Rizki turun dari taksi dan menggendong Lili, berlari menuju rumah sakit dengan tergesa-gesa.
"Suster. Tolong!" Teriak Rizki membuat banyak pasang mata menatapnya.
Tak lama, beberapa suster datang dan membantu Rizki. Rizki berjalan mondar-mondir di depan pintu ruang UGD dengan perasaan cemas. Rizki mengacak rambutnya kesal dan memandangi pintu UGD yang tak kunjung terbuka membuatnya semakin cemas.
"Lo harus bertahan Dek," ucap Rizki lirih yang lebih tepatnya adalah permohonan. Ponsel Rizki berdering membuat Rizki segera mengangkatnya.
"Halo Bun," ucap Rizki masih memandang lekat pintu UGD.
Rizki menghela napas saat mendengar ucapan Bundanya di sebrang sana.
"Bunda nggak perlu khwatir. Adek sama Iki. Nanti Iki kabarin kondisi Adek."
"Bunda nggak usah ke sini. Biar Iki aja yang nungguin Adek. Kalau Adek dirawat aja ya Bunda ke sini." ucap Rizki menenangkan Bundanya yang sedang cemas.
"Iya Bun," ucap Rizki lalu sambungan telpon terputus.
Rizki menghembuskan napasnya sekali lagi. Dia langsung mendaratkan bokongnya di kursi tunggu depan UGD dan mengacak rambutnya frustasi. Menatap pintu UGD yang tak kunjung terbuka, dia berharap pintu itu akan terbuka dan memeberikan kabar baik.
Tak lama, pintu ruang UGD terbuka dan muncul pria berkulit putih dengan mengenakan kaca mata dan Jaz Dokter. Rizki sontak langsung berdiri dan langsung berdiri menghampiri Dokter yang sudah di kenalnya itu karena sudah sering menangani Lili.
"Gimana keadaan adik saya Dok?"
Dokter itu yang bertag name Dr. Oscar, menepuk pundak Rizki dan tersenyum.
"Lili nggak papa, Lili cuma kecapean dan kayaknya Lili lupa minum obat." tutur Dr. Oscar membuat Rizki terdiam dan mengingat kejadian tadi pagi.
Dia baru ingat kalau Lili berangkat sekolah dengan tergesa-gesa tanpa sarapan dan juga minum obat. Rizki menghembuskan napas lega, untung saja kondisi Lili tidak sampai drop.
"Iya Dok. Tadi Adek lupa sarapan dan minum obat."
Dr. Oscar mengangguk paham. "Maagnya kambuh dan karena Lili lupa meminum obat, ya keadaannya jadi seperti itu. Tapi saya sudah memberikan obat pengurang rasa sakit. Jadi kamu nggak perlu khawatir. Awasi Lili, jaga pola makannya dan jangan sampai Lili lupa meminum obatnya." Ingat Dr. Oscar.
Rizki mengangguk paham. Dia masuk ke dalam ruang UGD, di sana terlihat Lili yang sedang berbaring dengan infus di tangannya. Wajahnya masih sedikit pucat, dan mungkin karena efek obat Lili menjadi terlelap. Rizki menghampiri Lili dan menatapnya lekat.
"Lo harus kuat ya Dek, lo pasti sembuh." ucap Rizki lalu mengecup dahi Lili.
Rizki duduk di samping ranjang Lili dan menggenggam tangan Lili yang terdapat infus. Hati Rizki tertohok melihat Adik kesayangannya terbaring lemah di ranjang rumah sakit untuk kesekian kalinya. Andai dirinya bisa menggantikan posisi Lili, pasti dia sudah menggantikannya. Karena dia tidak tega melihat Adik kecilnya kesakitan.
"Nggh...."
Lili melenguh dan dengan perlahan membuka matanya. Lili menyesuaikan matanya yang sedikit memburam. Setelah penglihatannya membaik. Lili memperhatikan sekitar, dan menghembuskan napas panjang saat mengetahui bahwa dirinya sedang ada di rumah sakit.
"Lo nggak papakan Dek?" Tanya Rizki dengan cemas.
Lili menoleh ke Rizki dan mengangguk lemah.
"Bang, haus." Ucap Lili dengan suara rendah dan serak.
