Malam ini. Langit sangat gelap. Tanpa gemerlap cahaya bintang. Bulan pun enggan menampakkan sinarnya. Dia lebih memilih bersembunyi di balik awan hitam. Angin malam dengan dingin yang menusuk kulit, berhembus kencang memberantakkan rambut gadis cantik yang berdiri termenung di balkon kamarnya.
Mata indahnya menatap gemerlap malam kota Jakarta dengan pandangan kosong. Air mata yang mengalir, seolah membuat bintang dan bulan enggan menampakkan sinarnya. Sehingga gadis itu semakin merasa kesepian.
Ia ingin mengeluh, mengeluh kepada malam hari yang begitu gelap. Berharap keluh kesahnya tersampaikan kepada sang pencipta segalanya.
Ia ingin mengeluh, atas takdir yang mempermainkannya.
Ia ingin mengeluh, atas kehidupan yang menciptakan seribu luka.
Ia ingin mengeluh, atas cobaan yang seolah tak ada habisnya ini.
Tapi ia sadar. Sia-sia saja ia mengeluh.
Yang harus ia lakukan hanyalah pasrah, dan menjalani semua ini dengan ikhlas.
Walau dirinya sudah hancur berkeping-keping, tapi ia akan tetap berjuang.
Sampai titik terlelahnya.
Drt... Drt....
Dering handphone yang menandakan ada pesan masuk itu membuyarkan semua lamunannya. Dengan berat hati. Ia membuka pesan dari seseorang yang telah menghancurkan segalanya malam ini.
Yola permata
Li...
Gue minta maaf. Gue tau gue salah. Gue udah keterlaluan. Tapi gue akan lakuin apapun demi persahabatan kita balik lagi. Gue bakal mutusin Zaki. Asal lo bisa maafin gue, apapun itu akan gue lakuin.
Gue tau lo nggak bakal bisa maafin gue. Tapi seenggaknya kasih gue kesempatam buat ngejelasin juga memperbaiki semuanya Li. Gue mohon...
Lili membaca baik-baik kalimat yang ada di layar ponselnya. Membuatnya kembali merasakan sakit yang tiada tara. Lili menyenderkan punggunya di dinding, menutup mulutnya agar suara isakannya tidak keluar. Badannya meluruh bersamaan dengan air matanya yang semakin deras. Dadanya terasa sakit, juga sesak.
Ia membuka galeri, memandangi foto kebarsamannya bersama sahabat tercintanya. Mengingat semua kenangan manisnya. Bertahun-tahun mereka melalukan apapun bersama, susah senang bersama. Tapi, semuanya sudah hancur hanya dalam waktu kurang dari 2 jam, semua hancur hanya karena cinta.
"Mereka bilang cinta itu indah, tapi mengapa yang aku rasakan hanyalah sebuah rasa sakit yang tiada ujung?"
Lili bertanya pada dinginnya malam. Meminta jawaban atas pertanyaan yang tak pernah terjawab. Kesedihan dan luka yang amat mendalam membuat tubuh Lili seakan mati rasa. Sampai ia tidak menyadari darah yang keluar dari hidungnya. Dadanya terasa sesak. Tapi yang di rasakannya hanyalah perih di dadanya. Kepalanya sakit seakan di benturkan ke tembok berkali-kali, tapi yang terasa hanya kenangan pahit yang berputar di kepalanya bagai kaset rusak.
Perlahan, pandangannya kabur. Ia mendongak. Menatap lagi kelamnya malam disisa kesadarannya. Menatapnya sendu, meminta belas kasih. Ia, sudah tidak kuat. Dan semuanya menjadi gelap gulita seiring hilangnya kesadaran Lili.
----
Sinar matahari yang menerobos lewat celah jendala, membuat gadis yang terbaring lemah di ranjangnya itu mengernyit. Tapi masih enggan membuka matanya, terasa seperti ada lem yang mencegah matanya terbuka.
