Tahun XXX di Dimensi Havendell.
"Penyimpangannya sudah terlalu parah, tidak ada yang bisa menjamin apakah dalam beberapa tahun lagi masih ada yang bertahan." Olyver melaporkan hasil penelitian terakhir mengenai informasi yang beredar akhir-akhir ini.
"Kabarnya, ada banyak anak kecil yang menjadi b***k. Setelah mencapai tujuan awal mereka, para anak kecil itu akan langsung ...." Prajurit lainnya juga memberikan laporan terbaru yang sudah diverifikasi.
"Belum ada informasi terbaru apakah setelah benar-benar menghabisi dimensi itu mereka akan menargetkan dimensi lain atau akan membuat kerajaan baru disana, tapi apapun pilihan mereka, akan berbahaya ke depannya," ucap Olyver dengan nada khawatir.
Ayah Runa, Raja Falennor Kingdom mengangguk pelan mendengar laporan yang disampaikan.
"Anak kecil itu, berapa banyak yang masih hidup?" tanya raja tanpa mengalihkan pandangannya dari peta dimensi yang terbentang di atas meja.
Olyver dan prajurit lainnya saling pandang. Tidak ada satu pun dari mereka yang berani menyebutkan angka lebih dulu.
"Kami belum bisa memastikannya, Raja. Perkiraan terkecil kami tiga ratus, perkiraan terbesar lebih dari seribu," jawab Olyver setelah hening beberapa detik.
"Kenapa selisihnya sejauh itu?" tanya raja lagi.
"Karena kami menghitung dari jumlah anak yang dibawa masuk ke dimensi itu, bukan dari jumlah anak yang masih bernapas. Untuk yang kedua, tidak ada catatannya sama sekali," jawab Olyver dengan suara yang lebih kecil dari sebelumnya.
Raja mengangkat kepalanya untuk pertama kali sejak rapat dimulai.
Ruang rapat Falennor Kingdom yang biasanya penuh dengan suara perdebatan, malam itu sunyi sekali.
"Berapa kerajaan yang sudah kalian hubungi?"
"Sembilan, Raja."
"Jawaban mereka?"
"Delapan menolak dengan alasan yang sama. Dimensi itu tidak berbatasan langsung dengan mereka, sehingga tidak ada kewajiban untuk ikut campur. Satu kerajaan belum menjawab sampai malam ini," ucap prajurit yang tadi memberikan laporan.
Olyver menunduk. Ia sendiri yang mengantarkan surat-surat itu dan ia sendiri pula yang membaca satu per satu penolakannya.
"Kalau begitu, Falennor yang mengurusnya," ucap raja dengan tenang. Nadanya seperti orang yang sedang memutuskan hal kecil, bukan orang yang sedang mengirim pasukan ke dimensi yang isinya sudah tidak jelas lagi.
"Raja, jika kita mengirim pasukan sebanyak itu keluar, pertahanan Havendell akan berkurang cukup lama," ucap salah satu pemimpin pasukan dengan sangat hati-hati.
"Aku tahu."
"Dan orang-orang yang menjalankan p********n itu pasti akan mengingat siapa yang mengganggu mereka."
"Aku juga tahu," jawab raja sambil melipat peta di depannya dengan rapi. "Kehilangan rakyat adalah kegagalan terbesar seorang raja. Anak-anak itu memang bukan rakyatku, tapi mereka juga sedang kehilangan rajanya."
Tidak ada yang membantah lagi setelah itu.
"Olyver, kamu yang memimpin. Ambil sepertiga pasukan, jangan lebih. Bawa pulang sebanyak yang bisa kamu bawa," ucap raja sambil berdiri dari kursinya.
"Baik, Raja."
"Satu lagi. Jangan tinggalkan lambang Falennor di sana, dalam bentuk apa pun."
***
Misi itu berjalan selama empat puluh dua hari.
Empat puluh dua hari untuk sebuah dimensi yang di dalam catatan Falennor hanya ditulis dengan satu baris pendek, tanpa nama.
Nama dimensi itu memang sengaja dihapus setelah semuanya selesai. Bukan supaya dilupakan, tapi supaya tidak ada yang bisa melacak siapa saja yang pernah tinggal di sana.
Yang ditemukan pasukan Falennor di sana bukanlah medan perang.
Tidak ada garis pertahanan, tidak ada barisan yang saling berhadapan, tidak ada aba-aba dan tidak ada yang membalas serangan.
