"Lili bangun!" Teriak Lusi, Bunda Lili dari bawah.
Lili menggeliat dan melanjutkan tidurnya lagi. Menghiraukan sinar matahari yang menelusup lewat celah-celah jendela, juga teriakan Lusi yang menggema di seluruh penjuru rumah.
"Hehehe, kamu lucu deh Zak," Lili mengigau dan tertawa sendiri.
"Lili!" Teriak Lusi dengan kesal, tapi Lili masih belum bangun juga.
Rizki turun dengan mengusap telinganya yang sedikit berdengung karena teriakan Bundanya. Tas hitam bertengger di pundak kanannya dan seragam putih abu-abu melekat sempurna dibadan six packnya.
"Ngapain sih Bun pagi-pagi udah teriak?" Tanya Rizki dan mendaratkan bokongnya di kursi meja makan. Mengambil roti yang sudah di olesi selai dan melahapnya.
"Lili belum bangun. Ini udah siang." ucap Lusi.
Rizki melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul setengah tujuh lebih lima menit.
"Biar Iki aja yang bangunin Bun." ucap Rizki dan beranjak dari duduknya, menaiki tangga menuju kamar Lili.
"Eh Dek bangun udah siang ini." ucap Rizki sambil menarik selimut Lili.
Lili menggeliat dan mengerjapkan matanya.
"He Bang, suara lo sumbang amat. Sono pergi, masih pagi juga." Ucap Lili lalu melanjutkan tidurnya.
Rizki berkacak pinggang menatap Lili. Dia sudah bisa menebak, pasti Lili terbangun tengah malam dan memikirkan Zaki. Sampai-sampai ia telat bangun.
"Enak aja ngatain suara gue sumbang. Ini udah jam setangah tujuh woi!" Teriak Rizki tak terima dengan perkataan Lili.
Mendengar perkataan Rizki, Lili langsung duduk dan celingukan.
"Apa? Jam berapa tadi?" Tanya Lili dengan panik dan langsung turun dari ranjangnya. Mengambil handuk dan melenggang masuk ke dalam kamar mandi.
"Eta sabarkanlah." gumam Rizki sambil mengelus d**a lalu keluar dari kamar Lili.
Lili mandi ala gaya bebek. Menggosok gigi, mencuci muka, lalu mengenakan seragamnya dengan terburu-buru. Ia keluar dari kamar mandi dan melempar handuknya asal.
Lili menyisir rambutnya dan sesekali melirik jam dinding. Sudah hampir pukul tujuh. Ia menguncir kuda rambutnya tanpa memoleskan make up apapun di wajahnya. Lalu menyambar tasnya, membuka lemari pakaian dan mengambil kaos kaki. Setelah itu langsung berlari keluar kamar, tapi tak lama Lili masuk kembali ke dalam kamar dan mengambil topinya yang ketinggalan.
Lili mengenakan kaos kaki dengan tergesa-gesa dan matanya mengarah ke rak sepatu. Lili mencari sepatu fantofelnya, tapi tidak ada. Hanya ada sepatu convers, sepatu olahraga, dan beberapa flat shoes.
"Bun, sepatu Lili mana?!" Teriak Lili menggelegar ke penjuru rumah. Mungkin sebentar lagi tetangga akan datang dan mengomel, karena pagi-pagi sudah terganggu dengan teriakan yang berasal dari kediaman keluarga Adrian.
"Ya di situ!" Jawab Lusi dengan berteriak pula.
Lili berdecak sebal dan mengacak rak sepatunya, membuat semua koleksi sepatunya berserakan di lantai. Bahkan ada yang terpental sampai ke bawah.
"Lili jangan di berantakin!" Teriak Lusi.
Lili tidak memperdulikan teriakan membahana Lusi. Lili justru masuk ke dalam kamarnya lagi.
