Tidur tak datang. Sepanjang malam, kalimat terakhir Yusuf di telepon kemarin terus berputar di kepala Alika seperti pecahan kaca: *bagaimana dia benar-benar meninggal, dan siapa yang menandatangani surat kematiannya.*
Ayahnya. Hakim Pramesti. Pria yang ingatan Alika tentangnya hanyalah punggung tegak di depan meja kerja, kacamata yang selalu melorot, dan satu kalimat yang ia ulang seperti doa: *hukum itu cuma kata-kata di kertas sampai ada satu orang yang berani menegakkannya.* Resminya, ayahnya mati karena serangan jantung di rumah, suatu pagi tujuh tahun lalu, ketika Alika masih mahasiswa tingkat akhir. Tak ada otopsi. Tak ada pertanyaan. Hanya duka, dan kemudian sertifikat.
Pagi itu, di losmen, Alika mengeluarkan map kecil berisi dokumen pribadi keluarga yang selalu ia bawa — satu-satunya barang yang ia selamatkan dari apartemennya yang sudah tak aman. Di antaranya, surat keterangan kematian ayahnya. Kertas itu sudah menguning di lipatan. Ia tak pernah benar-benar membacanya dulu; saat itu ibunya yang mengurus segalanya sebelum ibunya sendiri menyusul dua tahun kemudian. Surat itu hanya formalitas duka.
Kini Alika membacanya seperti membaca berkas perkara.
Nama almarhum. Tanggal. Sebab kematian: *gagal jantung akut.* Lalu di bawah, kolom yang dulu tak pernah ia perhatikan: nama dokter yang menerbitkan, lengkap dengan tanda tangan dan stempel rumah sakit.
"dr. Hadi Sukarno," ia membaca lirih. "Reno. Ada nama di sini."
Reno yang sedang menyeduh kopi instan langsung mendekat. "Dokter yang menandatangani?"
"Dokter yang menyatakan ayahku mati wajar. Tanpa otopsi." Alika menatap tanda tangan itu. Goresan tinta tujuh tahun lalu, yang mungkin saja jujur — atau mungkin saja dibeli, seperti Darto, seperti atasan Saraswati. "Kalau ayahku dibunuh seperti kata Yusuf, maka dokter ini entah ditipu, entah dibayar untuk menutupnya. Apa pun itu, dia tahu sesuatu."
Mereka mulai melacak dr. Hadi Sukarno hari itu juga, dari warnet kecil dua blok dari losmen — bukan dari ponsel, karena Reno bersikeras nama yang dicari tak boleh menyentuh perangkat yang bisa mereka lacak. Reno yang mengetik; ia tahu cara mencari orang tanpa meninggalkan jejak balik.
Rumah sakit tempat ayah Alika meninggal masih ada. Tapi nama dr. Hadi Sukarno tak lagi tercantum dalam daftar dokter aktifnya. Reno menggali lebih dalam — arsip berita lama, jurnal organisasi profesi, daftar alumni.
"Ini dia," kata Reno setelah hampir satu jam. Ia memutar layar. "dr. Hadi Sukarno. Spesialis penyakit dalam. Pensiun dini akhir tahun 2019."
Alika mencondongkan tubuh. "2019. Tahun yang sama ayahku mati. Tahun yang sama Saraswati mati. Tahun yang sama Bima divonis."
"Pensiun dini di usia lima puluh dua," lanjut Reno, menunjuk satu data. "Itu muda untuk pensiun. Dan lihat — setelah itu, tidak ada apa-apa. Tidak ada praktik baru, tidak ada alamat klinik, tidak ada jejak sama sekali. Seakan dia menguap." Ia menggulir layar. "Orang tidak menguap begitu saja, Alika. Kecuali ada yang membuatnya menguap, atau dia sendiri yang memilih hilang karena takut."
"Atau ketiganya," kata Alika pelan. "Pensiun dini, lalu hilang. Seperti orang yang dibayar untuk berhenti, lalu sembunyi karena tahu terlalu banyak."
Pola itu sudah terlalu ia kenal sekarang. Darto: rumah tunai akhir 2019. Saraswati: visum dipalsu, lalu mati. Atasan Saraswati: menyuruh diam. Sekarang seorang dokter yang menandatangani surat kematian seorang hakim, lalu pensiun dini dan lenyap di tahun yang sama. Negeri ini, di sudut yang gelap ini, penuh orang yang dibayar untuk lupa.
"Kalau aku bisa menemukan dr. Hadi," kata Alika, suaranya bergetar oleh sesuatu yang lebih dalam dari strategi, "dia bisa jadi saksi bahwa kematian ayahku tidak wajar. Dia menandatangani surat itu. Entah dia memeriksa jenazahnya sungguhan, entah dia hanya menandatangani apa yang disodorkan padanya. Dua-duanya berarti dia tahu."
Reno menatapnya hati-hati. "Alika. Ini bukan cuma soal perkara Bima lagi buatmu, ya?"
Alika diam lama. Di luar jendela losmen, suara azan subuh mengalun dari kejauhan, menembus tirai. Tujuh tahun ia mengubur ayahnya sebagai korban tubuh yang lelah. Tujuh tahun ia salah berduka.
"Ayahku menemukan kejanggalan yang sama dengan yang aku temukan," katanya akhirnya. "Dia hakim banding kasus Bima. Dia membaca berkas yang sama. Dia melihat kesaksian Darto yang berubah, melihat visum yang ganjil, dan dia memutuskan untuk membukanya. Tiga minggu kemudian dia mati." Ia melipat kembali surat kematian itu dengan tangan yang sangat hati-hati, seperti memegang luka. "Dia berdiri di tempat yang sekarang aku berdiri, Reno. Dan dia kalah. Mereka memvonis dia juga — vonis mati, tanpa sidang, tanpa siapa pun tahu."
Ia menatap nama dr. Hadi Sukarno di layar.
"Aku harus menemukan orang ini. Karena nama di surat kematian ayahku adalah satu-satunya benang yang masih bisa ditarik untuk membuktikan dia tidak mati karena jantungnya. Dia mati karena dia jujur."
Reno menutup laptop pelan. "Kalau dokter itu masih hidup dan masih bisa ditemukan, kita temukan. Tapi Alika—" ia ragu, "—kalau Yusuf menyebut soal surat kematian itu untuk memancingmu, berarti dia tahu benang ini ada. Dan kalau dia tahu, dia mungkin sudah menutup ujungnya."
Alika berdiri, menyandang tasnya. "Kalau begitu kita cari sebelum dia sempat menggunting benangnya."