Rizki dengan cekatan langsung mengambilkan minum untuk Lili. Lalu membantu Lili duduk dengan bersandar di kepala ranjang. Lalu menyodorkan air putih dan meminumkannya perlahan kepada Lili.
"Udah?" Tanya Rizki.
Lili mengangguk dengan senyum manis, Rizki meletakkan kembali minumnya ke nakas.
"Udah sehat. Ayo pulang," ucap Lili dengan girang dan senyum lebar.
Rizki menatap lekat Adiknya, dan tak terasa air matanya menetes. Lili sontak tersentak kaget dan langsung menghapus air mata Rizki.
"Abang kenapa nangis? Lili ngerepotin Abang ya?" Tanya Lili dengan pandangan memelas.
Rizki menengadahkan kepalanya ke atas, mencoba menghentikan air matanya. Dia tidak ingin terlihat cengeng di depan Lili, dia harus bisa terlihat kuat. Supaya Lili juga bisa kuat menghadapi semua ini.
"Abang nggak papa, cuma kelilipan aja." dusta Rizki dengan senyum manis, mencoba meyakinkan Lili.
Lili terdiam, ia bukan lagi anak kecil yang bisa dibohongi dengan kelimat seperti itu. Namun Lili tau Rizki sedang mencoba terlihat tegar. Ia lebih memilih berpura-pura tidak tahu apa-apa agar perjuangan Rizki tidak sia-sia.
"Pulang yuk Bang," ajak Lili dengan senyum manisnya lagi.
Rizki menghembuskan napas panjang. Selalu saja seperti itu, Lili selalu berakting bahwa dirinya baik-baik saja, padahal dirinya tidak baik-baik saja.
"Tunggu lo sehat dulu ya," bujuk Rizki dengan senyum manis. Membuat Lili menggembungkan pipinya kesal lalu menyandarkan tubuhnya kembali ke kepela ranjang.
Rizki tersenyum, lalu lebih memilih memainkan ponselnya. Lili menghembuskan napas bosan. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Setelah itu Lili terdiam, lalu menunduk, ternyata ia masih menggunakan seragam sekolahnya.
Dan ia teringat kepada kertas dan roti pemberian Zaki. Lili merogoh sakunya dan tersenyum saat melihat kertas yang terdapat jejeran tulisan tangan Zaki yang rapi. Zaki telah memberinya kesempatan, meskipun hanya sedikit, tapi Lili akan terus berjuang, berjuang, dan berjuang. Seperti yang dikatakan kebanyakan orang, karena cinta memang butuh perjuangan.
Rizki menoleh ke Lili yang sedang senyum-senyum sendiri sambil melihat secarik kertas, membuat rasa penasaran Rizki muncul. Rizki mendekatkan kepalanya ke Lili dan mencoba untuk mengintip isi kertas itu. Tapi Lili dengan segara menjauhkan dan menyimpannya kembali.
"Apaan tuh?" Tanya Rizki.
Lili menggeleng dengan cengiran lebarnya, membuat Rizki gemas. Rizki mencubit pipi Lili dan tersenyum lebar saat melihat wajah kesal Adiknya.
"Bang, yang bawa gue ke sini siapa?" Tanya Lili.
Rizki menunjuk dadanya dengan bangga dan menaik turunkan alisnya.
"Lah kok bisa?" Tanya Lili heran. Seingat Lili, Rizki tidak bisa di hubungi saat ia menelpon. Tapi mengapa bisa Rizki membawanya kemari?
"Ya bisalah. Apasih yang Bang Iki gak bisa?" Ucap Rizki dengan senyum lebarnya membuat Lili memutar bola matanya jengah.
"Lo nggak bisa dapetin pacar." ucap Lili yang lebih tepatnya sindiran.
Rizki memang belum memiliki pacar, dan hal itu membuat Lili heran. Rizki termasuk tampan, dia juga pintar, dan masih banyak yang bisa membuat kaum hawa tergila-gila kepada Rizki. Tapi Rizki masih belum memiliki pacar, kadang Lili takut kalau Abangnya adalah gay.
"Nyindir?" Ucap Rizki sambil menarik sudut bibirnya ke kanan membuat wajah tampannya terlihat konyol dan Lili tertawa renyah melihat wajah Rizki.
"Kadang gue takut kalau lo gay bang." ucap Lili yang membuat Rizki melotot seketika.
