ANDRA merenggangkan otot-ototnya saat seselai menelpon, beberapa detik lalu Bagas, keponakan yang kini menjadi musuhnya menelpon.
"Vi, Vio, bangun sayang." Panggil Andra dengan nada serak khas bangun tidurnya.
Vio bergumam sambil mengeratkan pelukannya pada Andra. Keduanya masih ditempat tidur dan saling berpelukan. Andra terbangun karna mendapat telpon dari Bagas. Katanya dia ingin bertemu dengan anty kesayangan nya itu.
"Sayang bangun udah pagi."
"Aku capek, ngantuk, masih mau tidur."
"Iya, tapi Bagas udah mau kesini. Katanya mau ketemu anty kesayangannya." Ujar Andra lembut.
Vio membuka matanya, mengedipkanya beberapa kali sambil menatap Andra. "Bagas mau kesini?" Tanya Vio setelah mengumpulkan nyawanya.
"Masih jam 7 kurang An."
"Dia mau sarapan sama kamu katanya, kak Putri yang nganterin dia kesini." Lanjut Andra sambil mengusap punggung istrinya pelan.
Vio menarik selimut sampai menutupi setengah wajahnya. "Jam berapa sih sekarang?"
"Setengah tujuh lewat sepuluh."
"Anak itu kenapa gak tidur sih." Keluh Vio dengan suara serak.
"Dia nanya ke aku kenapa anty nya belum bangun. Aku bilang antynya capek, terus dia bilang kok capek, kan yang nikah om." Ujar Andra membuat Vio langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"Andra!"
"Aku cuman ngulang omongan Bagas loh Vi." Elak Andra sambil terkekeh.
"Terus kamu jawab apa?"
"Aku bilang iya, om juga capek." Jawab Andra santai membuat Vio melempar bantal ke wajah suaminya.
"Ya ampun An! Kamu ngomong gitu ke anak umur tujuh tahun?"
"Emang kenapa? Aku gak bohong kok." Ujar Andra sambil menangkap bantal itu dan meletakkannya kembali.
Vio membalikkan badannya membelakangi Andra, wajahnya sudah panas sampai ke telinga. Andra terkekeh melihat tingkah istrinya, kemudian menarik pinggang Vio agar kembali menghadap padanya.
"Kok malu?" Tanya Andra pelan.
"Gak tau." Jawab Vio jujur sambil menyembunyikan wajahnya di dada Andra.
"Kita udah nikah loh Vi."
"Iya aku tau."
"Terus kenapa malu?"
"Ya gak tau makanya." Ujar Vio kesal membuat Andra tertawa kecil.
Andra mencium puncak kepala istrinya lama, kemudian mengusap rambut Vio yang berantakan.
"Vi."
"Hmm?"
"Makasih ya." Ucap Andra pelan.
Vio mendongak, menatap suaminya bingung. "Buat?"
"Buat semuanya. Buat sepuluh tahun kamu nunggu aku sadar. Buat kamu yang mau balik walaupun aku udah bikin kamu pergi dua tahun. Buat kamu yang kemarin duduk disamping aku." Ujar Andra dengan mata yang mulai berkaca-kaca lagi.
"An, ini pagi. Jangan bikin aku nangis pagi-pagi." Ucap Vio dengan suara bergetar.
"Aku serius Vi."
"Aku tau kamu serius, makanya jangan diterusin." Ujar Vio sambil menutup mulut Andra dengan telapak tangannya.
Andra tertawa dibalik telapak tangan istrinya, kemudian menciumnya sekali sebelum Vio sempat menariknya.
"Yaudah bangun, mandi. Bagas udah otw katanya."
"Kamu duluan."
"Bareng aja gimana?"
"ANDRA!" Pekik Vio membuat Andra langsung berlari keluar kamar sambil tertawa puas.
•••••
Bagas datang tepat jam setengah delapan, digandeng kak putri yang wajahnya sudah menyerah dari tadi.
