Petunjuk pertama justru datang bukan dari pencarian, melainkan dari masa lalu yang mengetuk.
Dua hari kemudian, lewat saluran yang mengejutkan. Pram — yang sudah Alika suruh menjauh — mengirim satu pesan singkat lewat akun anonim ke Reno, satu-satunya jalur aman yang ia tahu. Isinya pendek: *Pak Gunawan ingin bertemu Mbak Alika. Katanya penting. Dia tidak mau lewat telepon. Dia menunggu di tempat dia biasa salat magrib, hari Jumat, sesudah magrib. Sendiri.*
"Pak Gunawan." Alika mengulang nama itu. Petugas kebersihan tua di firma. Lelaki yang dulu, di malam pertama ia menemukan berkas berdebu, memperingatkannya dengan suara serak: *berkas lama lebih baik dibiarkan berdebu, Nak.* "Aku pikir dia memperingatkan supaya aku berhenti. Ternyata mungkin dia memperingatkan supaya aku berhati-hati."
Reno tak suka. "Bisa jadi jebakan. Pram pernah membocorkan. Bisa jadi Yusuf memakai keduanya untuk memancingmu ke tempat sepi."
"Bisa jadi." Alika menatapnya. "Tapi kalau Pak Gunawan benar-benar tahu sesuatu, dan aku tidak datang karena takut, maka aku tidak lebih baik dari Darto yang membanting pintu." Ia menghela napas. "Kita atur supaya aman. Tempat terbuka. Kau awasi dari jauh. Aku bawa ponsel darurat. Kalau ada yang tidak beres, kau yang menarik aku."
Masjid kecil di gang kampung itu sederhana, berdinding kapur yang mengelupas, dengan satu kipas angin tua yang berderit di langit-langit. Sesudah magrib, jemaah berangsur pulang, meninggalkan keheningan yang hangat oleh bau sarung dan minyak wangi murah. Pak Gunawan duduk di serambi, di atas tikar, kopiahnya miring, tasbih melingkar di jemarinya yang keriput. Ia tampak lebih tua dari yang Alika ingat. Lebih kecil. Seakan beban yang ia pikul akhirnya menggerus tubuhnya.
"Duduk, Nak," katanya, tanpa menoleh, ketika Alika mendekat. Suaranya serak seperti dulu. "Kau berani datang. Bapak hampir tidak yakin kau akan datang."
Alika duduk di sampingnya, menjaga jarak sopan. Dari sudut matanya, ia tahu Reno ada di warung seberang gang, berpura-pura minum teh. "Bapak yang menyuruh saya datang."
"Iya." Pak Gunawan memutar tasbihnya, satu butir, lalu satu lagi. "Bapak sudah tua, Nak. Tiga puluh dua tahun Bapak bersih-bersih di firma itu. Dari firma itu cuma satu ruko kecil sampai jadi gedung lima lantai. Bapak lihat semuanya. Orang pikir tukang sapu itu tidak punya mata." Ia tersenyum getir. "Tukang sapu punya mata paling banyak, Nak. Karena tidak ada yang menjaga ucapan di depan tukang sapu."
"Apa yang Bapak lihat?"
Pak Gunawan diam lama. Di kejauhan, suara anak-anak mengaji terbawa angin. "Bapak lihat malam, tujuh tahun lalu, ketika Pak Yusuf menyuruh dua orang membawa keluar berkas-berkas dari lantai tiga. Tengah malam. Dimusnahkan, katanya. Bapak yang disuruh menjaga pintu belakang." Ia menelan ludah. "Bapak menjaga pintu, Nak. Tapi Bapak juga punya mata. Dan ketika satu kardus jatuh, isinya berhamburan, dan dua orang itu sibuk memunguti yang penting-penting, Bapak menyelipkan satu map ke dalam gerobak sampah Bapak. Bukan untuk apa-apa. Cuma... Bapak merasa tidak benar. Membakar kebenaran seperti membakar daun kering."
Jantung Alika berdegup keras. "Bapak menyimpannya?"
"Tujuh tahun, Nak. Di kotak, di bawah dipan Bapak. Bapak tidak tahu isinya apa persis — Bapak cuma lulusan SD. Tapi Bapak tahu itu soal perkara anak muda yang dipenjara. Bima namanya, kan? Yang katanya membunuh bos kontraktor itu." Pak Gunawan menoleh, dan untuk pertama kalinya menatap Alika lurus. Matanya berair, entah karena tua entah karena beban. "Bapak diam tujuh tahun, Nak. Karena Bapak takut. Bapak punya cucu. Tapi waktu Bapak lihat kau, malam itu di ruang arsip, mencari-cari... Bapak kenal tatapan itu. Itu tatapan Bapak Pramesti dulu."
Nama itu menghantam dada Alika. "Bapak kenal ayah saya?"
"Pak Hakim Pramesti pernah datang ke firma, tujuh tahun lalu. Diam-diam, malam hari, menemui Pak Yusuf. Bapak yang bukakan pintu." Suara Pak Gunawan turun jadi bisikan. "Mereka bertengkar di dalam, Nak. Bapak dengar dari luar. Bapak Pramesti bilang, 'Aku tidak akan menutup perkara ini, Yusuf. Anak itu tidak bersalah dan kau tahu itu.' Tiga minggu kemudian, Bapak dengar Pak Hakim meninggal. Sejak itu Bapak tidak pernah bisa tidur nyenyak."
Alika tak bisa bicara. Tenggorokannya tercekat. Bukti pertama, dari mulut seorang saksi hidup, bahwa ayahnya menentang Yusuf — dan mati setelahnya. Bukan rumor Yusuf di telepon. Bukan dugaan. Kesaksian.
"Kenapa Bapak baru bicara sekarang?"
Pak Gunawan menggenggam tasbihnya erat-erat. "Karena Bapak sudah tua, Nak. Cucu Bapak sudah besar, bisa jaga diri. Dan karena Bapak lihat kau tidak berhenti. Kalau anak Bapak Pramesti tidak berhenti, masa Bapak yang tua ini terus diam?" Ia menyeka matanya dengan punggung tangan. "Bapak tidak mau mati membawa map itu, Nak. Bapak tidak mau menghadap Tuhan sambil memegang kebenaran yang Bapak sembunyikan."
Ia merogoh ke balik sajadah lipat di sampingnya, mengeluarkan sebuah amplon cokelat lusuh, dan menyodorkannya dengan tangan gemetar.
"Ini cuma alamat, Nak. Bukan map-nya. Bapak tidak berani bawa map-nya ke sini, takut diikuti. Map-nya Bapak titipkan di rumah, di kotak. Datang ke alamat ini besok pagi, Bapak kasih kotaknya. Bawa temanmu yang di warung seberang itu." Pak Gunawan tersenyum tipis. "Tukang sapu punya mata, Nak. Bapak lihat dia dari tadi."