Seseorang dengan badan tegap dan mengenakan seragam sekolah masuk kedalam kamar itu dan menghela napas sebentar. Dia memandang lekat gadis yang sedang tertidur lelap itu. Sebenarnya dia tidak tega membangunkannya mengingat kejadian semalam. Tapi dia harus membangunkannya.
"Dek. Ayo bangun dulu. Lu harus minum obat." ucapnya sambil mengelus rambut gadis itu. Gadis itu perlahan membuka matanya, mengerjap berkali-kali untuk mengumpulkan nyawanya yang masih belum lengkap.
Gadis itu mencoba duduk dan pemuda itu membantunya menyender di kepala ranjang. "Ini jam berapa bang?" tanyanya sambil mengucek mata.
"Jam setengah 6. Lu minum obat dulu ya. Kemaren kok bisa sih sampe ngedrop? Kenapa? Cerita sama abang." ucap pemuda itu sambil mengelus rambut gadis itu lembut.
Gadis itu tersentak, ia jadi mengingat kejadian semalam. Rasanya masih sama menyakitkan seperti semalam. Ia terlalu larut dalam kesedihannya sampai membuatnya drop. Gadis itu menggeleng pelan sebagai jawabannya.
"Yola kemaren malem kemana? Ga jadi nginep sini?" tanya pemuda itu lagi, Rizki. Yang membuat gadis di depannya itu semakin merasakan sesak. Ia sangat sedih mengingat sahabatnya itu.
"Nggak. Dia kemaren pulang. Ada kerabatnya yang dateng," jawabnya berbohong.
Gadis itu, Lili, menundukkan kepalanya. Ia menghembuskan napas perlahan lalu menganggkat kepalanya. Ia turun dari ranjang membuat Rizki bingung.
"Mau kemana dek? Lu harus istirahat." ucap Rizki.
Lili membuka lemari tanpa menoleh ke Rizki. Karena air matanya sudah menetes tanpa di komando. Lili menghapus kasar air matanya. Ia benci dirinya yang ini. Dirinya yang cengeng.
"Ga bang. Lili harus sekolah. Lili pengen sekolah." ucap Lili lalu masuk ke kamar mandi.
Rizki menghembuskan napas pasrah lalu keluar dari kamar Lili.
Lili turun dengan seragam yang sudah tertata rapi dan tas sekolah di punggungnya. Lili duduk di sebelah Rizki dengan senyum manis seperti biasanya. Lusi, Adrian, dan Rizki balas tersenyum, walau mereka tau. Lili hanya memasang senyum palsu, membohongi semua orang seakan dirinya baik-baik saja.
"Nih kamu makan terus minum obat. Kemaren sampe drop lagi gitu. Nanti ga boleh kecapean lagi." ucap Lusi sambil menyodorkan sepiring nasi goreng dan obat Lili. Lili menerimanya dengan senyum kuda seakan tidak bersalah.
"Nanti pulang bareng gue." ucap Rizki.
Lili dengan mulut penuh menatap Rizki heran. "Lah? Kan biasanya gue pulang di jemput Mang Ujang. Lu juga emang pulangnya bareng ama gue. Nggak kan?" Ucap Lili sambil melanjutkan makannya.
"Lo gak liat gue sekarang pakek seragam yang sama kayak lo. Gue sekarang satu sekolah sama lu." ucap Rizki santai, lalu dia mengambil tisu untuk bersiap-siap.
Lili yang sedang minum langsung tersedak dan menatap horor Rizki. Rizki terkekeh, lalu mengelap bibir Lili yang belepotan. Baru saja Lili bersiap mengomeli Rizki, Rizki terlebih dulu menakan tisu di mulut Lili membuat Lili meronta.
"Ih bang kok lo pindah di sekolah gue sih?"
"Lah serah gue lah." jawab Rizki acuh lalu berdiri dan berjalan menuju ruang tamu.
Lili menggembungkan pipinya kesal. Pasti sekarang ia akan selalu di pantau oleh Rizki.
"Abang kamu pindah agar lebih gampang jagain kamu sayang." ucap Lusi.