Berjongkok, dan mengintip di kolong ranjang. Lili tersenyum senang saat sepatu yang di carinya berada di sana. Lili menjulurkan tangannya mencoba mengambil sepatunya, tapi tangannya tak sampai.
"Kok nggak nyampai sih nih tangan, kayak lagu aja. Kasih tak sampai." gerutu Lili yang masih mencoba meraih sepatunya.
Lili memajukan badannya, menjulurkan tangannya sekuat mungkin agar dalam masuk ke dalam lorong untuk meraih sepatunya. Dan akhirnya ia bisa mendapatkan sepatunya, Lili langsung menarik sepatu fantofelnya keluar dari kolong.
"Alhamdulillah," ucap Lili lalu segera mengenakan sepatunya.
Lili menuruni tangga dengan berlari dan hampir saja ia terjungkal, untung Lili berhasil menyeimbangkan tubuhnya kembali.
"Abang Iki mana Bun?" Tanya Lili buru-buru.
"Di luar udah nung---"
"Lili berangkat dulu ya Bun. Assalamualaikum!" Ucap Lili memotong ucapan Lusi dan langsung berlari keluar rumah tanpa sarapan.
"Lili sarapan dulu!" Teriak Lusi, tapi sia-sia, karena Lili sudah mengenakan helm dan duduk di boncengan motor Rizki.
"Lama amat sih Dek," gerutu Rizki sambil menyalakan motornya.
"Bacot deh Bang, udah ayo berangkat buru."
Rizki menggelengkan kepalanya yang sudah mengenakan helm, dan langsung menjalankan motornya menuju sekolah.
Sekolah Lili dan Rizki memang berbeda. Lili bersekolah di SMA Negri dan Rizki bersekolah di SMA International. Sebenarnya Lili bisa saja masuk di Sekolah yang sama dengan Rizki, tapi Lili lebih memilih sekolah Negri karena ada Zaki di sana.
Kelas Lili dan Rizki juga berbeda. Rizki berada di kelas 12 IPS dan Lili berada di kelas 11 IPA. Jam masuk sekolah pun jelas berbeda. Jika hari senin semua sekolah masuk pukul tujuh bahkan lebih awal karena upacara, berbeda dengan sekolah Rizki. Sekolah Rizki masuk pukul delapan. Jangan heran, karena sekolah Rizki adalah international yang muridnya bukan hanya berasal dari Indonesia.
Rizki memberhentikan motornya di depan gerbang sekolah Lili, bertepatan dengan Pak Mamat yang akan menutup pintu gerbang.
"Tunggu pak!" Teriak Lili membuat pergerakan Pak Mamat yang akan menutup gerbang terhenti. Lili segera turun dan melepas helmnya asal.
"Dah Bang," ucap Lili lalu berlari masuk ke dalam sekolah.
Rizki yang sudah membuka mulutnya hendak mengatakan sesuatu menjadi urung. Rizki menggelangkan kepala dan melajukan motor menuju sekolahnya.
"Anjrit gue telat." gerutu Lili dan terus berlari menyusuri lorong yang sepi, karena semua murid sedang berada di lapangan untuk melaksanakan upacara.
Lili melirik jam tangannya dan langsung berhenti seketika. Lili memandangi jam tangannya dengan mulut terbuka dan pandangan takut. Pasalnya, jam Lili sudah menunjukkan pukul setengah delapan, yang artinya upacara akan segera selesai.
"Mampus," gumam Lili.
Lili menoleh ke kanan dan ke kiri, memastikan keadaan. Ia berlari dengan kecepatan penuh menuju kelasnya. Perasaan cemas melingkupi Lili. Jika ia ketahuan tidak mengikuti upacara, alamatnya ia akan berdiri di bawah bendera merah putih dengan hormat dan juga sinar matahari yang menyengat kulit. Membayangkannya saja membuat Lili ketakutan.
