HARI ini adalah hari yang dinanti-nanti oleh Vio dan Andra. Hari ini keduanya akan melaksanakan akad nikah dan akan dilanjutkan resepsi di Bali. Keduanya belum bertemu sejak seminggu yang lalu Vio kembali ke Bali. Mereka menjalankan masa pingit mereka.
Setelah 2 kali gagal sampai titik ini, Andra menjadi takut akan hal ini. Andra sangat ingin segera melafazkan ijab kabul nya, dan merubah status Vio menjadi istrinya bukan lagi tunangannya. Begitu juga dengan Vio, ketakutannya bukan lagi takut menjadi istrinya tanpa merasakan menjadi istri. Kini Vio takut jika Vio tidak bisa melewati hari ini dengan baik.
"Ndra, udah siap?" Tanya El sambil menatap Andra yang sedang menenangkan kegugupannya.
"Bang, gimana biar gua gak gugup?" Tanya Andra mengabaikan pertanyaan El.
"Lo gugup?" Kaget El tak percaya. Bagaimana tidak, seumur hidupnya El belum pernah melihat adik bungsunya gugup. Andra adalah manusia paling santai di keluarga Aydin. Saat sidang skripsi dulu dia masih sempat bercanda dengan pengujinya, saat pertama kali memimpin meeting dengan klien dari luar dia juga masih sempat memesankan kopi untuk semua orang. Tapi pagi ini, dasi yang sudah dibetulkan tiga kali itu masih saja terasa salah dipakainya.
"Gua serius bang." Ujar Andra sambil menatap pantulan dirinya di cermin.
"Tarik nafas." Ucap El santai.
Andra menarik nafas.
"Buang."
Andra membuang nafasnya.
"Udah, gitu doang." Ucap El sambil menepuk bahu adiknya.
"Bang, gua gak lagi bercanda!" Dengus Andra kesal.
El terkekeh melihat wajah adiknya yang memerah. Baru kali ini dia punya bahan untuk ditertawakan seumur hidup.
"Ndra, Lo tuh udah nunggu hari ini 10 tahun. Kenapa mesti gugup?"
"Justru karna gua nunggu 10 tahun makanya gua gugup bang." Jawab Andra pelan. "Gua udah dua kali gagal sampai titik ini. Yang pertama gua yang ngerusak, yang kedua juga gua yang ngerusak. Gua takut hari ini ada yang rusak lagi, dan lagi-lagi karna gua."
El menghentikan tawanya. Kali ini dia menarik kursi dan duduk tepat didepan adiknya.
"Yang ngerusak dua kali itu Andra yang dulu. Yang duduk didepan gua sekarang bukan dia." Ujar El tegas.
"Bang."
"Lo gugup itu wajar Ndra. Yang gak wajar itu kalau Lo santai, artinya Lo gak ngerti apa yang bakal Lo tanggung habis ini. Bawa satu wanita keluar dari rumah bapaknya itu bukan urusan kecil."
Andra terdiam. Kata-kata abangnya itu justru membuat tangannya semakin dingin.
"Terus gua harus gimana bang?"
"Duduk yang benar, dengerin penghulu, jangan ngelamun. Terus lafalin kabul Lo pelan-pelan. Jangan ngebut, ini bukan lomba." Ujar El sambil merapikan kerah baju Andra.
"Kalau gua ngulang gimana?"
"Ya ngulang. Marko dulu ngulang dua kali, sekarang anaknya udah ada." Jawab El santai membuat Andra terkekeh untuk pertama kalinya pagi ini.
Pintu kamar terbuka, Marko masuk bersama mama mereka.
"Siapa yang ngulang dua kali?" Tanya Marko dengan wajah tidak terima.
"Lo." Jawab El dan Andra bersamaan.
"Itu gara-gara mic nya mati, bukan gara-gara gua gugup." Bela Marko yang langsung diabaikan kedua saudaranya.
Tante Aliya berjalan mendekat pada anak bungsunya. Wanita paruh baya itu menangkup wajah Andra dengan kedua tangannya, menatap anaknya lama-lama tanpa berkata apa-apa.
"Ma, jangan nangis. Nanti make up mama luntur." Ujar Andra pelan.
