Pintu kaca itu bergerak ke samping dengan suara mendesis pelan, dan untuk satu detik yang terasa seperti satu menit, Alika melihat segalanya dengan jelas. Perwira tinggi berseragam cokelat dengan tiga bintang di pundak tersenyum seperti orang yang menyambut tamu yang sudah lama ditunggu. Di sampingnya, Yusuf Wibawa berdiri dengan kedua tangan terlipat di depan tubuh, tenang, sabar, seakan ini hanya rapat firma biasa.
Ponsel di tangan Alika masih panas oleh pesan yang baru masuk. *Bahkan polisi yang akan kau temui di dalam adalah orang kami.*
Kakinya hampir melangkah. Refleks tujuh tahun dididik untuk percaya bahwa kantor polisi adalah tempat aman hampir mengkhianatinya.
"Alika." Tangan Reno mencengkeram lengannya dari belakang, keras, sampai sakit. "Jangan masuk."
Ia menoleh. Wajah Reno pucat. Jurnalis itu sudah melihat apa yang dilihat Alika — dan lebih dari itu, ia melihat dua pria bertubuh tegap yang tadi mengintai dari sedan hitam kini berdiri di sisi lobi, di dalam, di antara mereka dan satu-satunya pintu keluar lain.
"Kita sudah di sini," bisik Alika, suaranya nyaris tak keluar.
"Justru karena kita di sini." Reno menariknya selangkah mundur.
Lalu keberuntungan datang dari arah yang tak pernah mereka rencanakan.
Di seberang halaman kantor polisi, sekelompok wartawan tiba-tiba berhamburan keluar dari minibus. Belasan orang dengan kamera dan mikrofon, berlari, berteriak nama seseorang. Bukan nama Alika. Bukan nama Yusuf. Ternyata pagi itu seorang artis yang terjerat kasus narkoba dijadwalkan diperiksa di kantor polisi yang sama, dan rombongan pers menyerbu seperti air bah membobol bendungan. Lampu blitz menyala bertubi-tubi. Petugas berseragam berlarian menahan kerumunan.
Lobi yang sedetik lalu hening kini meledak menjadi kekacauan.
Perwira berbintang tiga itu menoleh ke arah keributan, senyumnya retak sekejap. Dua pria tegap bergeser, ragu, terbelah antara menjaga pintu dan menghindari kamera. Yusuf Wibawa — pengacara yang seumur hidupnya menghindari sorotan yang tak ia kendalikan — secara naluriah memalingkan wajah dari deretan lensa yang berdatangan.
Itulah celahnya. Satu detik kebimbangan musuh.
"Sekarang," kata Reno.
Mereka berbalik dan menyatu ke dalam arus wartawan. Alika menunduk, membiarkan rambutnya jatuh menutupi wajah, berjalan cepat tetapi tidak berlari, karena orang yang berlari menarik perhatian dan orang yang berjalan di tengah kerumunan menjadi tak terlihat. Bahu beradu bahu. Seseorang menginjak kakinya. Mikrofon hampir menghantam pelipisnya. Ia tak peduli. Ia terus bergerak menjauh dari pintu kaca, menembus tubuh-tubuh asing yang riuh, menuju gerbang.
Di belakangnya, samar, ia mendengar suara Yusuf memanggil. Tidak berteriak — Yusuf tak pernah berteriak. Hanya menyebut namanya satu kali, "Alika," dengan nada seorang ayah yang kecewa pada anak yang berlari ke jalan raya. Bunyi itu menempel di tengkuknya seperti tangan dingin.
Mereka tembus ke trotoar. Reno sudah memanggil taksi daring sejak di lobi; sebuah mobil abu-abu berhenti tepat di tepi jalan. Mereka melompat masuk. Reno menyebutkan alamat acak di arah berlawanan dari apartemen Alika, dari firma, dari semua tempat yang musuh tahu.
Mobil melaju. Alika menoleh ke belakang lewat kaca. Di anak tangga kantor polisi, di antara lautan kepala dan kamera, ia menangkap satu sosok yang berdiri diam tak ikut bergerak — Yusuf Wibawa, menatap lurus ke arah taksi yang menjauh. Tak mengejar. Tak panik. Hanya mencatat. Seakan berkata: *kau menang hari ini, tapi hanya hari ini.*
"Mereka tidak mengejar," kata Alika, napasnya masih putus-putus.
"Tidak perlu." Reno menyeka keringat di dahinya. "Mereka tahu rumahmu. Tahu kantormu. Tahu nomor ponselmu. Buat apa mengejar di depan tiga puluh kamera?" Ia menelan ludah. "Alika, hampir saja. Kalau kau masuk pintu itu—"
"Aku tahu." Suaranya datar. Tangannya gemetar di pangkuan, dan ia membencinya. "Aku tahu."
Ia menggenggam tasnya erat-erat. Di dalamnya, terbungkus plastik, amplop dari orang mati: visum asli dengan tanda tangan basah Saraswati, dan flashdisk berisi suara perempuan yang dibunuh karena menolak berbohong. Bukti yang nyaris ia bawa masuk dengan sukarela ke tangan orang-orang yang akan membakarnya.
Polisi adalah orang mereka. Pikiran itu mengubah peta dunia di kepalanya. Selama ini ia membayangkan ada garis pemisah: di satu sisi penjahat, di sisi lain hukum yang akan menolongnya jika ia cukup pintar membuktikan. Sekarang garis itu lenyap. Tak ada sisi aman. Tak ada seragam yang bisa dipercaya hanya karena seragam.
"Reno." Ia menoleh. "Kita tidak bisa lapor ke siapa pun yang punya seragam dan pangkat di sistem ini. Tidak sampai kita tahu siapa yang bersih dan siapa yang tidak."
Reno mengangguk pelan, matanya menatap jalanan yang berlari mundur di luar jendela. "Lalu kita lapor ke siapa?"
Alika tidak langsung menjawab. Ia menatap tasnya, menatap amplop yang hampir merenggut nyawanya, dan untuk pertama kali sejak menemukan berkas berdebu itu, ia berpikir bukan seperti pengacara yang percaya pada pengadilan, melainkan seperti orang yang harus bertahan hidup lebih dulu sebelum bisa menuntut keadilan.
"Ke semua orang sekaligus," katanya akhirnya. "Sampai terlalu terang untuk dipadamkan."
Taksi membelok, dan kota menelan mereka.