Suara klaskson di tengah gemerlap lampu malam. Semilir angin, dan langit gelap yang ditaburi bintang-bintang, menemani gadis yang sedang duduk di balkon kamarnya. Sambil memejamkan mata, gadis itu menikmati hembusan dinginnya angin malam.
Gadis itu menangis dalam diam, bibirnya tak mampu berucap, matanya tak mampu lagi mengeluarkan air mata, karena dirinya sudah terlalu lelah. Lelah menghadapi semua yang sedang terjadi.
Tapi, ia tak ingin menyerah kepada takdir begitu saja. Ia berjuang melawan takdir yang kejam, mencoba memenangkan dan membawa takdirnya yang indah.
"Dek,"
Panggilan itu membuat lamunannya buyar. Ia membuka mata, menghembuskan napas dan memasang topeng cerianya. Ia berbalik dan menatap Abang tercintanya dengan senyum manis seolah ia tidak memiliki masalah.
"Ngapain malem-malem di balkon. Nanti lu sakit. Ayo masuk!" suruh orang itu, Rizki kepada adiknya, Lili.
"Ah elah. Masih juga jam 7 udah lu kate malem." jawab Lili membuat Rizki berkacak pinggang menatapnya.
"Kan ini udah gelap. Berarti ini udah melem."
Lili membalikkan badan, lalu memandang Rizki dengan tatapan jengah. Mencoba untuk mengatai Rizki yang sudah mengeluarkan candaan garing.
"Mong ma siapa lu?" ejek Lili dengan cengiran khasnya.
Rizkiyang gemas, langsung mengacak-acak rambut Lili. memberantakkan rambut Lili yang sebelumnya sudah berantakan karena angin malam.
"Rambut kece badai gue," ucap Lili sambil membena rkan rambutnya yang berantakan karena Rizki.
Rizki terkekeh, dia membantu Lili merapikan rambutnya, lalu mengecup dahi Lili sayang. Lili yang merasa sedikit kedinginan, masuk ke dalam dekapan hangat Rizki.
Dekapan yang membuat Lili merasa hangat. Dekapayan yang membuat Lili merasa terlindungi. Dekapan yang membuat Lili merasa pantas untuk memperjuangkan hidupnya. Hanya dekapan Rizki.
"Dek gue kan udah bilang. Kalau lu sedih atau punya masalah, dateng ke gue. Jangan di pendem sendiri. Gue ini abang lo, jadi gue berhak tahu keluh kesah lo." ucap Rizki yang hanya dibalas anggukan oleh Lili.
Lili lebih memilih diam dan menikmati hangatnya pelukan Rizki.
"Lili ada temen kamu di bawah!" teriak Lusi dari bawah. Lili mengernyitkan dahi bingung. Siapa yang datang? Bukannya Yola baru saja pulang?
Satu pemikiran membuat harapan Lili melambung tinggi dan senyum lebarnya terbit. Rizki mengangkat satu alisnya melihat ekspresi Lili. Lili langsung berlari turun meninggalkan Rizki. Sedangkan Rizki yang sudah paham dengan pemikiran Lili ikut menyusul Lili. Rizki tau, Lili pasti berpikir bahwa yang datang adalah Zaki.
Lili menuruni tangga dengan semangat menuju ruang tamu, tapi sesampainya di ruang tamu membuat harapannya hancur seketika. Senyum lebarnya kini hilang, hatinya sakit karena harapannya hancur begitu saja.
Pasalnya, yang Lili harapkan datang menjenguk adalah kekasihnya, Zaki. Tapi malah sahabatnya yang datang, Bima. Lili mencoba menutupi kekecewaanya dengan senyum manis, lalu berjalan menghampiri Bima. Rizki yang melihat dari atas menghela napas, dia amat sangat paham jika adiknya sedang kecewa.
Tapi menurut Rizki, itu lebih baik. Karena jika Zaki datang, akan membuat Lili semakin sulit melupakannya. Bukan maksud Rizki untuk melarang atau menghalang-halangi hubungan mereka. Tapi Rizki tidak suka kepada Zaki, karena Zaki telah menyakiti adik tersayangnya. Dia benar-benar tdak terima, adik yang mati-matian dia buat bahagia. malah dibuat menangis setiap malam oleh Zaki.
Rizki beranjak dari tempatnya berdiri dan lebih memilih untuk masuk ke kamar.