Tawa Lili langsung menggelegar kala melihat wajah kesal Rizki. Lalu Lili membekap mulutnya dengan telapak tangan, menahan tawa saat menyadari bahwa dirinya sedang berada di ruang UGD yang berisikan orang sakit dan butuh ketenangan.
"Hm, puas lo ngejeknya?"
Lili mati-matian menahan tawanya agar tidak pecah dan menggangu ketenangan yang ada.
"Tadi Yola telpon gue, katanya lo sakit. Gue buru-buru ke sekolah lo deh." jawab Rizki dengan menyendarkan punggungnya di kursi dan menatap Lili yang sedang meredam gelak tawanya.
"Lo ke sekolah naik apaan?" Tanya Lili dan bibirnya sedikit berkedut, tawanya masih belum berhenti dan rasanya ia ingin berguling-guling di lantai sambil tertawa dengan keras.
"Naik karpet Aladin." jawab Rizki asal.
Lili menutup wajahnya dengan bantal. Pundak dan juga bantalnya berguncang naik turun karena tawa Lili. Lili menjauhkan bantal dari wajah dan memegangi perutnya yang agak sakit karena tertawa.
Rizki menatap Lili yang sedang tertawa dengan senyum tipis. Tapi saat mengingat kejadian tadi membuat senyumnya hilang. Jika Lili tau bahwa yang menolongnya terlebih dahulu adalah Zaki. Entah yang akan di perbuat oleh Lili. Yang jelas Lili akan sangat senang dan mungkin akan melakukan hal yang tanpa di sadari akan menyakiti dirinya sendiri.
Tak lama, Dr. Oscar datang sambil tersenyum kepada Lili dan Rizki. Rizki berdiri dari duduknya dan Dr. Oscar berdiri di sebelah Rizki.
"Kayaknya kamu udah sehat banget ya?" Tanya Dr. Oscar kepada Lili.
Lili langsung mengagguk antusias dengan senyum lebar, membuat deretan gigi putih nan rapinya terlihat.
Dr. Oscar memeriksa keadaan Lili sekali lagi, lalu melepas infus Lili. Rizki hanya memperhatikan dan berharap supaya Adiknya baik-baik saja dan di perbolehkan pulang. Karena Rizki sangat paham bahwa Adiknya itu sangat tidak menyukai rumah sakit, meskipun rumah sakit sudah seperti rumah kedua bagi Lili.
"Keadaan kamu sudah stabil dan kamu boleh pulang." ucap Dr. Oscar membuat senyum Lili mengembang.
"Tapi ingat, jangan sampai telat makan dan minum obat. Kamu pasti bisa sembuh Lili." ingat Dr. Oscar dengan senyum manis dan Lili balas mengangguk dengan senyum yang tidak luntur menghiasa wajah cantiknya.
"Kalau begitu saya permisi dulu." pamit Dr. Oscar
"Terima kasih Dok." ucap Rizki. Dr. Oscar mengangguk dan pergi dari ruang UGD.
Lili berusaha turun dari ranjang. Dengan sigap Rizki langsung membantu Lili dan memapahnya agar Lili tidak kesusahan berjalan, karena Lili masih lemas. Rizki dan Lili pulang menggunakan taksi.
Sesampainya di rumah, Lili langsung di sambut dengan pelukan hangat Lusi dan pandangan cemas Adrian, Papanya.
"Kamu nggak papakan sayang?" Tanya Lusi dengan cemas dan mendudukkan Lili di sofa ruang tamu. Lili di himpit oleh Adrian dan Lusi, sedangkan Rizki duduk di depannya.
"Kata Dr. Oscar Lili nggak papa. Cuma maagnya kambuh dan tadi lupa minum obat." jelas Rizki sambil menyandarkan punggungnya di sofa dan memakan apel yang entah sejak kapan berada di meja.
"Mangkannya kalau di bangunin itu jangan susah. Sekarang apa akibatnya? Kamu lupa sarapan dan minum obatkan?" Ucap Lusi sangar dengan berkacak pinggang menatap Lili.