Lili berhenti berlari dan matanya membulat sempurna. Di depannya ada Bu Nanik yang sedang celingukan mencari murid yang tidak mengikuti upacara. Saat akan menoleh ke arah Lili, Lili terlebih dahulu bersembunyi di balik tembok.
Napas Lili memburu, peluh membasahi wajahnya dan d**a Lili naik turun. Lili meringis saat merasakan perutnya sakit dan kepalanya pusing. Ia memegangi perutnya dan menggigit bibir bawahnya.
Lili menoleh saat mendengar suara derap kaki, ia sedikit mengintip. Dahi Lili berkerut saat semua murid berbondong-bondong meninggalkan lapangan dan saling dorong agar cepat sampai di kelas dan mendinginkan badan mereka yang gerah karena panasnya sinar matahari.
Lili menghembuskan napas lega, jika upacar sudah selesai, maka itu akan mempermudah Lili untuk masuk ke dalam kelas tanpa ketahuan. Saat Lili hendak melangkah menuju kelasnya, sebuah suara membuat langkahnya terhenti dan Lili menelan salivanya kasar.
"Lili!"
Panggil sebuah suara yang membuat bulu kuduk Lili meremang. Tamat sudah riwayat Lili. Sudah bisa di pastikan jika ia akan berdiri di bawah bendera dengan terik matahari yang mendukung kulitnya menjadi hitam.
Lili menoleh dengan ragu dan tersenyum kaku kepada Bu Nanik yang sedang berjalan mendekatinya dengan tatapan tajam. Lili menghembuskan napas pasrah, ia akan menerima hukumannya dengan lapang d**a.
"Kenapa kamu terlambat?" Tanya Bu Nanik dengan suara yang sangat menakutkan bagi Lili. Lili menelan salivanya lagi.
"Itu Bu---"
"Berdiri di lapangan sampai jam pelajaran pertama berakhir." Ucap Bu Nanik yang membuat Lili membelalakkan mata kaget.
"Ta---"
"Kalau kamu berani membantah atau menawar, saya tambah sampai jam istirahat," ancam Bu Nanik yang membuat Lili mendesah kecewa.
"Baik Bu," ucap Lili pasrah dan berjalan gontai menuju lapangan.
Lili meletakkan tasnya di gazebo dan berjalan ke tengah-tengah lapangan. Ia menengadah ke atas dengan tangan menutupi matanya, mencegah agar matanya tidak rusak karena sinar matahari. Lili menghembuskan napas pasrah, mataharinya sangat mendukung, dengan terik yang mungkin akan membuat peluh membasahi seluruh tubuhnya dan kulit putihnya menjadi sawo matang.
Lili berdiri di depan tiang bendera dan menengadah ke atas dengan posisi tangan hormat. Panas matahari membuat matanya menyipit, hembusan angin membuat bendera merah putih berkibar dengan indah dan juga sedikit memberikan rasa sejuk bagi Lili.
Lili meringis saat merasakan perutnya melilit dan juga pusing yang tak tertahankan. Tapi Lili harus menahannya, karena hukumannya masih lama. Lili harus berdiri di bawah terik matahari selama tiga puluh menit, dan Lili baru saja berdiri di sana dalam waktu lima menit.
Lili memegangi perutnya yang semakin sakit. Lili ingat penyebabnya, ia tadi belum sarapan karena tergesa-gesa. Dan rasa pusingnya, ada dua pemikiran yang muncul di benak Lili. Pusing karena maagnya kambuh, atau karena Lili lupa meminum obatnya. Jika karena lupa meminum obat, maka akan berdampak buruk.
"Shh...."
Lili medesis kesakitan saat merasakan pusing di kepalanya semakin mejadi-jadi, membuat pandangannya berkunang-kunang. Tubuh Lili terseyok ke belakang, tapi ia mencoba untuk berdiri tegak lagi. Karena hukumannya masih kurang sepuluh menit.
