"Siapa lagi yang tahu kita ke Cipinang hari ini?" Reno bertanya, suaranya rendah, saat mereka duduk di mobil yang diparkir beberapa blok dari lapas.
Alika memutar ingatannya. "Tidak banyak. Kau. Aku." Ia berhenti. "Dan Pram."
"Siapa Pram?"
"Pramudya. Junior di firma. Satu-satunya orang di kantor yang aku percaya." Alika menelan ludah. "Dia membantuku diam-diam. Mengecek jadwal sidang lama, mencari arsip yang sudah dipindahkan. Kemarin aku minta tolong dia cek apakah ada hambatan administrasi untuk surat kuasa narapidana. Aku menyebut Cipinang."
Reno menatapnya tajam. "Kau percaya orang dari dalam firma yang kita curigai dikendalikan Wibawa?"
"Dia masih mahasiswa magang waktu kasus Bima. Dia tidak mungkin terlibat." Tapi bahkan saat mengucapkannya, keraguan menggerogoti Alika. Tidak terlibat tujuh tahun lalu bukan berarti tidak bisa direkrut sekarang.
Ia meraih ponsel dan menelepon Pram. Dijawab pada dering kedua.
"Mbak Alika!" Suara Pram terdengar panik, lebih tinggi dari biasanya. "Mbak ada di mana? Mbak harus hati-hati. Tadi pagi Pak Yusuf memanggil saya ke ruangannya. Dia tanya-tanya soal Mbak. Apa yang Mbak kerjakan, ke mana Mbak pergi. Saya bilang tidak tahu, tapi—"
"Pram." Alika memotong, suaranya tenang tapi tegas. "Apa kau bilang ke dia bahwa aku berencana ke Cipinang hari ini?"
Hening di ujung sana. Hening yang terlalu lama.
"Pram."
"Saya..." Suara pemuda itu pecah. "Dia menekan saya, Mbak. Dia bilang kalau saya tidak jujur, kontrak magang saya dicabut, dan saya tidak akan pernah bisa kerja di firma mana pun di Jakarta. Dia bilang Mbak sedang dalam masalah besar dan dia cuma mau membantu Mbak sebelum terlambat. Saya... saya tidak tahu, Mbak. Saya cuma sebut Cipinang. Saya tidak tahu itu berbahaya. Maafkan saya. Saya tidak tahu—"
Alika memejamkan mata. Jadi begitu. Bukan pengkhianatan dari kebencian, tapi dari ketakutan. Sama seperti Darto. Sama seperti dr. Saraswati yang ditekan. Itulah cara kerja kekuasaan seperti Ardian Cakra dan Yusuf Wibawa: mereka tidak butuh banyak penjahat, mereka hanya butuh banyak orang yang takut.
"Tidak apa-apa, Pram," kata Alika pelan, dan ia sungguh-sungguh. "Aku tidak menyalahkanmu. Dengar baik-baik. Mulai sekarang, jauhi semua ini. Jangan bantu aku lagi. Jangan cari tahu apa pun. Selamatkan dirimu. Mengerti?"
"Tapi Mbak—"
"Mengerti, Pram?"
"...Iya, Mbak. Mbak, hati-hati. Pak Yusuf, dia... matanya tadi tidak seperti orang yang mau membantu. Dia seperti orang yang sedang berburu."
Alika menutup telepon dan menyandarkan kepala ke kursi. Reno menatapnya menunggu.
"Bukan pengkhianat," kata Alika. "Cuma anak yang ketakutan diperas bosku. Tapi hasilnya sama. Wibawa tahu setiap langkahku, kadang sebelum aku melangkah."
"Berarti firma sudah bukan tempat aman, dan tidak akan pernah lagi." Reno mengetuk setir. "Pertanyaannya sekarang: bagaimana kau mendaftarkan PK tanpa surat kuasa dari Bima, sementara mereka menyembunyikannya?"
Alika menatap ke depan, otaknya berputar mencari celah hukum. Lalu ia teringat sesuatu dari kuliah hukum acara, sebuah ketentuan yang jarang dipakai.
"Ada cara lain," katanya pelan. "Permohonan PK memang diajukan oleh terpidana atau ahli warisnya. Tapi ada yurisprudensi, dan ketentuan dalam undang-undang, yang membuka ruang bagi pihak tertentu untuk bertindak demi kepentingan terpidana dalam keadaan khusus. Dan lebih penting lagi," matanya menyala, "kalau aku tidak bisa lewat pintu PK dulu, aku bisa lewat pintu lain. Pidana baru. Laporan pidana atas pemalsuan surat, pemalsuan visum, dan keterangan palsu. Itu delik baru, dengan tersangka baru: Yusuf Wibawa. Begitu laporan itu masuk dan diproses, kebusukan kasus lama akan ikut terbongkar. Dan aku tidak butuh surat kuasa Bima untuk melaporkan kejahatan yang aku temukan sendiri."
Reno mulai tersenyum. "Kau mau menyerang dari sisi yang tidak mereka jaga."
"Mereka sibuk menutup pintu PK. Mereka memindahkan Bima, mereka mengawasi Cipinang." Alika membuka laptopnya. "Tapi mereka lupa bahwa pemalsuan visum dr. Saraswati adalah kejahatan tersendiri. Dan aku punya rekaman korbannya menyebut nama pelakunya. Aku akan melaporkan Yusuf Wibawa ke polisi. Bukan polisi sembarangan, biar tidak ditutup lagi. Aku akan bawa ini ke jalur yang lebih tinggi, ke media, ke publik, bersamaan. Supaya kalau mereka coba membungkamnya, seluruh negeri sudah melihat."
"Itu," kata Reno, mulai menyalakan mobil, "atau itu yang akan membuatmu jadi target nomor satu mereka."
"Aku sudah jadi target sejak aku membuka map itu." Alika menutup laptop. "Sekarang aku cuma mengubah diri dari target yang diam menjadi target yang menyerang balik."
Mereka melaju menuju pusat kota, menuju kantor polisi tempat Alika akan menyalakan korek api ke tumpukan rahasia yang sudah disimpan tujuh tahun. Tapi di tengah jalan, ponsel Alika berdering. Nomor tak dikenal. Ia mengangkatnya.
Suara di seberang dalam, tenang, dan sangat akrab. Suara Yusuf Wibawa.
"Alika. Aku tahu apa yang ada di tanganmu. Amplop Saraswati, kan?" Jeda. "Aku ingin menawarkan satu kesempatan terakhir untuk berhenti, demi kebaikanmu. Karena ada hal tentang ayahmu yang belum kau ketahui. Tentang bagaimana dia benar-benar meninggal. Dan tentang siapa yang menandatangani surat kematiannya."
Tangan Alika membeku di ponsel.