"Mama gak nangis." Elak Tante Aliya walaupun matanya sudah basah.
"Itu apa yang jatuh?"
"Itu keringat." Jawab mamanya asal membuat ketiga anaknya tertawa.
"Andra." Panggil Tante Aliya setelah tawanya reda.
"Iya ma."
"Mama minta satu hal aja hari ini. Setelah ini Vio bukan lagi anak papanya. Semua yang selama ini dikerjain papanya buat dia, pindah ke kamu. Sakitnya, senangnya, salahnya, semuanya jadi tanggungan kamu. Mama gak mau denger kamu ngeluh."
"Iya ma."
"Dan satu lagi. Mama udah pernah kehilangan dia dua tahun karna kamu. Kalau mama kehilangan dia lagi karna kamu, mama gak akan ngebelain kamu." Ujar Tante Aliya tegas.
Andra menunduk, menahan sesuatu yang naik ke tenggorokannya. "Gak akan ma. Aku janji."
•••••
Disisi lain, dikamar utama rumah orang tua Vio, suasananya jauh lebih berisik.
"Dis, Lo duduk aja deh. Gua pusing liat Lo mondar-mandir." Keluh Vio yang sedang dirapikan riasannya untuk yang kesekian kali.
"Gua gak bisa duduk Vi, gua deg-degan." Jawab Disya sambil mengelus perutnya yang sudah membuncit.
"Yang mau nikah gua atau Lo?"
"Lo. Tapi gua yang deg-degan." Jawab Disya asal membuat Laras yang sedari tadi diam ikut tertawa.
Vio menatap pantulan dirinya dicermin. Kebaya putih dengan payet halus itu membuatnya nyaris tidak mengenali dirinya sendiri. Sepuluh tahun. Sepuluh tahun sejak pertama kali dia menoleh pada laki-laki yang duduk dibelakang kelasnya, dan hari ini dia akan duduk diruang tamu rumahnya sendiri untuk dinikahkan dengan laki-laki itu.
"Vi." Panggil bunda yang baru saja masuk.
Disya dan Laras langsung pamit keluar, memberi ruang untuk ibu dan anak itu.
"Bunda." Ucap Vio yang langsung berdiri.
"Duduk, nanti kainnya kusut." Tegur bundanya lembut sambil mendudukkan Vio kembali.
Bunda duduk disamping Vio, mengambil tangan anaknya dan menggenggamnya erat.
"Bunda mau minta maaf." Ucap wanita itu pelan.
"Kok minta maaf?"
"Dulu bunda pernah bilang, bunda gak larang kamu sama Andra tapi bunda gak mau kamu nangis lagi. Dan bunda tetap diam waktu kamu nangis dua tahun itu. Bunda cuman liat kamu pergi, bunda gak nahan kamu."
"Bun." Panggil Vio dengan suara bergetar.
"Jangan nangis, riasan kamu mahal." Ujar bundanya cepat sambil mengusap sudut mata Vio dengan ujung jari. "Bunda diam karna bunda tau, kalau bunda tahan, kamu gak akan pernah selesai sama dia. Kamu harus pergi dulu biar tau kamu mau pulang kemana."
Vio menahan nafasnya, berusaha menelan tangis yang sudah sampai dikerongkongan.
"Dan hari ini kamu udah tau kamu mau pulang kemana kan?"
Vio mengangguk pelan.
"Yaudah. Dari sini bunda lepas ya. Habis ini kalau kamu sakit, ngadunya ke Andra dulu. Baru ke bunda." Ucap bundanya sambil tersenyum walaupun matanya sudah penuh air.
"Bunda gak boleh gitu, aku tetap mau ngadu ke bunda."
"Boleh, tapi nomor dua." Ujar bundanya membuat keduanya tertawa kecil ditengah tangis yang sudah tidak bisa ditahan lagi.
•••••
Ruang tamu rumah orang tua Vio sudah disulap menjadi tempat akad. Tidak besar, tidak megah, hanya dipenuhi bunga putih dan hijau serta wajah-wajah yang benar-benar dikenal keduanya. Sesuai kesepakatan, akad dan resepsi di Bali memang hanya untuk keluarga dan kerabat dekat saja.