Kurang lima menit lagi, tapi sepertinya Lili sudah tidak bisa berdiri lebih lama. Lili terhuyung ke balakang sambil memegangi kepalanya. Semuanya terasa berputar, juga kepalanya terasa seperti di pukul dengan palu yang sangat besar.
Tubuh Lili limbung ke belakang, dan saat itu juga ia pingsan. Meskipun pingsan, Lili bisa merasakan tubuhnya tidak jatuh menyentuh tanah. Terasa seperti tubuhnya melayang di udara. Entah Lili berkhayal atau memang ada yang membopong tubuhnya. Dan saat itu juga, kesadaran Lili menghilang sepenuhnya.
"Lili bangun." ucap seseorang yang menahan tubuh Lili agar Lili tidak jatuh ke tanah, melainkan jatuh ke pelukannya. Orang itu menepuk pelan pipi Lili, tapi Lili masih memejamkan matanya.
Dia menggendong Lili ala bridal style dan berlari menuju UKS dengan langkah cepat. Sesekali dia menunduk melihat wajah pucat pasi Lili. Sangat terlihat jelas raut kekhawatiran di wajah orang itu. Semua murid yang berlalu lalang di koridor memperhatikan kejadian itu dengan seksama.
"Zaki, Lili kenapa?" Tanya sebuah suara membuat langkah orang itu terhenti.
Menoleh ke belakang dan menemukan Bu Nanik sedang berjalan dengan langkah cepat menghampirinya. Orang itu, yang tak lain adalah Zaki.
Zaki menunduk melihat Lili sekali lagi, tidak bisa di pungkiri bahwa Zaki sangat merindukan Lili. Bibir ranum Lili kini semakin pucat. Lama Zaki memandangi Lili sampai tidak sadar bahwa Bu Nanik sudah berada di sebelahnya.
"Zaki cepat kamu bawa Lili ke UKS." perintah Bu Nanik membuyarkan lamunan Zaki.
Zaki mengangguk dan melanjutkan langkahnya menuju UKS. Zaki tidak menyadari bahwa sedari tadi ada sepasang mata yang melihat ke jadian tadi dari awal, dan menatapnya dengan pandangan nanar.
Zaki membaringkan Lili di ranjang UKS dengan sangat hati-hati, setelah itu Zaki mundur beberapa langkah. Memberikan tim medis ruang untuk memeriksa keadaan Lili. Zaki menghela napas, dan berjalan menjauh.
Lima menit sudah berlalu, dan Lili mulai sadar. Ia mengerjapkan matanya berkali-kali mencoba menyesuaikan penglihatannya. Lalu meringis saat merasakan perutnya perih. Lili mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Dahi Lili berkerut saat ia sadar bahwa berada di UKS.
"Li, lo gak papa?" Tanya Yola yang sudah berada di samping Lili.
Lili menoleh ke Yola dengan wajah pucat. Lili mengangguk sambil tersenyum kecil, memberitahukan kepada Yola bahwa dirinya baik-baik saja.
"Lo pucet Li. Gue telponin Bang Rizki ya?" Tawar Yola yang dibalas gelengan kepala oleh Lili.
Lili melihat di nakas sampingnya, terdapat roti dan secarik kertas. Lili mengerutkan dahi bingung, lalu menoleh kepada Yola.
Kring...kring...kring....
Bel berbunyi pertanda waktu istirahat sudah berakhir dan itu artinya semua murid harus masuk ke dalam kelas dan bergelut dengan pelajaran lagi. Yola menggurut sebal.
"Gue di sini aja deh Li, nemenin lo." ucap Yola. Lili menggelengkan kepalanya.
"Alah, bilang aja lo mau bolos pelajarannya Pak Abdul." ucap Lili dan Yola hanya cengengesan.
"Udah sono lo balik." ucap Lili. Yola menghembuskan napas kesal dan menatap wajah pucat Lili.
"Lo yakin gapapa?" Tanya Yola sekali lagi memastikan keadaan Lili. Lili mengangguk dengan senyum manis, meyakinkan Yola bahwa dirinya sudah baikan.