Lili hanya mengangguk sambil menghabiskan sarapannya. Setelah habis. Lili beranjak dari duduknya dan berpamitan. Rizki pun ikut berpamitan lalu mereka berangkat sekolah bersama. Walau Lili sempat menolak, tapi bukan Rizki namanya jika tidak bisa membujuk adiknya itu.
Semua pasang mata menatap Lili dan Rizki yang sudah sampai di parkiran sekolah. Lili turun dari motor ninja Rizki lalu menghembuskan napas kesal, pasalnya kini semua mata tertuju ke arahnya. Saat Rizki membuka helm, para gadis memekik kesenangan. Lili hanya menggembungkan pipi kesal lalu berjalan mendahului Rizki.
"Eh dek tungguin." ucap Rizki lalu mengejar Lili.
Saat langkahnya sudah sejajar dengan Lili, Rizki menggenggam tangan Lili membuat para gadis itu berteriak histeris.
“Alhamdulillah stok cogan bertambah.”
“Kak Bima maaf ya, kali ini aku mendua.”
“Wow badannya mantap tuh buat di grepe-grepe.”
“Gantengnya nggak ngotak.”
“Damagenya bukan main.”
Lili menatap Rizki sebal, tapi ia tidak bilang apa-apa dan membiarkan Rizki menggenggam tangannya, karena percuma saja berdebat dengan Rizki. Pagi-pagi begini Lili malas harus menguras tenaga dengan berdebat.
Banyak yang berbisik-bisik dan mencibir Lili. Mereka mempertanyakan status Lili yang masih menjadi pacar Zaki, tapi mengapa pagi ini Lili di gendeng cowok lain. Lili menunduk menyembunyikan sedihnya. Ia sedih dengan fakta bahwa ia adalah pacar Zaki, masih sangat mencintai Zaki, tapi ia dikhianati.
Rizki yang melihat Lili sedih menggenggam kuat tangan Lili. Lili mendongak dan menatap Rizki. Rizki tersenyum seakan memberi kekuatan agar Lili lebih kuat, dan cara itu selalu berhasil membuat Lili bertahan sampai sejauh ini.
Senyum Rizki yang dia tujukan untuk Lili, malah membuat semua gadis disana berteriak histeris. Rizki meringis pelan mendengar teriakan mereka.
Suara sebuah motor tiba-tiba membuat langkah Lili terhenti. Rizki juga ikut berhenti dan menatap Lili.
"Kenapa dek?" tanya Rizki bingung.
Lili tidak menjawab pertanyaan Rizki. Ia malah menoleh ke belakang, dan menatap nanar pemandangan di depannya.
Rizki ikut melihat ke arah yang di tatap Lili. Amarahnya memuncak seketika. Bagaimana bisa? Orang yang sangat di cantai Lili dan juga sahabat yang sangat Lili sayangi berangkat bersama? Datang bersama ke sekolah dengan bergandengan tangan? Apa mereka tidak memikirkan perasaan Lili?
Untuk Zaki. Rizki tidak terlalu memusingkannya. Tapi Yola? Sahabat Lili. Bergandengan dan berangkat bersama dengan kekasih Lili? Rizki tak habis pikir.
Desas desus siswa lain mulai terdengar. Mereka mempertanyakan apa yang terjadi. Zaki kekasih Lili, bergandengan tangan bersama sahabat Lili?
Dan Lili, bergandengan tangan dengan cowok lain?
Yola yang sedari tadi berjalan menunduk, ia malu dengan pandangan semua murid yang tertuju padanya dan Zaki. Tiba-tiba ia mendongak saat melihat sepatu Lili. Ia sangat terkejut. Pagi hari ini, akan dimulai dengan luka lagi.
"Li gue bis,"
"Jangan pernah lo deketin adek gue lagi." ucap Rizki tajam memotong perkataan Yola.
Dia menarik tangan Lili untuk menjauh dari dua orang yang sudah menyakiti seseorang yang sudah mati-matian dia bahagiakan. Namun mereka dengan begitu mudahnya membuat air mata jatuh dari mata indah adik semata wayangnya.