Setelah berbincang sebentar, Dean mengajak Selxi untuk pergi ke tempat lain.
Tanpa ragu, Selxi langsung mengiyakan karena ia juga penasaran.
Sebelum beranjak pergi dari ruangan itu, anak-anak D'VABER melakukan beberapa penyesuaian, seolah-olah ruangan itu sedang digunakan.
Brenda dan Aeryn membuka beberapa folder dan membiarkannya berjalan secara otomatis.
Dean, Varen, dan Reita menyalakan beberapa perangkat lainnya dan memidahkan beberapa barang.
Elisya juga melakukan pengecekan untuk beberapa dokumen lalu membiarkannya tetap terbuka.
Setelah selesai semua, mereka keluar ruangan menggunakan pintu belakang yang tersembunyi di balik lemari.
Sekarang jam 3 pagi dan keadaan tidak terlalu ramai. Dengan menggunakan mantel hitam, mereka bertujuh berjalan menuju sebuah taman yang berada tepat di belakang gedung arsip lama.
Taman itu bukan taman yang biasa didatangi murid. Letaknya terlalu jauh dari asrama, terlalu dekat dengan tembok akademi, dan tidak ada satu pun kegiatan yang pernah diadakan di sana.
Selxi berjalan di barisan paling belakang sambil menghitung.
Menghitung jumlah belokan, jumlah lampu yang mati, jumlah penjaga malam yang mereka lewati, dan jumlah waktu yang dibutuhkan dari pintu belakang ruangan tadi sampai ke taman.
Sembilan menit. Tanpa berlari dan tanpa satu pun penjaga yang menoleh.
Terlalu rapi untuk sebuah jalur yang baru dipakai sekali dua kali, batin Selxi.
Reita berjalan paling depan sambil sesekali menggerakkan jarinya. Angin di sekitar mereka bergerak mengikuti gerakan itu, menutupi suara langkah kaki tujuh orang sekaligus.
Sesampainya di taman, Varen langsung berjongkok di dekat sebuah kolam yang sudah lama kering.
Kolam itu terlihat seperti kolam biasa yang tidak terurus. Dasarnya penuh daun kering dan retakan.
Varen menyingkirkan daun-daun di salah satu sudut kolam, lalu menempelkan telapak tangannya di sana.
Retakan yang tadinya terlihat acak mulai bergerak dan menyusun dirinya sendiri menjadi sebuah pola melingkar.
"Kalau ada yang menginjaknya tanpa manna Varen, retakannya tetap retakan," ucap Brenda tanpa ditanya, seolah tahu bahwa Selxi sedang memperhatikan setiap detailnya.
Selxi hanya mengangguk pelan.
Dasar kolam itu terbuka dan memperlihatkan anak tangga batu yang menurun ke bawah tanah.
Aeryn turun lebih dulu, disusul Elisya, Brenda, Varen, dan Reita. Dean berdiri di samping tangga sambil menunggu Selxi.
"Silakan," ucap Dean sambil mempersilakan Selxi turun lebih dulu.
Selxi menatap Dean beberapa detik. Ia tidak sedang menimbang apakah Dean akan mencelakainya di bawah sana, karena kalau mereka mau melakukan itu, sudah ada puluhan kesempatan yang lebih mudah sejak beberapa hari terakhir.
Yang ditimbangnya adalah hal lain. Sekali ia turun, ia tidak bisa lagi berpura-pura tidak tahu apa-apa.
Selxi menuruni anak tangga itu tanpa mengatakan apa pun.
Udara di bawah terasa jauh lebih dingin dan lebih kering dibanding di atas. Baunya seperti bau ruangan yang sengaja dijaga agar tidak pernah lembap.
Anak tangganya cukup panjang. Selxi memperkirakan kedalamannya sekitar dua belas meter.
Saat Selxi sampai di bawah, Elisya menyalakan lampunya satu per satu.
Ruangan bawah tanah itu jauh lebih besar dari ruangan D'VABER yang ada di atas.
Tidak ada perabot berlebihan di sana. Hanya satu meja panjang di tengah, beberapa kursi, dan dinding.
Dindinglah yang membuat Selxi berhenti melangkah.
Seluruh dinding di sisi kanan tertutup layar-layar yang saling bertumpuk. Sebagian menampilkan peta dimensi, sebagian menampilkan potongan dokumen, dan sebagian lagi hanya berisi tulisan tangan yang disalin ulang.