"Ya udah, gue balik dulu ya." Ucap Yola lalu melangkah keluar dari UKS.
Setelah Yola pergi, Lili memijat pangkal hidungnya saat pusing itu datang lagi. Lili menoleh ke nakas samping, tangannya terulur untuk mengambil roti dan secarik kertas yang ia tidak tahu datang dari mana. Lili membuka kertasnya dengan dahi berkerut.
Udah tau punya maag tapi tetep aja nggak sarapan. Makan! awas aja kalau nggak abis.
Jantung Lili berdegup lebih cepat. Senyum cerah langsung terbit di wajah pucatnya. Lili sangat mengenali tulisan tangan itu dan juga kata-katanya, sama dengan Zaki. Meskipun Zaki selalu berkata pedas dan dingin akhir-akhir ini, tapi Zaki tetap peduli kepadanya membuat semangat Lili berjuang untuk Zaki semakin besar.
Lili dengan segera membuka bungkus roti itu dan memakannya dengan hati yang berbunga-bunga. Meskipun hanya roti dan secarik kertas, tapi hal itu sudah mewakili perasaan Zaki. Bahwa Zaki mengkhawatirkannya, dan masih mencintainya. Setelah rotinya habis, Lili menyimpan kertas itu di saku seragamnya.
Lili tidak menyadari bahwa ada seseorang yang sedang mengawasinya dengan pandangan intens dan senyum tipis di bibir merah mudanya. Orang itu duduk di ranjang UKS paling pojok sehingga Lili tidak tau keberadaannya.
Lili memijat pangkal hidungnya dan menghembuskan napas panjang. Rasa sakit di kepalanya masih terasa dan semakin sakit. Tapi ia tidak ingin berada di UKS sendiri.
Lili bangun dengan tangan yang berpegangan di ranjang UKS. Semuanya terasa berputar dan kepalanya begitu sakit, bagaikan di hantam berkali-kali. Lili memegangi kepalanya, langkahnya terseok kala kepalanya semakin sakit dan terasa akan pecah.
Lili jatuh terduduk masih dengan memegangi kepala, penglihatnnya mulai memburam. Orang yang sedari tadi mengawasi Lili langsung bangkit berdiri dan akan melangkah menghampiri Lili. Tapi tiba-tiba langkahnya terhenti saat keegoisan memenuhi pikirannya.
Dia ingin menolong Lili, tapi egonya yang terlalu besar membuat dia ragu untuk membantu Lili. Zaki hanya menatap Lili yang sedang kesakitan dengan pandangan bingung. Otak, tubuh, dan hatinya sangat bertolak belakang. Saat otaknya mengatakan jangan peduli kepada Lili, berbeda dengan hati dan tubuhnya. Hatinya mengatakan bahwa dia harus peduli dan tubuhnya secara spontan melindungi Lili.
Saat melihat Lili limbung di lapangan. Otaknya mengatakan biarkan saja, tapi tidak dengan hati dan tubuhnya. Tubuhnya berjalan tidak sesuai kendalinya. Tubuhnya langsung mendekap Lili dan membawanya kemari.
Ada perasaaan aneh saat Zaki menggendong Lili. Perasaan senang dan khawatir bercampur menjadi satu. Di satu sisi dia khawatir tapi tidak ingin peduli kepada Lili. Di sisi lain, Zaki senang karena akhirnya setelah sekian lama dia bisa mendekap Lili lagi. Merasakan kehangatan dari tubuh mungilnya.
Zaki masih memandangi Lili dengan segala kebingungannya. Dia sangat ingin berlari ke arah Lili dan mendekapnya. Tapi entah mengapa tubuhnya seperti terpaku di satu tempat.
Sementara Lili mati-matian menahan sakit yang sedang di rasakannya. Lili mengambil ponselnya dan menelpon seseorang. Dengan susah payah Lili menghubungi Rizki karena pandangannya yang mulai buram dan rasa sakit di kepalanya yang sudah tidak bisa ia tahan lagi.
