"Apa maksudmu tentang ayahku?" Suara Alika nyaris tidak keluar.
Di seberang telepon, Yusuf Wibawa terdengar menghela napas, seolah menyesali apa yang akan ia katakan. "Ayahmu, Hakim Pramesti, adalah orang baik. Terlalu baik. Tahun 2019, dia ditunjuk sebagai salah satu hakim yang akan menangani banding kasus Bima Satria. Kau tahu itu?"
Alika tidak tahu. Tubuhnya mendingin.
"Dia mulai membaca berkas dengan teliti. Persis seperti yang kau lakukan sekarang. Dia menemukan kejanggalan yang sama. Visum, kesaksian, semuanya. Dan dia, seperti dirimu, tidak bisa membiarkannya." Suara Yusuf melembut, dan justru itu yang membuatnya terdengar lebih mengerikan. "Dia menolak 'titipan'. Dia bilang akan membuka kembali semuanya. Tiga minggu kemudian, dia terkena serangan jantung di rumahnya sendiri. Sangat disayangkan."
Air mata panas menggenang di mata Alika. Tangannya gemetar memegang ponsel. Reno, yang menyetir di sampingnya, menoleh dengan wajah cemas.
"Kau membunuhnya," bisik Alika.
"Aku tidak membunuh siapa pun, Alika. Aku seorang pengacara. Aku hanya... mengelola masalah." Jeda panjang. "Aku menceritakan ini bukan untuk menyakitimu. Aku menceritakannya supaya kau mengerti. Ini bukan pertarungan yang bisa kau menangkan. Orang-orang yang jauh lebih kuat darimu sudah mencoba dan gagal. Ayahmu mencoba. Dr. Saraswati mencoba. Hendrawan Kusuma mencoba. Mereka semua sekarang di bawah tanah." Suaranya menajam. "Serahkan amplop itu. Mundur ke Surabaya. Hidup. Atau lanjutkan, dan susul ayahmu. Pilihanmu, Nak. Kau punya waktu sampai besok pagi."
Telepon terputus.
Alika menatap kosong ke jalan di depan. Tujuh tahun ia mengira ayahnya mati karena penyakit. Tujuh tahun ia menyimpan duka yang salah alamat. Dan kini kebenaran itu menghantamnya seperti palu: ayahnya mati karena melakukan persis apa yang sedang ia lakukan sekarang. Karena bertanya. Karena tidak diam.
"Alika." Suara Reno lembut. "Apa yang dia katakan?"
Alika tidak langsung menjawab. Ia menatap deretan baliho Ardian Cakra yang lewat di sisi jalan, senyum lebar pria yang membangun kerajaannya di atas mayat-mayat orang yang berani bertanya. Ayahnya. Saraswati. Hendrawan. Dan jika ia menyerah sekarang, Bima Satria akan mati perlahan di balik jeruji, lalu namanya akan menyusul ke daftar yang sama: orang-orang yang kebenarannya terkubur.
Lalu sesuatu di dalam dirinya, yang sebelumnya gemetar oleh takut, mengeras menjadi sesuatu yang lain. Bukan keberanian yang nekat. Tapi keputusan yang dingin dan jernih, keputusan seorang anak hakim yang akhirnya mengerti warisan sebenarnya yang ditinggalkan ayahnya. Bukan harta. Bukan nama. Tapi satu prinsip: hukum yang adil dimulai dari satu orang yang berani bertanya saat semua orang memilih diam.
"Reno," kata Alika, dan suaranya tidak lagi gemetar. "Berhenti di kantor polisi."
"Alika, dia baru saja mengancammu. Mereka membunuh ayahmu. Mungkin kita perlu berpikir ulang—"
"Justru karena mereka membunuh ayahku." Alika menoleh, dan matanya kering, berkilat. "Selama tujuh tahun ayahku menjadi vonis yang salah, sama seperti Bima. Dicap mati karena penyakit, padahal dia dibunuh karena kebenaran. Aku tidak akan membiarkan vonis itu berdiri. Tidak untuk ayahku. Tidak untuk Bima. Tidak untuk siapa pun lagi."
Ia membuka laptopnya, menarik file memori PK dan laporan pidana yang sudah ia susun semalaman, lalu mengirim salinan ke Reno, ke email cadangan, ke jurnalis di luar negeri, ke setiap saluran yang bisa ia jangkau. Asuransi nyawa, dikalikan sepuluh.
"Kau yakin?" tanya Reno, memarkir mobil di depan gedung kepolisian. "Begitu kita masuk ke sana, tidak ada jalan kembali. Mereka akan tahu dalam hitungan menit. Dan mereka memberimu waktu sampai besok pagi."
"Itulah kenapa kita harus masuk sekarang." Alika mengumpulkan dokumen dan flashdisk ke dalam tas. "Mereka pikir mereka memberiku waktu untuk takut. Tapi waktu yang sama bisa kupakai untuk menyerang lebih dulu." Ia menatap Reno. "Kau bawa kameramu? Rekam semuanya. Kalau aku akan meledakkan ini, biar meledak di depan publik, terlalu terang untuk ditutup."
Reno menatapnya lama, lalu tersenyum, senyum dua orang gila yang memutuskan melawan kerajaan. "Demi Tuhan, Pramesti. Ayahmu pasti bangga."
Mereka turun dari mobil. Langit Jakarta mendung berat, seolah menahan napas. Alika berjalan menaiki anak tangga kantor polisi dengan tas berisi tujuh tahun kebenaran yang terkubur, jantungnya berdebar tapi langkahnya mantap.
Di puncak tangga, sebelum membuka pintu, ponselnya bergetar sekali lagi. Satu pesan dari nomor tak dikenal. Bukan dari Yusuf. Sebuah foto.
Foto dirinya, diambil dari kejauhan, beberapa detik lalu, menaiki tangga ini. Di bawah foto, satu baris teks:
"Kami selalu selangkah di depanmu. Bahkan polisi yang akan kau temui di dalam adalah orang kami. Selamat datang di sidang yang sebenarnya, Bu Pengacara."
Alika membeku di depan pintu kaca. Di balik kaca itu, di lobi kantor polisi, seorang perwira tinggi berdiri menatapnya. Tersenyum. Menunggu. Dan di samping perwira itu, dengan jas abu-abu rapi dan senyum yang sama seperti di brosur firma, berdiri Yusuf Wibawa.
Mereka sudah tahu ia akan datang ke sini. Mereka selalu tahu.
Tangan Alika terhenti di gagang pintu. Di belakangnya, Reno berbisik panik, "Alika, jangan masuk—"
Tapi pintu kaca itu mulai terbuka dari dalam.