"Vi, maaf ya. Dari jam lima dia udah bangun terus nanya anty terus. Kakak udah bilang jangan ganggu dulu, tapi dia malah nyolong hp kakak buat nelpon Andra." Ujar kak putri begitu Vio membuka pintu vila.
"Gak papa kak." Jawab Vio sambil tertawa.
"ANTY!" Teriak Bagas yang langsung melepaskan gandengan mamanya dan berlari memeluk kaki Vio.
"Hai sayang." Ucap Vio sambil mengangkat Bagas.
"Turun." Ujar Andra yang tiba-tiba sudah berdiri dibelakang Vio.
"Gak mau." Jawab Bagas sambil mengeratkan pelukannya di leher Vio.
"Bagas, anty capek."
"Kata om capek karna nikah, bukan karna Bagas." Balas bocah itu polos membuat kak putri melotot pada adik iparnya.
"Andra, kamu ngomong apa ke anak aku?!"
"Gak ngomong apa-apa kak, dia aja yang salah denger." Elak Andra cepat sementara Vio sudah menahan tawanya mati-matian.
"Aku tinggal ya Vi, kakak mau siapin sarapan buat Aldo dulu. Nanti jam sembilan kita kumpul di restoran, mama mau syukuran kecil katanya." Ujar kak putri sambil menyerahkan tas kecil berisi mainan Bagas.
"Iya kak, hati-hati."
Begitu pintu tertutup, Bagas langsung turun dari gendongan Vio dan menyeret tangan antynya ke sofa.
"Anty, Bagas mau sarapan sama anty."
"Iya sayang, anty pesenin ya. Bagas mau apa?"
"Pancake. Yang ada coklatnya. Sama susu."
"Oke."
"Om gak usah dipesenin." Ujar Bagas sambil menoleh pada Andra dengan wajah paling datar yang pernah dilihat Andra seumur hidupnya.
"Bagas." Tegur Vio menahan tawa.
"Kenapa gua gak dipesenin?" Tanya Andra tidak terima, sampai lupa kalau lawan bicaranya masih tujuh tahun.
"Karna om jahat. Om bilang Bagas gak boleh peluk anty lagi."
"Gua gak pernah bilang gitu!"
"Kemarin om bilang jangan dibiasain."
Vio benar-benar tidak sanggup lagi menahan tawanya. Suaminya yang berumur tiga puluh tahun itu sedang berdebat serius dengan keponakannya sendiri.
"Udah, udah. Om sama Bagas dua-duanya anty pesenin pancake ya." Lerai Vio sambil mengambil telpon vila.
"Gak mau samaan sama om."
"Ya udah om aja yang gak usah." Ujar Andra pasrah membuat Bagas tersenyum puas.
Vio hanya menggelengkan kepalanya sambil menekan nomor restoran. Baru satu malam menjadi istri, dan tugas pertamanya ternyata melerai dua orang yang sama-sama tidak mau mengalah.
Pancake pesanan mereka datang lima belas menit kemudian. Bagas duduk dipangkuan Vio, membiarkan antynya memotong-motong pancake itu untuknya seperti yang biasa dilakukan Vio dua tahun lalu sebelum semuanya berubah.
"Anty."
"Iya sayang."
"Sekarang Bagas panggil anty apa?" Tanya Bagas dengan mulut penuh.
"Telan dulu makanannya, baru ngomong." Tegur Vio lembut.
Bagas menelan pancakenya, kemudian mengulang pertanyaannya. "Sekarang Bagas panggil anty apa? Kata mama, kalau anty udah nikah sama om, jadinya bukan anty lagi."
Vio menoleh pada Andra yang sedang duduk diseberang meja sambil mencuri satu potong pancake dari piring Bagas.
"Panggil tante." Jawab Andra santai.
"Gak mau, jelek."
"Terserah kamu Bagas."
"Bagas panggil anty aja ya?" Tanya bocah itu sambil menatap Vio dengan mata bulatnya.
"Boleh sayang, mau panggil apa aja boleh." Jawab Vio sambil mengusap kepala Bagas.
"Kalau gitu Bagas panggil mama aja."
