Katie terbangun karena merasa hawa panas yang mengembara. Dia turun dari ranjang dan melihat ke luar jendela.
Bulan yang biasanya berwarna kuning keputihan itu telah merubah menjadi warna merah.
"Inikah alasannya?" Batin Katie.
Ting Tong!
Bel yang berbunyi itu membuat Katie takut.
Ingatan kembali ke kejadian 2 tahun lalu. Sama persis di mana hal ini terjadi.
Ting Tong!
Bel kembali berbunyi. Katie sama sekali tidak niat untuk membukanya.
Katie sudah belajar dari masa lalu. Dia tidak akan membuka pintu atau pun keluar dari rumahnya sebelum bulan purnama selesai.
"Katie! Bukalah, ini aku!" Teriak Dannis samar-samar dengan mengedor pintu apartemennya.
Katie menggeleng kepalanya sambil memegang erat selimutnya. Tubuhnya bergetar hebat.
"Katie! Ayolah!" teriak Dannis lagi.
Gubrak!
Katie terlonjat kaget, segera ia bersembunyi di bawah selimutnya.
"Jangan dekati aku... Jangan membunuhku...."
Dannis membuka pintu kamarnya Katie yang tidak terkunci.
"Jangan lukai aku... Jangan membunuhku... Jangan dekati aku...."
Dannis yang mendengar itu merasa pilu melihat wanitanya ketakutan.
"Katie, ini aku. Jangan takut, aku tidak akan melukaimu. Aku akan melindungimu dengan segenap jiwaku," ucap Dannis yang terdengar meyakinkan.
Dannis mendekati Katie yang gemetar ketakutan di bawah selimutnya.
"Katie, aku datang untuk melindungimu. My baby, aku di sini."
Dannis menarik selimut yang menutupi Katie. Hati Dannis seperti tersayat melihat Katie yang menangis.
"Sstt ... Aku di sini, aku akan melindungimu dari bahaya apapun." Dannis menempelkan tubuhnya di atas Katie. Memeluknya agar Katie bisa lebih tenang.
Dannis kebingungan, kenapa wanitanya ini bisa ketakutan?
✪ ✪ ✪
"Terima kasih, Dannis." Ucap Katie dengan lirih.
Dannis tersenyum. "Kamu itu wanitaku, baby. Tak mungkin aku membiarkanmu dalam bahaya. Perasaanku tidak enak daritadi. Aku takut terjadi apapun denganmu."
Katie inisiatif memeluk Dannis, membuat Dannis melebarkan matanya tak percaya.
"Terima kasih telah bersamaku," ucap Katie tulus.
Katie mulai menerima keberadaan Dannis di sekitarnya. Ia mulai merasa nyaman ada Dannis di sisinya. Walaupun dia masih sedikit ragu dengan Dannis.
"Apa bulan purnama sudah selesai?" tanya Katie pelan.
Dannis mengangkat wajahnya ke luar jendela. Bulan purnama masih terlihat. Dannis memang tidak begitu mengerti tentang bulan purnama karena dirinya bukan seorang werewolf.
"Masih, Katie. Kenapa?"
Katie menggeleng. "Jangan tinggalkan aku, sebelum bulan purnama selesai ya?"
Dannis mengulurkan tangannya ke kepala Katie dan mengelus kepalanya dengan sayang.
"Mungkin belum saatnya aku menanyakan kepadanya?" pikir Dannis.
"Aku memang datang untuk menjagamu," desus Dannis.
Katie merasa tenang sekarang. Tidurnya yang terganggu, akhirnya sekarang dia bisa tidur nyenyak di pelukan Dannis. Merasa hangat dan nyamanketika berada di dalam pelukannya.
Dengkuran halus terdengar di telinga Dannis. Pria itu tersenyum melihat wanitanya telah masuk ke alam bawah.
Dengan hati-hati ia menurunkan Katie yang masih ada di bahunya ke bantal tidur.
Di kecupnya kening Katie membuat Katie merasa nyaman dalam tidurnya.
"Sweet dream, my baby."
✪ ✪ ✪
Katie bangun dan merasakan perutnya berat sekali. Ia melihat ke bawah dan mendapatkan sebuah tangan yang memeluknya dengan posesif.
"Dannis," panggil Katie.
Dannis yang masih belum bangun dengan panggilan Katie membuat Katie mengeluh sebal.
"Dasar kebo! Lagi musim panas begini malah tidurnya nyenyak sekali!" keluh Katie.
Katie menepiskan tangan Dannis yang memeluk di perutnya. Lalu turun dari ranjang menuju ke kamar mandi.
Splaashh...
Dannis akhirnya bangun dari tidurnya. Di lihat jam yang sudah menunjukkan pukul sembilan pagi.
Selama 27 tahun, dia tak pernah bangun sesiang ini. Tapi ini karena wanita di pelukkannya membuatnya mabuk untuk terus tidur.
Suara pintu terbuka, menampilkan Katie yang masih setengah basah di rambutnya membuat Dannis menelan ludahnya.
"Oh... Kebo akhirnya bangun," sindir Katie yang dubumbui kekehan kecil.
Dannis menggunakan kemampuannya untuk mendekati Katie.
"Memelukmu sambil tidur. Itu tidur yang paling nyaman dalam sejarahku."
"Lepaskan, panas tahu."
"Mumpung New York lagi musim panas. Gimana kalau kita main ke pantai?" tanya Dannis.
Katie mengangguk setuju. Dia tidak pernah bermain di pantai selain melihat matahari terbit saat itu. Katie selalu saja sibuk dengan pekerjaannya. Tidak ada waktu untuk keluar bermain.
Kali ini, Katie ingin menggunakan kesempatan ini untuk bermain.
✪ ✪ ✪