Lili menggerang kesakitan dan frustasi kala Rizki tidak mengangkat telponnya. Ia bingung harus meminta tolong kepada siapa. Karena yang bisa menolongnya sekarang hanyalah Rizki. Lili memegangi kuat kepalanya, darah segar keluar dari hidungnya membuat Lili semakin panik.
Lili menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, tidak peduli jika nantinya bibirnya akan robek dan berdarah. Rasa sakit yang di rasakannya begitu menyiksa, Lili tidak kuat menahan rasa sakit yang sedang ia rasakan dan saat itu juga Lili tidak sadarkan diri lagi.
Zaki yang tadinya terdiam langsung berlari menghampiri Lili. Zaki berjongkok, melihat wajah pucat pasi Lili dan juga hidungnya yang masih mengeluarkan darah, sebagian menetes di lantai membuat hati Zaki tercubit. Zaki menepuk-nepuk pelan pipi Lili, tapi Lili masih menutup matanya. Tidak menunggu waktu lama, Zaki langsung menggendongnya ala bridal style dan membawanya keluar dari UKS dengan langkah tergesa-gesa.
Zaki melangkah dengan langkah besar di koridor yang sepi. Sesekali dia melirik wajah pucat pasi Lili yang bibirnya memerah karena terkena darah dari hidungnya. Dia tidak peduli akan seragamnya yang ternodai oleh darah Lili. Zaki sangat cemas.
Hanya dengan melihat wajah pucat pasi Lili saja, membuatnya berkeringat dingin. Langkah Zaki tiba-tiba terhenti saat melihat pemuda tampan yang sedang berlari ke arahnya dengan tergesa-gesa. Wajah Zaki yang tadinya menunjukkan ekspresi khawatir langsung menjadi datar. Zaki sangat mengenali pemuda itu, dia adalah lelaki yang sangat menyayangi Lili, Rizki.
Rizki berhenti di depan Zaki dengan peluh yang memenuhi tubuhnya, napasnya tersenggal dan juga wajahnya menunjukkan raut khawatir. Rizki menatap lekat wajah adiknya yang pucat pasi. Lalu beralih menatap Zaki tajam.
"Sini Lili." ucap Rizki dingin.
Rizki mengambil Lili dari gendongan Zaki. Kini Lili berpindah ke tangan kekar Rizki. Rizki menunduk, menatap Lili yang masih setia menutup matanya dengan wajah yang begitu pucat.
Rizki berbalik dan melangkah pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun kepada Zaki. Zaki menatap punggung Rizki yang menjauh. Rasa khwatir masih melingkupi hatinya, tapi sekali lagi ego menguasainya. Membuat pikiran dan perasaannya kacau.
Zaki berdecak lalu melangkah dengan langkah besar menuju rooftop, mencari ketenangan di sana. Zaki duduk dengan bersandar di tembok pembatas rooftop. Dia mengadah ke atas, melihat gumpalan awan dan juga langit yang tadinya cerah kini mejadi mendung. Seolah mendukung keadaan hatinya.
"Zak," panggil seseorang membuat Zaki reflesk menoleh ke samping.
Zaki menatap orang di depannya dengan pandangan tajam dan dingin.
"Gimana keadaan Lili? Bang Rizki udah jemput Lili kan?" Tanya orang itu, Yola.
Zaki tidak menjawab pertanyaan Yola, dia lebih memilih berdiri dan pergi dari rooftop itu.
Meninggalkan Yola yang masih setia berdiri dengan memandangi Zaki yang sudah menghilang dari penglihatannya. Satu kata yang bisa mewakili persaan Yola saat ini, sakit.
"Sebenarnya gue ini lo anggep apa Zak?" Tanya Yola lirih dan saat itu juga air mata meluncur membuat garis lurus di pipinya.