Andra langsung tersedak susu yang baru saja dia minum, sementara Vio membeku dengan sendok yang masih menggantung di udara.
"Bagas!" Tegur Andra setelah selesai terbatuk-batuk.
"Kenapa? Kan anty udah jadi istri om. Kata mama kalau istri itu nanti punya anak, terus dipanggil mama." Ujar Bagas polos.
"Iya, tapi anty bukan mama kamu."
"Ya kan Bagas mau."
"Bagas." Panggil Vio sambil membalikkan badan bocah itu agar menghadap padanya. "Anty seneng banget kamu sayang sama anty. Tapi mama kamu cuman satu, namanya kak putri. Nanti kalau kamu panggil anty mama, mama kamu sedih loh."
Bagas terdiam sebentar, kemudian mengangguk pelan. "Yaudah anty aja. Tapi Bagas boleh nginep dirumah anty di Jakarta kan?"
"Boleh banget."
"Gak boleh." Sahut Andra cepat.
"Om jahat!" Pekik Bagas.
"Iya, om emang jahat." Jawab Andra santai sambil mengambil potongan pancake terakhir dari piring keponakannya, membuat Bagas berteriak semakin kencang dan Vio kembali harus melerai keduanya.
•••••
Jam sembilan lewat, keluarga besar sudah berkumpul di restoran resort. Meja panjang itu penuh, dari papa dan bunda Vio, mama dan papa Andra, El sekeluarga, Marko dan kak Nia yang membawa bayinya, sampai Disya dan Bram yang duduk paling ujung.
"Pengantin barunya baru bangun ya?" Goda Marko begitu Andra dan Vio duduk.
"Marko." Tegur mamanya.
"Aku nanya doang ma." Ujar Marko sambil mengangkat kedua tangannya.
"Vi, makan yang banyak." Ucap bunda Vio sambil menarik piring anaknya dan mengisinya.
"Bunda, aku bisa ambil sendiri."
"Sekarang aja bunda masih boleh ngurus kamu, besok-besok udah bukan urusan bunda lagi." Ujar bundanya membuat Vio langsung merasa matanya panas lagi.
"Bunda." Panggil Vio dengan suara bergetar.
"Kenapa? Bunda salah ngomong ya?" Tanya bundanya panik.
"Enggak, salah aku aja yang gampang nangis." Jawab Vio sambil mengusap matanya cepat.
Andra menggenggam tangan istrinya dibawah meja tanpa berkata apa-apa.
"Vi, jangan nangis mulu ah. Nanti gua ikutan, terus disangka hormon lagi." Keluh Disya dari seberang meja.
"Emang iya kan?" Balas Vio.
"Enggak! Gua nangis kemarin itu murni karna terharu."
"Yang mana? Yang pas akad atau yang pas rendangnya habis?" Tanya Bram membuat seisi meja tertawa dan Disya mencubit lengan suaminya keras-keras.
Tante Aliya berdehem, membuat semua orang menoleh padanya.
"Mama cuman mau bilang, makasih buat semua yang udah datang jauh-jauh kesini. Dan makasih buat papa sama bunda nya Vio, yang mau ngasih Vio ke keluarga kita walaupun anak mama pernah bikin dia nangis bertahun-tahun."
"Ma." Panggil Andra pelan.
"Mama belum selesai." Ujar Tante Aliya membuat Andra langsung diam.
"Dan buat Andra sama Vio. Mama gak mau ngasih nasehat panjang-panjang. Mama cuman mau bilang, kalau nanti ada apa-apa, selesaiin berdua dulu. Jangan langsung lari ke orang tua, jangan juga langsung lari ke media sosial." Ujar Tante Aliya membuat semua orang tertawa.
"Amin ma." Jawab Vio sambil tersenyum.
Papa Vio meletakkan sendoknya, kemudian ikut berdehem membuat semua orang kembali menoleh.
"Papa cuman mau nambahin sedikit." Ucapnya tenang.
"Iya pa." Jawab Andra cepat.