Lili mengerucutkan bibirnya dan memeluk Adrian, meminta perlindungan dari ocehan sang Bunda. Adrian menggelengkan kepalanya. Membalas pelukan Lili dengan erat dan mengecup puncak kepalanya. Adrian memang jarang pulang karena bisnis, tapi saat mendapatkan kabar bahwa salah satu anggota keluarganya sedang sakit, Adrian langsung pulang. Tak peduli jika harus meninggalkan rapat penting sekali pun, karena keluarga adalah segalanya.
"Kamu nggak papa sayang?" Tanya Adrian.
Lili mendongak, lalu mengangguk dengan senyum manis membuat Adrian gemas. Adrian mencubit kedua pipi Lili lalu mengecup pipi kanan Lili.
"Ma," rengek Lili kepada Lusi. Rizki menahan tawa saat melihat Adiknya yang begitu manja.
"Ape?" Tanya Lusi cuek.
Tawa Rizki langsung pecah saat itu juga. Lili menoleh ke Rizki dan melotot ke Rizki.
"Laper," rengek Lili sekali lagi.
"Siapa suruh tadi pagi nggak makan, seka---" ocehan Lusi terpotong dengan ucapan Adrian.
"Udah Bun, ambilin Lili makan. Kalau nunggu Bunda selesai ceramah kapan Lilinya makan Bun?" Ucap Adrian membuat Lili dan Rizki tertawa. Sedangkan Lusi langsung menoleh ke Adrian dan menatapnya tajam, membuat Adrian menelan salivanya kasar.
Habis sudah riwayatnya.
"Oh gitu. Jadi Papa ngatain Bunda cerewet iya?" Ucap Lusi sambil berkacak pinggang dan menatap tajam Adrian.
Rizki dan Lili memutar bola matanya jengah. Mereka lebih memilih berdiri dan meninggalkan ruang tamu yang akan terjadi perang dunia ke sepuluh. Lili dan Rizki menuju dapur dan mencari makanan untuk cacing-cacing di perut mereka yang sudah mendemo meminta diberi makanan.
Lili dan Rizki mengambil nasi dan lauk pauk yang sudah di masak Lusi tadi pagi, tapi belum sempat mereka makan karena Lili yang terlambat bangun. Mereka makan dengan di selingi celotehan dan gelak tawa. Tak jarang Lili dan Rizki tersedak karena tawa mereka disela-sela makan.
Setelah selesai makan, Lili menaiki tangga dengan Rizki yang membantu menopang tubuhnya. Meskipun Lili ingin berjalan sendiri, tetapi Rizki bersikeras mambantu Lili. Lili bersyukur, ia memiliki saudaranya yang sangat menyayanginya.
Lili menatap langit-langit kamarnya yang berwarna biru muda. Lalu memeluk gulingnya, menghadap ke samping dan mengambil ponselnya yang berada di nakas.
ZakkiIzza
Zak!
Makasih ya tadi rotinya :)
Itu tadi roti terenak yang pernah aku makan loh :v
Love you Zak :*
Lili tersenyum kecil kala mengingat kejadian tadi pagi. Meskipun ia harus masuk ke rumah sakit, tapi Lili mendapat imbalan yang menurutnya indah.
Yola Permata
Li!
Lo gapapakan?
Ecciii khwatir ciee!
Pak!
Gak boleh ngomong kasar Yola. Istigfar!
Astagfirullah.
Gitu napa. Tiru dong Lili yang polos.
Lo bukan polos, tapi abstrak.
Ngejek lo?
Bukan. Tapi nyinyir :)
Emot tolong di kondisikan.
Gue nanya serius anjir.
Lo gapapakan??
Iya gue gapapa.
Gue kan seterong
Setress tak tertolong.
Nah itu lo tau :v
Udah sono istirahat lo.
Idih, siapa gue lo nyuru-nyuru. Pacar aja bukan.
Gue masih punya otak buat jadi pacar lo.
Kamu kok gitu sib beb.
Bebek??
Ya itu loh.
Salam jari tengah.
Salam jari manis, semanis aku.
Pahit hoy pahit.
Udahlah serah. Gue mau bocan.
Bhayyyy
Lili tersenyum senang sambil memeluk gulingnya erat. Lili merubah posisinya menjadi tengkurap. Tersenyum malu, lalu menenggelamkan wajahnya di bantal. Hari ini adalah hari kelahiran semangat Lili. Semangat untuk mendapatkan Zakinya yang dulu.
