Mereka turun di sebuah pusat perbelanjaan tua di kawasan yang tak satu pun dari mereka punya alasan untuk dikunjungi. Reno memilihnya justru karena itu: tempat tanpa kenangan, tanpa pola. Di lantai tiga ada warung kopi sempit yang nyaris kosong, dengan satu meja di sudut yang membelakangi dinding dan menghadap pintu. Reno menariknya ke sana.
"Aturan pertama," kata Reno sambil duduk. "Selalu lihat pintu. Selalu tahu jalan keluar."
"Kau belajar itu dari mana, dari film?"
"Dari narasumber yang sekarang sudah mati." Ia tidak tersenyum. "Dua tahun lalu. Kasus tambang. Dia juga pikir dia selangkah di depan."
Alika diam. Ia memesan dua kopi hitam pada pelayan, lalu menunggu sampai pemuda itu pergi sebelum bicara lagi. "Aku terus memutar ulang pagi tadi di kepalaku," katanya. "Mereka tahu kita akan ke kantor polisi. Mereka sampai di sana lebih dulu. Perwira itu menunggu di lobi, Reno. Menunggu. Itu berarti—"
"Mereka tahu rencana kita sebelum kita melakukannya."
"Pram," kata Alika pelan. Nama itu pahit di lidahnya. "Pram membocorkan Cipinang. Tapi Pram tidak tahu kita mau ke kantor polisi pagi ini. Aku tidak memberitahunya apa-apa lagi setelah kusuruh menjauh."
Reno mengetuk-ngetukkan jari ke meja. "Berarti bukan Pram kali ini. Berarti ada cara lain mereka mendengar kita." Matanya jatuh ke ponsel Alika yang tergeletak di meja. "Atau melihat kita."
Keduanya menatap benda itu seakan benda itu ular.
"Ponselmu disusupi waktu apartemenmu digeledah," kata Reno. "Atau nomornya disadap. Yusuf tahu kau memegang amplop Saraswati — dia menyebutnya sendiri waktu menelepon. Bagaimana dia tahu? Karena dia mendengar. Karena dia melihat lokasimu."
Alika merasa kulitnya merinding. Selama berhari-hari ini ia membawa ponsel itu ke mana-mana — ke Cipinang, ke rumah Mira, ke penginapan tempat mereka bersembunyi. Ia membuka peta dunia musuh sendiri, langkah demi langkah, dan menyiarkannya lewat benda di sakunya.
"Matikan," kata Reno. "Cabut kartunya. Sekarang."
Ia melepas baterai — model lama yang sengaja ia pertahankan justru karena bisa dilepas — mencabut kartu SIM, dan meletakkan ketiganya terpisah di atas meja. Tangannya kembali gemetar, tapi kali ini bukan ketakutan. Marah.
"Kita beli ponsel baru, tunai, dengan kartu prabayar yang didaftarkan atas nama orang lain," kata Reno. "Aku punya kenalan. Kita ganti rutin. Kita tidak pernah pakai nama asli untuk apa pun lagi — penginapan, transportasi, semua tunai. Kita berhenti meninggalkan jejak digital."
"Itu cara hidup buron, Reno." Alika tertawa kecil, tawa tanpa humor. "Aku pengacara. Aku tidak melakukan kejahatan apa pun. Justru aku yang berusaha membuka kejahatan."
"Itu sebabnya kau harus hidup cukup lama untuk membukanya." Reno mencondongkan tubuh. "Dengar. Sejak tadi pagi aku sadar satu hal, dan ini yang harus kau cerna. Kita berdua keliru sejak awal. Kita pikir musuh kita adalah Yusuf, satu orang licik. Lalu kita pikir Ardian, satu konglomerat. Tapi yang menunggu di lobi tadi pakai seragam negara. Tiga bintang. Itu bukan satu orang. Itu jaringan yang menembus aparat."
Kopi datang. Mereka menunggu lagi sampai pelayan pergi.
"Maka kita ubah strategi," lanjut Reno, suaranya rendah dan cepat. "Kau pikir seperti pengacara: daftarkan ke pengadilan, lapor ke polisi, biar sistem bekerja. Tapi sistemnya bocor. Setiap pintu resmi yang kau ketuk, ada kemungkinan yang membukanya adalah orang mereka. Kalau kita serahkan bukti lewat satu pintu yang salah, bukti itu lenyap, dan kita lenyap bersamanya. Seperti Saraswati. Seperti ayahmu."
Alika menggenggam cangkirnya. Panasnya menggigit telapaknya, dan ia membiarkannya. "Lalu apa? Kau bilang sendiri pengadilan adalah satu-satunya tempat kebenaran ini bisa diadili."
"Pengadilan, ya. Tapi belakangan. Bukan sekarang." Reno mengangkat satu jari. "Sekarang kita kunci buktinya dulu di tempat yang tak bisa mereka jangkau. Bukan di brankas — brankas bisa dibobol. Bukan di tanganmu — kau bisa dihilangkan. Tapi di ranah publik. Di banyak tangan sekaligus. Di lembaga-lembaga independen yang tidak ada di kantong Ardian."
"Lembaga apa?"
"Lembaga bantuan hukum yang punya nama. Komisi independen. Jurnalis di luar negeri yang tak bisa disentuh tangan Ardian. Akademisi hukum." Reno menatapnya. "Begitu bukti ini ada di sepuluh tempat, di tiga negara, di tangan orang-orang yang tidak bisa mereka beli atau bunuh sekaligus, maka membunuhmu jadi tak ada gunanya. Justru kematianmu akan jadi alarm. Itu satu-satunya perlindungan nyata yang kita punya."
Alika menatap kartu SIM mati di atas meja, lalu menatap pintu, lalu menatap temannya.
"Kita berhenti satu langkah di belakang mereka," katanya pelan, mulai mengerti. "Karena selama kita main lewat pintu resmi, mereka selalu tahu lebih dulu. Tapi kalau kita siarkan ke dunia—"
"Mereka tak bisa membungkam dunia." Reno menyandar ke kursi untuk pertama kalinya. "Itu asuransi nyawamu, Alika. Dan kita aktifkan hari ini juga."