Lili menatap keluar jendela dengan pikirannya yang kacau, menghiraukan ocehan guru di depan. Lili menghembuskan napas beratnya perlahan. Matanya tidak sengaja melihat Yola yang sedang menatapnya, Lili hanya memandangnya dengan pandangan datar dan sangat dingin. Hingga membuat Yola tidak berani manatapnya lagi.
Ternyata benar kata pepatah "saat seorang yang sabar marah, itu akan sangat menakutkan." kurang lebih seperti itu. Dan Yola kini merasakannya. Lili yang biasanya tidak pernah marah dan selalu baik hati, kini tatapannya sangat menakutkan bagi Yola.
Yola kembali menatap depan, tidak punya nyali menatap lebih lama kebelakang, dimana terdapat Lili yang menatapnya datar nan dingin. Yola dan Lili sudah tidak lagi duduk sebangku, Yola tau Lili masih sangat marah kepadanya. Jadi ia memutuskan pindah ke bangku depan.
Bel istirahat berbunyi, Lili menghembuskan napasnya. Entah sudah berapa kali ia menghela napas hari ini, namun hanya itu satu-satunya cara agar sesak didadanya sedikit berkurang. Ini pertama kalinya Lili bosan dan tidak berkonsentrasi dalam pelajaran, karena bisa di katakan Lili adalah murid yang rajin.
Lili menjatuhkan kepalnya di atas meja, tidak berniat untuk meninggalkan kelas. Semua murid sudah keluar kelas, kecuali Yola dan Lili. Lili tidak menyadari keberadaan Yola karena ia terlalu larut dalam pikirannya.
Yola menatap nanar Lili, ia sangat ingin berbincang dan tertawa bersama Lili seperti dulu. Jika waktu bisa berputar, maka ia ingin memperbaiki semuanya. Tapi itu hanya "jika" yang tidak akan pernah jadi kenyataan.
Rizki masuk ke dalam kelas Lili dengan muka datar juga tangan yang di masukkan ke saku celana, membuat semua mata murid perempuan tidak bisa lepas dari Rizki. Rizki berjalan ke arah bangku Lili sambil terus menatap tajam Yola. Jika tatapan bisa membunuh seseorang, pasti Yola sudah mati di tempat. Yola tidak berani menatap Rizki, ia menunduk dan meremas ujung roknya.
Rizki sudah berada di sebelah meja Lili, tapi Lili masih belum menyadari keberadaan Rizki. Rizki mengelus lembut kepala Lili, tapi Lili masih tak kunjung merespon.
"Oy dek kesurupan ya lu?" tanya Rizki sambil mengguncang pelan pundak Lili, yang langsung membuat Lili duduk tegak.
"Eh apaan bang?" tanya Lili bingung.
Rizki menggelengkan kepala. Dia tidak menjawab pertanyaan Lili, tapi malah menggenggam tangan Lili lalu menariknya untuk berdiri. Hal yang biasanya mereka lakukan itu membuat seluruh murid perempuan memekik histeris.
Rizki meringis pelan, baru sehari dia bersekolah di SMAN Jakarta tapi telinganya sudah berdengung terus. Mungkin setelah ini dia harus pergi ke dokter THT. Lili berjalan dengan lesu, seolah tenaganya hilang terserap setiap tembok yang dilaluinya.
Rizki mendengus kesal. Dia tau apa yang dilalui adiknya ini sangat berat. Melihat orang yang sangat di cintainya berkhianat dengan sahabatnya sendiri, pasti sangat sakit. Di tambah semua cibiran yang kini di dapatkan Lili, membuat Rizki naik pitam.
Lili duduk sambil memainkan ponselnya di meja kantin. Lalu ia mendongak saat Rizki datang membawa dua mangkok mie ayam.
"Makasih ya bang. Tumben lu mau nraktir gua." ucap Lili sambil terkekeh, lalu mengambil mie ayam dan mulai memakannya.
"Lo ngomong gitu. Kayak gua abang yang pelit banget. Padahal lu sering banget malakin gua." balas Rizki sambil melempar Lili dengan tisu. Lili tidak menghiraukan ocehan abangnya itu, ia sedang asyik makan mie ayam.
"Spedaaa." sapa seseorang dan langsung duduk di sebelah Lili sambil membawa semangkok bakso.
"Spada tai." koreksi Rizki.
Orang itu hanya tertawa lalu melirik Lili. Ide jailnya tiba-tiba muncul saat melihat Lili begitu lahap memakan mie ayamnya.
"Eh Riz gimana sekolah di sini? Betah lu?" tanyanya sambil memakan baksonya.
"Gila telinga gue rasanya mau pecah." jawab Rizki sambil melanjutkan makan mie ayamnya. Karena belepotan, Rizki mengelap sudut bibirnya dengan ibu jarinya yang membuat seisi kaum hawa yang berada di kantin memekik histeris.
"Gila a***y seksi banget!"
"Cipok gue bang cipok gua! "
"Ya Allah. Nikmat mana lagi yang kau dustakan."
"Nikahin gua besok kak!!!"
Dan masih banyak lagi teriakan histeris yang membuat Rizki meringis.
"Noh Bim tau ndiri kan lu." ucap Rizki kesal.
Selera makannya tiba-tiba hilang. Dia menyingkarkan mangkuknya lalu meminum es teh.
Orang yang di panggil Bima tadi menertawakan wajah kesal Rizki. Dia menoleh lagi ke Lili yang sebentar lagi mie ayamnya akan habis. Bima tersenyum lalu mengambil sebuah sedotan yang berada di meja.