"Hai Lili. Lo udah baikan?" tanya Bima kepada Lili.
Lili mengganguk dengan tersenyum manis, senyum yang mampu membuat semua kaum adam tergila-gila.
"Lu ngapain ke sini malam-malam kak? Sohib lu mana?" tanya Lili dengan agak canggung.
Ia juga sebenarnya tidak begitu nyaman jika harus menanyakan kabar Zaki lewat Bima.
"Zaki? Di gigit kucing dia." Jawab Bima asal, tapi entah kenapa lelucon garing itu membuat Lili tertawa.
"Nih gue bawain lu mie ayam," ucap Bima sambil menyodorkan sebungkus mie ayam sambil menaik turunkan alisnya.
Tanpa ba bi bu, Lili langsung mengambilnya dan memandanginya dengan senang.
"Makasih ya kak, bentar gue pindah ke mangkuk dulu." ucap Lili lalu beranjak menuju dapur.
Lili masuk ke dalam dapur dan memindahkan mie ayamnya ke mangkuk. Tiba-tiba Lusi masuk ke dalam dapur sambil membawa sebuah kotak.
"Dek ini tadi ada yang ngirim buat kamu. Tapi nggak tau dari siapa," ucap Lusi.
Lili menoleh ke Lusi dan melihat kotaknya. Ia tidak begitu teratarik dengan apa yang berada di dalam kotak itu, karena ia ingin segera menyantap mie ayam di depannya sampai habis.
"Oh iya makasih Ma. Nanti Lili buka kotaknya di kamar aja." ucap Lili lalu meninggalkan dapur.
Lili masuk ke dalam kamarnya sebentar untuk menaruh kotaknya lalu kembali turun ke bawah. Ia mengambil dua mangkuk yang berisikan mie ayam itu ke dalam ruang tamu. Mata Lili memincing saat melihat Bima duduk manis. Biasanya, jika Bima bertandang ke rumahnya. Dia tidak akan bisa diam, aja saja hal aneh yang dia lakukan.
"Ini buat gue dua-duanya kan?" tanya Lili sambil menaruh dua mangkok mie ayam di atas meja.
Bima tersentak dari lamunannya, lalu menatap Lili. Tatapannya turun ke dua mangkuk berisi mie ayam yang ada di atas meja.
"Maruk lu. Buat gue satu elah." jawab Bima.
Lalu mengambil salah satu mangkuk berisikan mie ayam itu, lalu langsung melahapnya.
"Ya elah jadi lu kesini cuma numpang makan?"
Bima menaik turunkan alisnya dan tersenyum lebar, membuat Lili menggelengkan kepala. Tidak habis pikir dengan pemikiran Bima yang begitu aneh. Tidak ingin mengambil pusing akan tingkah laku Bima, Lili segera melahap makanan favoritnya itu dengan diam dan khidmat. Tak butuh waktu lama baginya untuk membuat mangkuk berisi mie ayam itu bersih.
Bima yang melihat mangkuk Lili sudah bersih tak tersisa ternganga. Padahal tadi dia makan duluan di bandingkan Lili, tapi Lili sudah habis terlebih dahulu.
"Gila. Itu perut apa karet. Daya tampungnya banyak amat."
Lili hanya tersenyum lebar lalu meminum minumannya. Bima menghabiskan mie ayamnya yang terisa sedikit lalu minum.
"Emm kak. Zaki masih marah ya sama gue?" tanya Lili dengan ragu-ragu.
Bima menatap Lili, Bima sangat paham bahwa lili sakit hati. Tapi tidak ada yang bisa melawan ego Zaki.
"Lo yang sabar ya Li, lo taukan Zaki itu anaknya gimana." ucap Bima dengan lembut.
Lili mencoba tersenyum di tengah kekecawaan yang sedang di rasakannya.
"Eh gue pulang dulu ya, udah malem nih." Ucap Bima setelah melirik jam tangannya.
"Bagus ya, udah kenyang langsung pulang." ucap Lili berniat menggoda Bima.
“Oh jadi lu mau gue disini lebih lama?” Goda Bima, dia tersenyum lebar saat melihat Lili menggeleng tegas. Lalu beranjak berdiri dan berpamitan.
Lili mengantar Bima sampai di depan rumah. Bima menaiki montor ninjanya lalu memakai helm. Dia sudah menyalakan mesin motornya, tapi tiba-tiba ide jahil muncul di benaknya.