Andra sudah duduk didepan penghulu sejak sepuluh menit yang lalu. Disampingnya papa Vio duduk tenang, sementara Andra sudah menyeka telapak tangannya ke celana entah untuk yang keberapa kali.
"Nak Andra." Panggil papa Vio pelan.
"Iya om."
"Habis ini jangan panggil om lagi." Ujar papa Vio membuat Andra tersenyum kaku.
"Iya pa."
"Bagus." Ucapnya sambil menepuk lutut Andra sekali.
Pintu ruangan terbuka. Vio masuk dituntun bundanya, berjalan pelan menuju tempatnya duduk disamping Andra. Andra tidak berani menoleh terlalu lama, tapi satu tatapan itu sudah cukup untuk merubah bentuk gugupnya menjadi sesuatu yang lain. Bukan takut lagi. Lebih ke tidak percaya.
Penghulu mulai membuka acara. Mahar dibacakan. Seperangkat alat sholat, emas, dan uang tunai sepuluh juta rupiah. Sepuluh juta untuk sepuluh tahun, itu permintaan Andra sendiri pada mamanya sebulan yang lalu.
Papa Vio menggenggam tangan Andra. Ruangan mendadak sunyi, bahkan Disya yang sedari tadi cerewet ikut menahan nafasnya.
"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau, Andra Putra Aydin, dengan anak kandung saya Violetta Oriviera, dengan mahar tersebut dibayar tunai."
Andra menarik nafas. Satu detik. Dua detik.
"Saya terima nikah dan kawinnya Violetta Oriviera, dengan mahar tersebut dibayar tunai."
Satu tarikan nafas. Tidak terputus, tidak tersendat sedikitpun.
"Bagaimana saksi?" Tanya penghulu.
"SAH!"
Suara itu meledak dari seluruh penjuru ruangan. El, Marko, para saksi, bahkan Bagas yang tidak mengerti apa-apa ikut berteriak paling kencang. Andra menunduk dalam-dalam, bahunya bergetar. Sepuluh tahun, dua kali gagal, dan hari ini semuanya selesai dalam satu tarikan nafas.
Andra mengangkat kepalanya, matanya merah dan basah. Dia langsung meraih tangan papa Vio dan menciumnya lama.
"Makasih pa." Ucapnya serak.
Papa Vio hanya menepuk kepala menantunya, tidak sanggup menjawab apa-apa.
Setelahnya Andra berbalik pada Vio. Wanita itu sudah menangis sejak kata sah diucapkan. Andra menyematkan cincin dijari manis Vio, kemudian membiarkan Vio melakukan hal yang sama padanya. Setelah itu Andra menarik tangan istrinya dan menciumnya, lalu menunduk mencium kening Vio lama sekali.
"Halo istri aku." Bisik Andra tepat ditelinga Vio.
Vio tidak menjawab, tangisnya justru semakin pecah dibahu suaminya.
"Kok malah nangis." Ujar Andra sambil terkekeh, padahal air matanya sendiri belum berhenti.
"Kamu duluan yang nangis." Balas Vio disela isaknya.
"Aku laki-laki, boleh."
"Itu gak nyambung An."
"Terserah aku, aku suami kamu sekarang." Ujar Andra membuat Vio tertawa ditengah tangisnya.
"Om!" Panggil Bagas yang tiba-tiba sudah berdiri disamping mereka.
"Apa?" Tanya Andra malas.
"Anty jadi punya om sekarang?" Tanya bocah itu dengan wajah polos.
"Iya."
"Berarti Bagas gak boleh peluk anty lagi?"
Seisi ruangan tertawa mendengar pertanyaan Bagas. Andra hendak menjawab tapi Vio lebih dulu menarik Bagas kedalam pelukannya.
"Boleh dong sayang." Ujar Vio sambil mencium pipi tembem keponakan barunya itu.
"Vi, jangan dibiasain." Tegur Andra.
"Kamu cemburu sama anak kecil An?"
"Iya." Jawab Andra jujur tanpa malu sedikitpun, membuat El dan Marko tertawa paling kencang dibarisan belakang.
Acara dilanjutkan dengan sungkem. Vio bersimpuh didepan papa dan bundanya lebih lama dari yang seharusnya, sampai bundanya sendiri yang harus mengangkat bahunya pelan. Setelah itu keduanya berpindah pada mama dan papa Andra. Tante Aliya memeluk Vio erat-erat, tidak melepaskannya walaupun fotografer sudah berkali-kali meminta mereka menghadap kamera.