"Vio itu anak satu-satunya. Dari kecil sampai kemarin, papa yang tanggung semuanya. Sekarang papa serahin ke kamu." Ujar papa Vio sambil menatap menantunya lurus-lurus. "Papa gak minta kamu bikin dia kaya, dia udah cukup. Papa cuman minta satu, jangan bikin dia diam."
"Diam pa?" Tanya Andra tidak mengerti.
"Vio itu kalau sakit hati dia gak marah, dia diam. Dan diamnya bisa dua tahun, kamu udah pernah ngerasain kan." Ujar papa Vio membuat seisi meja mendadak hening.
Andra menunduk sebentar sebelum akhirnya mengangkat kepalanya. "Iya pa. Aku inget banget rasanya. Sekali aja itu udah cukup."
"Bagus." Ucap papa Vio sambil kembali mengambil sendoknya, seolah tidak baru saja membuat semua orang di meja itu menahan nafas.
•••••
Sore harinya, Vio dan Andra berjalan menyusuri pantai yang sama seperti malam pertunangan mereka dua bulan yang lalu. Bedanya, kali ini ada cincin kedua di jari manis Vio.
"An." Panggil Vio memecah keheningan.
"Iya sayang."
"Yang kemarin aku tanyain, kamu belum jawab."
Andra menghentikan langkahnya. Dia tau cepat atau lambat Vio pasti akan menagih jawaban itu.
"Dia jadi datang ke resepsi Jakarta." Jawab Andra akhirnya.
Vio mengangguk pelan, berusaha membuat wajahnya terlihat biasa saja.
"Sendiri?"
"Enggak. Sama suaminya."
"Sama Faris?"
Andra terdiam sebentar. "Iya."
Vio menarik nafas panjang, kemudian menghembuskannya perlahan. Bukan cemburu, dia sudah lama selesai dengan rasa itu. Yang mengganjal adalah hal lain, sesuatu yang belum pernah dia bicarakan dengan siapa-siapa, bahkan dengan Disya.
"Vi." Panggil Andra sambil menangkup wajah istrinya. "Kamu gak nyaman, aku batalin undangannya sekarang juga."
"Bukan gitu An."
"Terus?"
"Anak itu manggil kamu om." Ucap Vio pelan.
Andra menurunkan tangannya.
"Dan dia bakal terus manggil kamu om sampai kapan pun. Kamu udah milih itu tiga tahun lalu, dan aku gak mau ngungkit-ngungkit lagi." Ujar Vio sambil menatap laut. "Tapi An, aku takut suatu hari nanti kamu nyesel. Bukan nyesel sama aku, tapi nyesel sama dia."
Andra tidak langsung menjawab. Ombak datang dua kali sebelum akhirnya dia membuka mulut.
"Aku gak akan pernah nutup pintu buat dia Vi. Kalau nanti dia gede terus dia nyari aku, aku bakal ada. Tapi bukan berarti aku harus ngerusak apa yang aku punya sekarang buat itu." Jawab Andra jujur.
"Kamu udah mikirin ini sebelumnya?"
"Setiap hari selama tiga tahun." Ujar Andra pelan.
Vio menoleh, menatap suaminya lama-lama. Ada satu hal yang baru dia sadari hari itu. Bahwa selama ini dia selalu mengira dialah satu-satunya yang menanggung sisa-sisa kejadian tiga tahun lalu.
"Kenapa kamu gak pernah cerita?"
"Karna kamu udah cukup capek nanggung bagian kamu sendiri." Jawab Andra sambil kembali menggandeng tangan istrinya untuk berjalan.
Vio tidak menjawab. Dia hanya mengeratkan genggamannya, membiarkan langkah mereka kembali beriringan disepanjang garis pantai.
Malam itu, saat mereka sudah kembali ke vila dan Vio sudah tertidur lebih dulu, ponsel Andra bergetar sekali di atas nakas. Satu pesan masuk dari nomor yang sudah tiga tahun tidak pernah dia balas.
Andra menatap layar itu lama sekali, sebelum akhirnya membalikkan ponselnya tanpa membuka pesan tersebut.