang meletakkan jaket di bahu Katie.
"Eh?" Katie menoleh. "Farrel?"
"Kenapa kamu menangis?" tanya Farrel duduk di sampingnya.
"Lalu kenapa kamu masih di sini?" tanya Katie yang mengabaikan pertanyaan Farrel.
"Karena kamu ada di sini," sahut Farrel. "Lalu kenapa kamu menangis?"
Katie menghapus air matanya. "Aku terlalu di kekang. Aku tidak suka itu!"
Farrel meletakkan lengannya pada bahu Katie.
"Sudah kubilang. Kalau kamu menjadi pacarku, aku tidak akan mengekangmu."
Dannis menghampiri Katie dan Farrel dengan mata memerah.
"Jauhkan dirimu dari milikku!!" teriak Dannis dengan marah sambil menarik Katie dengan kasar.
Dia sudah tahu kalau membiarkan Katie seorang, pasti ada pria lain yang ingin mendekatnya.
"Dannis!" seru Katie.
"Sepertinya Katie sangat tidak menyukaimu. Hanya kamu sendiri yang mengklaim Katie itu milikmu."
Dannis menggeram marah lalu menghajar wajah Farrel.
"Farrel!" seru Katie sambil menutup kedua mulutnya.
Katie bersedia menghampiri Farrel. Tapi di halang oleh Dannis.
"Jangan berani mendekati siapa pun selain diriku!" suara dingin Dannis membuat Katie mngurungkan niatnya.
✪ ✪ ✪
"Da-dannis!" ucap Katie.
Dannis yang seperti kerasukan itu tak mendengar perkataan Katie.
"Katie... Milikku... Kamu milikku. Tak akan kubiarkan orang lain menyentuhmu."
Katie ketakutan melihat Dannis yang seperti sudah tidak sadar dengan apa yang ia lakukan. "Dannis!"
Dannis kian mendekati ke arah Katie. Tentu saja Katie semakin mundur dan akhirnya jatuh ke ranjang.
Alarm di kepala Katie menyala menandakan bahaya. Tapi Dannis mencekal tangan Katie terlalu kuat. Tidak mungkin ada kesempatan membiarkan Katie kabur.
"Dannis, jangan!"
Dannis mendekatkan wajahnya. Katie berusaha menolaknya. Tapi Dannis memaksa kehendaknya memegang dagu Katie dan mencumbu bibirnya dengan penuh nafsu.
"Hmmph!!" Katie masih memberontak dengan memukul d**a bidangnya Dannis.
Srek! Baju Katie di robek Dannis dengan kasar.
Katie membulatkan matanya bercampur dengan air matanya yang mengalir.
"Tiada sudah harapanku, kesucianku." Batin Katie.
✪ ✪ ✪