"Akhirnya mama punya anak perempuan." Ucap Tante Aliya disela tangisnya.
"Tante." Panggil Vio pelan.
"Mama." Koreksi wanita itu cepat.
"Iya ma." Ucap Vio yang langsung membuat tangis Tante Aliya semakin menjadi.
Sesi foto keluarga berlangsung hampir satu jam. Bagas dan Aldo bergantian minta digendong Vio sampai kak putri harus turun tangan menarik kedua anaknya menjauh.
"Vi, sini duduk." Panggil Andra saat semuanya akhirnya selesai.
Vio duduk disamping suaminya sambil melepas sanggulnya yang mulai terasa berat.
"Capek?"
"Banget. Tapi seneng." Jawab Vio jujur.
"Yang di Jakarta nanti bakal lebih capek dari ini loh." Ujar Andra mengingatkan.
Vio terdiam sebentar. Resepsi kedua di Jakarta memang masih dua minggu lagi, dan disanalah semua nama yang sengaja tidak dia undang hari ini akan hadir.
"An."
"Hmm?"
"Dia jadi datang?"
Andra tau persis siapa yang dimaksud istrinya tanpa perlu bertanya. "Kita bahas nanti ya. Hari ini gak usah dulu." Jawab Andra sambil menggenggam tangan Vio.
"Oke." Jawab Vio pelan, walaupun ada satu hal kecil yang tiba-tiba mengganjal didadanya.
•••••
Resepsi kecil dihalaman resort papa Vio berlangsung sampai matahari benar-benar tenggelam. Tidak ada panggung besar, tidak ada tamu yang tidak dikenal. Hanya dua keluarga, laut, dan lampu-lampu kecil yang digantung diantara pohon kelapa.
Andra tidak melepaskan tangan Vio semalaman. Bahkan saat Vio harus berfoto dengan Disya dan Laras, Andra tetap berdiri dua langkah dibelakangnya sambil membawakan tas tangan istrinya.
"An, kamu gak capek ngintilin aku terus?" Tanya Vio saat keduanya akhirnya bisa duduk.
"Enggak."
"Dari tadi kamu belum makan."
"Belum sempat."
"Kamu tuh." Dengus Vio sambil mengambil piring dan mengisinya untuk Andra.
Andra hanya diam menatap istrinya yang sedang sibuk memilihkan lauk untuknya. Ada satu hal yang tidak dia katakan pada siapa-siapa hari ini. Bahwa dari semua yang dia takutkan pagi tadi, tidak ada satupun yang terjadi. Tidak ada yang rusak. Untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun, hari yang dia rencanakan berjalan persis seperti yang dia rencanakan.
"Kenapa liatin aku gitu?" Tanya Vio yang menyadari tatapan Andra.
"Gak papa. Cuman masih gak percaya aja."
"Sama." Ujar Vio pelan.
Malam itu keluarga besar Aydin tidak kembali ke Jakarta. Mereka menginap di resort papa Vio, karna masih ada acara syukuran kecil beberapa hari kedepan sebelum semuanya pulang untuk menyiapkan resepsi kedua yang akan diadakan di Jakarta.
Vio dan Andra sendiri diberi vila paling ujung, yang menghadap langsung ke laut.
"An." Panggil Vio saat Andra menutup pintu vila dibelakangnya.
"Iya sayang."
"Kamu inget gak, yang kamu bilang waktu dipantai malam pertunangan?"
Andra melangkah mendekat, berhenti tepat didepan istrinya. "Yang mana? Aku banyak ngomong malam itu."
"Yang sepuluh tahun nahan." Ucap Vio pelan sambil menunduk.
Andra tersenyum, kemudian mengangkat dagu Vio pelan dengan ujung jarinya.
"Aku inget." Ujar Andra serak. "Dan aku bilang nanti, setelah kamu bener-bener jadi istri aku."
Vio tidak sempat menjawab apa-apa. Lampu vila itu padam beberapa saat kemudian, menyisakan suara ombak yang terus datang dan pergi sepanjang malam.