Mereka menyewa sebuah kamar di losmen kecil di gang sempit, dibayar tunai untuk tiga malam, didaftarkan dengan nama yang bukan nama mereka. Tirai ditutup rapat. Di atas ranjang yang seprainya kusam, Reno membuka laptopnya — laptop kerja, bukan yang pernah teracak di apartemen Alika — dan menyambungkannya ke internet lewat ponsel baru yang dibeli tunai pagi tadi.
"Pertama, kita gandakan," kata Reno. Ia mencolokkan flashdisk Saraswati ke laptop, lalu menyalin isinya: file audio rekaman dan pindaian visum asli. Sebelum apa pun, ia mengenkripsi seluruhnya dengan kata sandi panjang yang ia ketik dari hafalan. "Tanpa kunci ini, isinya cuma sampah acak. Kuncinya ada di kepalaku, dan akan kuberikan ke beberapa orang terpercaya secara terpisah, lewat saluran berbeda. Tidak ada satu pun yang memegang seluruh teka-tekinya."
Alika duduk di tepi ranjang, mengamati. "Berapa salinan?"
"Banyak. Server di tiga benua." Jari Reno bergerak cepat. "Aku mengunggah paket terenkripsi ke beberapa penyimpanan awan yang tersebar. Lalu—" ia membuka aplikasi pesan terenkripsi, "—aku kirim ke Hanna."
"Hanna?"
"Rekanku. Jurnalis Indonesia yang sekarang kerja di kantor berita di Eropa. Sudah lima tahun di sana. Tangan Ardian tidak sampai ke kotanya." Reno mengetik pesan, lalu melampirkan paket. "Aku sudah pernah menitipkan salinan ke dia waktu kita di penginapan tempo hari, kau ingat? Tapi sekarang aku perbarui, dan aku beri instruksi yang lebih jelas."
Ia membaca pesannya keras-keras sambil mengetik. "Hanna. Paket ini bukti pemalsuan visum dan rekaman saksi dalam perkara pembunuhan di Jakarta tahun 2019. Ada nyawa orang dalam bahaya — nyawaku dan nyawa rekanku. Aturannya satu: kalau aku menghilang atau berhenti menghubungimu lebih dari tujuh hari, tanpa kabar, terbitkan semua. Tanpa menunggu izin. Tanpa menunggu konfirmasi. Anggap diamku sebagai perintah terbit."
Alika merasa dingin merayap di tengkuknya. "Tujuh hari."
"Tujuh hari." Reno menekan kirim. Tanda centang muncul. "Begitu juga sebaliknya untukmu. Kalau aku yang hilang, kau yang menyalakan alarm."
Mereka berdua diam sejenak, menatap layar. Ada sesuatu yang dingin dan praktis dalam tindakan itu — menyiapkan terbitnya kebenaran sebagai konsekuensi dari kematian sendiri. Seakan menulis surat wasiat yang isinya bukan harta, melainkan tuduhan.
"Sekarang lembaga hukum," kata Alika, menegakkan punggung. Ini wilayahnya. "Ada satu lembaga bantuan hukum yang aku percaya. Mereka pernah menang melawan perusahaan besar dalam kasus penggusuran; mereka tidak takut nama besar, dan mereka tidak punya saham yang bisa ditekan Ardian. Tapi kita tidak boleh datang dengan nama asli dan wajah terbuka, belum sekarang. Kita kirim salinan dengan surat tertutup."
"Salinan, bukan asli," tegas Reno.
"Tentu. Asli tetap padaku." Ia menepuk tasnya. "Visum asli dengan tanda tangan basah adalah satu-satunya yang tak bisa digandakan nilainya di pengadilan nanti. Itu jantung perkara. Aku akan menjaganya seperti menjaga nyawa." Ia berpikir sejenak. "Tapi salinan terverifikasi bisa beredar. Aku akan minta lembaga itu menerima, mencatat tanggal terimanya secara resmi, dan menyimpannya. Begitu sebuah lembaga independen mencatat bahwa bukti ini ada pada tanggal sekian, musuh tak bisa lagi berpura-pura bukti ini tidak pernah ada."
Reno mengangguk lambat. "Kau mulai berpikir seperti orang yang diburu."
"Aku belajar dari guru yang baik." Tatapan Alika sekilas melembut, lalu mengeras lagi. "Dan satu lagi. Akademisi. Ada profesor hukum acara pidana, dosenku dulu, orang yang mengajarkan aku apa itu novum. Beliau pensiunan, tak punya kepentingan, tak bisa disuap dengan jabatan. Aku akan kirim ringkasan kasus, tanpa nama lengkapku, dan minta pendapat hukumnya. Bukan untuk perlindungan saja — tapi karena kalau seorang ahli yang dihormati menyatakan kasus ini layak dibuka kembali, suaranya akan punya bobot yang tak bisa diabaikan media maupun pengadilan."
Mereka bekerja sampai jauh malam. Reno mengunggah, mengenkripsi, menyebarkan; Alika menyusun surat-surat, hati-hati memilih kata agar tak menuding sebelum waktunya tetapi cukup jelas agar penerimanya paham taruhannya. Mereka mencetak salinan visum di sebuah tempat fotokopi anonim, membungkusnya, mengalamatkannya dengan tulisan tangan, dan akan mengirimnya esok dari kantor pos yang jauh dari mana pun mereka tinggal.
Menjelang dini hari, ketika layar laptop akhirnya menunjukkan deretan tanda terkirim, Reno menutup penutupnya pelan.
"Selesai," katanya. "Mulai sekarang, membunuhmu tidak menghapus apa pun. Justru membunuhmu akan meledakkan semuanya."
Alika menatap langit-langit losmen yang noda airnya membentuk peta negeri asing. "Mereka pikir mereka selalu selangkah di depan," katanya pelan. "Tapi mereka baru saja kehilangan satu hal yang selama ini jadi senjata mereka."
"Apa?"
"Kesunyian." Ia memejamkan mata. "Selama tujuh tahun ini, mereka menang karena tak ada yang bertanya. Sekarang ada banyak orang yang memegang pertanyaannya. Mereka tidak bisa membunuh pertanyaan."