----
Zaki sedang memandang keluar jendela, menghiraukan penjelasan dari Bu Sukma yang sedang menerangkan di depan. Zaki mendesah pelan, lalu merogoh sakunya. Dia mengeluarkan ponselnya, menunduk dan memainkan ponselnya.
Bukan game yang umunya dilakukan banyak orang, melainkan melihat chat Lili yang membuatnya tersenyum tipis. Meskipun dia tidak pernah membalas chat Lili, tapi Lili tetap mengirimkan pesan kepadanya. Membuat hari-hari Zaki terasa sedikit lebih manis.
"Kehabisan obat?" tanya salah satu suara yang berasal dari sebelah Zaki dengan berbisik.
Zaki derdecak sebal dan melirik tajam sahabatnya itu.
"Overdosis," jawab Zaki asal membuat Bima manggut-manggut dengan bibir yang berbentuk'o'
"Bu saya izin ke toilet." ucap Zaki yang sudah berdiri dari duduknya. Membuat Bu Sukma berhenti menerangkan, menoleh ke Zaki lalu mengangguk.
Zaki berjalan di koridor sekolah dengan ke dua tangan yang dimasukkan ke dalam saku celananya. Langkahnya terhenti di depan kelas IPA 3, kelas Lili. Zaki menatap kursi Lili yang kosong, hanya ada tas berwarna biru di sana, dan di sebelahnya ada Yola yang sedang menulis.
Tak sengaja, mata Yola dan Zaki bertemu. Zaki menatap dingin Yola, sedangkan Yola menatap Zaki dengan pandangan senang. Yola berpikir bahwa Zaki sedang memperhatikannya.
Yola tersenyum manis ke arah Zaki. Sedangkan Zaki, dia mengangkat satu alisnya lalu berlalu pergi. Binar bahagia di wajah Yola langsung hilang seketika. Digantikan dengan wajah muram dan juga hatinya yang terasa sakit. Yola bangkit berdiri dan izin ke toilet kepada Pak Abdul.
Yola berdiam diri di balik bilik toilet sembari menenangkan pikirannya. Saat ia beranjak akan meninggalkan toilet, suara bisikan dari siswa lain menghentikan langkahnya.
"Lo tau Kak Lili anak kelas 11 IPA 3?" ucap salah satu suara. Yola yang tadinya ingin meninggalkan toilet menjadi urung dan lebih memilih mendengarkan gosip adik kelasnya dari balik bilik toilet itu.
"Oh yang pacarnya Kak Zaki itu?" Tanya salah satu suara.
"Gue ragu kalau dia itu masih pacarnya Kak Zaki." jawab suara tadi.
"Gue sih percaya percaya aja. Secara Kak Zaki ganteng, Kak Lili juga cantik."
"Tapi gue denger Kak Zaki udah punya pacar lagi."
kalimat itu membuat mata Yola membulat seketika. Jantungnya berdegup lebih kencang dan perasaan takut melingkupinya.
"Siapa emang pacar barunya?"
"Katanya sih Yola anak kelas 11 IPA 3 juga."
Dan kalimat itu sukses membuat Yola berkeringat dingin. Jika sampai gosip ini sampai ke Lili. Maka hancur sudah semuanya.
Yola tidak kuat berada di toilet itu lagi. Ia lebih memilih keluar. Saat Yola keluar. Adik kelas yang tadinya menggosipkannya langsung terdiam. Yola gelisah bukan main. Ini tentang persahabatan yang sudah ia bangun dengan Lili selama 4 tahun. Dari SMP hingga sekarang.
Dan 4 tahun itu kini akan hilang dan hancur. Seakan tidak pernah ada. Hanya karena permainan bodoh Zaki. Yola marah, gelisah, takut, dan sedih. Yola ingin marah. Tapi Yola akan marah ke siapa? Kepada Lili? Kepada Zaki yang sudah membuat permainan ini? Apa kepada cinta? Karena kekacauan ini bermula dari perasaannya sendiri.
Andai Yola tidak memiliki perasaan itu untuk kekasih sahabatnya sendiri. Mungkin sekarang tidak akan seperti ini. Mungkin Yola dan Lili akan bersahabat tanpa di hantui rasa takut akan kehilangan salah satunya. Tapi mau di katakan apa lagi. Rasa itu sudah muncul dan kini menjadi bencana. Bencana bagi persahabatan mereka.