"Riz Riz. Kok bisa sih lu punya adek model kek gini," ucap Bima sambil menoel pipi Lili dengan sedotan.
Kenapa dengan sedotan? Karena di depannya sedang ada Rizki. Abang paling terkiller di dunia. Jika sampai dia melihat orang lain seenaknya saja memegang adik tersayangnya, maka bisa di pastikan orang itu dalam bahaya.
"Ngapain sih lu?" tanya Rizki heran.
Bima tidak menjawab. Dia asik menandangi Lili yang sedang makan mie ayamnya dengan lahap.
"Itu mata di jaga." ucap Rizki dengan nada penuh peringatan membuat Bima tersenyum gugup. Dia lebih memilih menghabiskan baksonya dari pada meladeni Rizki.
"Alhamdulillah. " ucap Lili sambil menggeser mangkuknya ke samping dan mimum. Saat menoleh ke samping, ia terkejut saat melihat Bima.
"Lah sejak kapan lu di mari kak?" tanya Lili sambil menggigit sedotannya. Membuat Bima gemas dan secara spontan mencubit pipi Lili.
"Dari jaman fir'aun belum sunat." jawab Bima asal masih dengan mencubit pipi Lili.
Lili mencoba melepaskan tangan Bima dari pipinya, tapi tidak bisa. Sampai tangan kekar Rizki yang menyingkarkan tangan Bima dari pipinya.
"Pegang-pegang gua tampol lu." ucap Rizki galak. Bima meringis mendengar ancaman Rizki.
"Kirain polos, tahunya b***h!" ucap sebuah suara membuat Rizki, Bima, dan Lili menoleh. Bima memutar matanya jengah saat tau si pemilik suara itu.
Renata, cabe sekolah yang dandannya seperti akan melenong. Mulutnya sangat pedas. Dan ia, menyukai Zaki. Melihat Zaki bersama Lili, membuatnya sangat membenci Lili. ia selalu menunggu waktu yang tepat untuk menghujat Lili, karena ia tidak bisa menghujat Lili seenaknya. Semua itu dikarenakan image Lili yang sangat baik, dan ia marasa inilah waktu yang tepat untuk menyerang Lili.
"Jaga bicara lo." ucap Rizki dengan manahan emosi.
Renata menoleh ke Rizki. Ia tersenyum miring meremehkan Rizki.
"Oh jadi elo anak baru yang jadi selingkuhan anak polos ini?" ucap Renata tanpa menyaring perkataannya dulu.
Dua anak buahnya hanya tersenyum miring. Semua orang menatap mereka, melihat drama yang disugakan secara percuma.
Sedangkan Lili hanya menunduk, ia malu karena semua memandanginya dan ia juga tidak pernah punya nyali untuk melawan Renata. Bima berdiri dan menatap tajam Renata, baru saja dia akan membuka mulut ingin mengatai Renata balik. Tapi sebuah suara membuat Bima urung berbicara.
"Denger semuanya!" teriak Rizki sambil menaiki meja.
Renata dan dua anak buahnya mengernyitkan dahi bingung.
"Gue. Rizki si anak baru. Mau ngasih tau kalian. Kalo gua adalah abang Lili. Abang Lili! Bukan selingkuhan Lili! Dan kalo sampe ada yang berani macem-macem ama adek gua. Siap-siap bakal berurusan ama gua!" ucap Rizki lantang membuat seisi kantin terkejut. Tak terkecuali Renata dan anak buahnya.
Rizki menunduk, menatap Renata dan dua anak buahnya dengan mata elang miliknya, yang sangat tajam bak pedang. Mereka bertiga meneguk ludah gugup. Nyalinya ciut seketika saat menatap mata Rizki.
"Cabut guys." ucap Renata memberi isyarat kepada anak buahnya agar pergi dari tempat itu. Baru dua langkah mereka berjalan, ucapan Rizki membuat mereka membeku di tempat.
"Dan lo bertiga. Jangan harap bisa lepas dari gue." ucap Rizki dengan sangat tajam.
Renata bergidik ngeri lalu segera berlali meninggalkan kantin di ikuti dua anak buahnya. Semua orang yang semula tadi memperhatikan, kini mereka sama sekali tidak berani menatap Rizki. Aura kemarahan Rizki memang sangat menakutkan, bahkan Bima pun bergidik ngeri.
"Ayo cabut." ucap Rizki sambil menarik tangan Lili meninggalkan kantin.
"Gue cabut dulu Bim." pamit Rizki kepada Bima lalu melenggang pergi.
Karena bel akan berbunyi beberapa menit lagi, membuat lorong-lorong kelas sepi. Lili yang berjalan di sebelah Rizki tersenyum. Ia melingkarkan tangannya di lengan kekar Rizki, Rizki menunduk dan Lili mendongak.
"Lili sayang abang." ucap Lili sambil tersenyum manis. Senyum yang menjadi favorite semua orang termasuk Rizki. Rizki balas tersenyum dan mengecup puncak kepala Lili.
Sedangkan di sisi lain. Seseorang sedang mengepalkan tangannya kuat. Dia melihat semua kejadian tadi dari awal. Peristiwa yang di kantin sampai sekarang apa yang dilihatnya. Dia hanya bisa mengepalkan tangannya kuat. Dia benci dirinya yang pengecut, dan tidak bisa melindungi orang yang amat dia cintai.