Yang ada hanya bangunan-bangunan panjang tanpa jendela, jalur pengangkutan yang dijaga rapat, dan antrean yang bergerak pelan.
Olyver tidak pernah menceritakan bagian ini secara rinci kepada siapa pun, bahkan kepada raja sekalipun. Laporan yang diserahkannya hanya berisi angka, letak, dan waktu.
Dari sepertiga pasukan yang dibawanya, kurang dari setengah yang kembali ke Havendell.
Anak yang berhasil dibawa pulang berjumlah tiga ratus dua puluh empat.
Tiga ratus dua puluh empat, dari perkiraan terkecil tiga ratus dan perkiraan terbesar seribu lebih.
Sampai bertahun-tahun kemudian, Olyver tidak pernah sekali pun menyebut angka itu sebagai keberhasilan.
***
Runa masih sangat kecil saat pasukan itu kembali.
Ia menonton dari jendela lantai dua istana, tempat yang seharusnya tidak boleh didatanginya malam itu.
Pasukan Falennor Kingdom pulang tanpa formasi. Beberapa dipapah, beberapa dibawa dengan tandu, dan sisanya berjalan sambil menuntun anak-anak yang tingginya belum sampai ke pinggang mereka.
Yang paling diingat Runa bukan keadaan pasukannya, tapi anak-anak itu.
Tidak ada yang menangis. Tidak ada satu pun yang bertanya akan dibawa ke mana. Mereka berjalan mengikuti langkah orang di depannya, seperti sudah terbiasa mengikuti tanpa boleh bertanya.
Ratu memindahkan seluruh isi aula timur malam itu juga untuk dijadikan tempat mereka beristirahat.
Runa turun diam-diam dan berdiri di ujung koridor. Dari sana ia bisa melihat punggung-punggung kecil yang sedang diperiksa oleh tabib kerajaan.
Di punggung itu ada tanda yang bentuknya sama persis, di tempat yang sama persis, dengan ukuran yang sama persis.
"Itu apa, Ayah?" tanya Runa saat ayahnya menemukannya berdiri di sana.
Raja tidak langsung menjawab. Ia berjongkok agar tingginya sejajar dengan Runa, lalu memutar badan putrinya supaya tidak lagi menghadap ke aula.
"Tanda itu bukan milik mereka," jawab raja akhirnya. "Tanda itu milik orang yang memasangnya. Jadi jangan pernah melihat tanda itu seolah-olah itu kesalahan anak-anak di dalam sana."
Runa tidak benar-benar mengerti maksud ayahnya saat itu, tapi ia mengangguk.
Setelah malam itu, bentuk tanda tersebut disembunyikan rapat-rapat oleh Falennor Kingdom.
Kekejaman p********n itu memang tersebar luas ke banyak dimensi, tapi wujud tandanya tidak pernah diperlihatkan ke publik. Sekali bentuknya diketahui orang banyak, siapa pun yang pernah menjadi b***k akan bisa dikenali seumur hidupnya hanya dengan sekali lihat.
Anak-anak itu kemudian diberi nama baru, riwayat baru, dan dikirim ke dimensi-dimensi yang bersedia menerima mereka tanpa banyak bertanya.
Sebagian besar dikirim jauh, dan sengaja tidak dikumpulkan di satu tempat.
Daftar lengkapnya hanya disimpan di Falennor Kingdom.
***
Selxi masih berdiri di tempatnya.
Enam punggung itu masih terbuka di depannya dan tidak ada satu pun dari mereka yang berbalik. Mereka menunggu sampai Selxi selesai melihat.
"Kalian dibawa Olyver," ucap Selxi akhirnya. Kalimatnya bukan pertanyaan.
Dean merapikan bajunya lalu berbalik. "Kami dibawa Olyver," jawabnya.
Satu per satu anggota D'VABER kembali menghadap ke arah Selxi. Tidak ada lagi wajah jahil di antara mereka, termasuk di wajah Dean.
Selxi menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan.
Kalau mereka anak-anak dari misi itu, artinya mereka tahu Falennor. Kalau mereka tahu Falennor, artinya mereka juga tahu nama keluarga yang dibalik dan dikurangi satu huruf itu milik siapa.
Dan mereka sudah tahu sejak lama, jauh sebelum malam ini.
"Sekarang kamu percaya?" tanya Dean.
"Belum," jawab Selxi dengan jujur. "Tapi aku mendengarkan."