"Li kesini sebentar deh, Gue bisikin sesuatu." ucap Bima tanpa melepas helmnya.
Lili dengan polosnya mendekat ke Bima. Bima mendekat wajahnya ke telinga Lili dan mengatakan sesuatu. Lili menyipitkan matanya lantaran tidak paham dengan apa yang di katakan Bima. Bima sengaja memang, tidak melepas helmya dan berbisik-bisik kepada Lili.
"Eh dugong. Kalau mau bisik-bisik itu lepas dulu helmnya.” ucap Lili kesal lalu memukul helm Bima.
"Ah lo pasti gak denger ya gue tadi bilang apa. Sayang banget, cantik-cantik bolot." ejek Bima yang berakhir dengan tawa lepasnya.
Lili merasa kesal dan lucu. Ia ikut tertawa merutuki kebodohannya. Tawa lepas yang seakan-akan tidak ada beban. Bima berhenti tertawa dan menatap Lili yang sedang tertawa.
Sangat cantik.
Bima tersenyum manis, tanpa Bima sadari tangan Bima mengelus kepala Lili membuat Lili berhenti tertawa dan menatap Bima heran.
"Jangan sampai senyum lo luntur ya Li," ucap Bima.
Lili menatap mata Bima, terdapat ketulusan dikata-katanya. Lili mengangguk dengan senyum kikuk.
"Gue pulang dulu ya. Jangan kangen loh," goda Bima lalu melajukan motornya meninggalkan rumah Lili.
Lili masih diam di tempat, perlukaan Bima tadi, mengingatkannya akan Zaki. Rasa rindu yang tadinya hilang karena kehadiran Bima, kini perlahan memenuhi relung hatinya. Lagi, dan selalu, Lili merindukan Zakinya. Yang selalu membuatnya tertawa seakan-akan hidupnya tidak memiliki beban.
Lili mengehumbaskan napas beratnya perlahan, lalu masuk ke dalam rumah. Saat sampai di kamar, Lili melihat kotak yang diberikan Lusi tadi. Lili membuka kotak itu dengan perlahan, tidak ada nama pengirimnya.
Dan ternyata, berisi sebuket bunga dan buket coklat. Mata Lili berbinar. Ada kartu ucapan juga. Lili mengambilnya dan berharap bisa mengetahui siapa pengirimnya.
Jangan sakit lagi!
Miss you.
Hanya dua kalimat, tidak ada nama pengirim, dan juga Lili tidak bisa menganali tulisnnya. Karena itu di cetak, bukan di tulis tangan. Lili menepis rasa penasarannya, yang jelas dia adalah orang terdekat Lili. Buktinya dia tau kalau Lili sakit.
Di tempat lain.
Seorang pemuda tampan sedang berdiri di pinggir jendela dengan menatap layang ke depan. Tangannya memegang ponsel dan menunggu kabar yang di tunggunya sedari tadi. Dia mengecek ponselnya sekali lagi, berharap ada pesan dari orang yang sedang di tunggunya.
Meskipun wajahnya datar, tapi tidak bisa di pungkiri bahwa ada sorot khawatir di matanya. Gadis yang biasanya mengirim pesan dengan celotehan tidak jelasnya kini tidak mengirim pesan semenjak siang tadi, dia juga khawatir akan kesehatan gadis itu.
Drt...drt...drt....
Ponsel bermerk apel itu kini berada di telinga kanannya, mendengar kabar dari orang suruhannya.
"Saya sudah mengantar paketnya Tuan."
"Siapa yang menerima paketnya?" tanya pemuda itu dingin.
Pemuda itu menyisir rambut hitamnya kebelakang, mencoba mengalihkan rasa khawatirnya. Namun jelas terlihat dari sorot matanya yang tajam, bahwa dia sangat gelisah.
"Sepertinya Nyonya Lusi." jawab orang kepercayaannya di sebrang sana.
Pemuda itu langsung menutup telponnya tanpa sepatah katapun.
Sekeras apapun hatinya, sebesar apapun keinginan balas dendamnya kepada Lili, runtuh seketika saat melihat wanita yang sangat di cintainya jatuh sakit dan dia sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya berani mengawasi gadis pujaan hatinya dari jauh. Karena egonya sebesar rasa cintanya. Dan kebencian membutakannya.