Sedangkan dinding di sisi kiri berisi nama.
Ratusan nama, tersusun rapi dari atas ke bawah.
Sebagian nama diberi garis, sebagian tidak.
"Yang digaris sudah ditemukan. Yang belum digaris, belum," ucap Aeryn yang berdiri di dekat dinding itu.
Selxi mendekat dan membaca beberapa baris teratas.
Nama-nama di sana ditulis dua kali. Nama lama di sebelah kiri dan nama baru di sebelah kanan. Beberapa baris hanya terisi di sebelah kiri saja.
"Kalian membuat ini sendiri?" tanya Selxi.
"Sepuluh tahun," jawab Brenda. "Kami mulai dari mengingat wajah, lalu mengingat suara, lalu mengingat nomor. Yang paling banyak membantu justru nomor."
Selxi menoleh ke arah Brenda, menunggu kelanjutannya.
"Kami semua diberi nomor di sana. Nomor itu berurutan menurut waktu masuk. Dari nomor, kami bisa memperkirakan siapa yang masuk bersamaan dengan siapa," lanjut Brenda dengan datar, seperti sedang menjelaskan rumus sihir dasar.
Selxi tidak menanggapi. Ia hanya kembali menatap dinding itu.
Tiga ratus dua puluh empat nama.
Angka yang sama persis dengan angka yang pernah dibacanya di catatan kerajaan.
"Kenapa kalian mencari mereka?" tanya Selxi setelah beberapa saat.
"Awalnya hanya supaya kami tahu siapa saja yang masih hidup," jawab Dean sambil berjalan ke arah dinding sebelah kanan. "Dua tahun terakhir, alasannya berubah."
Dean menyentuh salah satu layar dan memperbesarnya.
Yang muncul adalah peta letak dimensi. Bentuknya mirip dengan kertas yang selama ini disimpan Selxi di dalam sakunya, hanya saja jauh lebih rinci dan ada titik-titik kecil yang menyala di beberapa tempat.
"Titik yang menyala artinya ada laporan anak hilang dalam jumlah besar. Yang menyala terang, laporannya sudah kami pastikan sendiri," jelas Aeryn.
Selxi menghitung titiknya dengan cepat. Ada sebelas.
Empat di antaranya menyala terang.
"Pola waktunya teratur," ucap Selxi tanpa sadar. "Jaraknya sekitar delapan sampai sepuluh bulan, dan arah pergerakannya mengikuti dimensi yang letaknya berpindah."
Varen dan Elisya saling pandang.
"Butuh tujuh bulan buat kami sampai ke kesimpulan itu," gumam Varen.
"Itu artinya mereka membangunnya lagi," lanjut Selxi, kali ini pelan sekali.
"Mereka memang tidak pernah benar-benar berhenti. Mereka cuma pindah," jawab Dean.
Selxi masih menatap peta itu. Matanya bergerak mengikuti urutan titik-titik tadi, dari yang paling lama sampai yang paling baru.
Titik yang paling baru berada di bagian bawah peta, agak menyendiri dari yang lain.
Napas Selxi tertahan.
Ia hafal betul letak itu. Ia menghafalnya sejak kecil, jauh sebelum ia bisa membaca peta dimensi dengan benar.
"Muncul delapan bulan lalu," ucap Dean tanpa menoleh ke arah Selxi. "Kami belum bisa memastikannya karena tidak ada satu pun jalur informasi kami yang bisa masuk ke sana sejak titik itu muncul."
Delapan bulan lalu.
Kurang lebih di waktu yang sama dengan saat Violea Kingdom mulai bergerak ke perbatasan Havendell.
Tanpa sadar, tangan Selxi bergerak ke sakunya dan memastikan liontin itu masih ada di sana.
Ia memang datang ke dimensi ini untuk mencari bantuan, tapi sejak awal ia tidak pernah tahu bantuan seperti apa yang harus dicarinya. Yang ada di kepalanya hanya pasukan, senjata, atau sekutu kerajaan.
Tidak pernah terpikir olehnya bahwa yang ia butuhkan justru enam orang yang selama beberapa hari terakhir ia hindari mati-matian.
Dan tidak pernah terpikir juga bahwa perang yang menghancurkan kerajaannya mungkin bukan sekadar perang antar kerajaan.
Selxi menegakkan badannya dan menatap keenam orang yang ada di ruangan itu satu per satu.
"Sekarang giliranmu bercerita," ucap Dean.