"Kita harus pergi. Sekarang." Reno sudah berdiri, menyambar laptop dan flashdisk.
"Mira ikut," kata Alika. "Kalau kita tinggalkan dia, mereka—"
"Saya tidak akan ke mana-mana," potong Mira, mengejutkan mereka berdua. Suaranya bergetar, tapi tegak. "Saya sudah berlari dari ini selama tujuh tahun. Saya pindah rumah, saya ganti nomor, saya hidup dalam ketakutan. Saya lelah. Kakak saya menunggu seseorang seperti kalian. Bawa amplop itu. Buat berarti. Saya akan tinggal, dan kalau mereka datang ke sini, biar saya yang menghadapi. Pergi."
Tidak ada waktu untuk berdebat. Alika menggenggam tangan Mira sejenak, sebuah janji tanpa kata, lalu mereka pergi.
Di dalam mobil, Reno mengemudi dengan rute berputar-putar, matanya terus menyapu spion. "Mereka tahu kita punya amplop itu. Itu mengubah segalanya. Selama ini mereka cuma mengintimidasi. Sekarang kita memegang sesuatu yang bisa menghancurkan mereka. Mereka tidak akan main-main lagi."
"Kita harus bertindak cepat," kata Alika, otaknya berputar menyusun strategi hukum. "Selama bukti ini hanya ada di tangan kita, kita rentan. Mereka bisa merampasnya, menghancurkannya, menghilangkan kita. Tapi begitu bukti ini masuk ke ranah hukum secara resmi, terdaftar, tercatat, ada nomor perkaranya, mereka tidak bisa lagi sekadar membungkamnya. Membunuh saksi itu satu hal. Menghapus perkara yang sudah terdaftar di Mahkamah Agung, itu hal lain."
"PK," kata Reno. "Peninjauan Kembali."
"PK," Alika mengangguk. "Visum asli yang dipalsukan, rekaman dr. Saraswati, perbedaan waktu kematian, semuanya adalah novum, bukti baru yang dulu tidak terungkap di persidangan. Ini dasar yang kuat untuk mengajukan PK. Kalau aku bisa mendaftarkannya secara resmi sebagai kuasa hukum Bima, bukti ini jadi bagian dari berkas pengadilan. Tidak bisa dihapus diam-diam."
"Tapi kau butuh surat kuasa dari Bima. Dan kau butuh, apa namanya, kau tidak bisa pakai firma Wibawa."
"Aku akan keluar dari firma." Alika mengucapkannya, dan begitu kata-kata itu keluar, ia merasa beban di dadanya sedikit terangkat. "Aku akan menjadi pengacara mandiri. Atau cari pembela yang berani. Aku akan menemui Bima, minta surat kuasa, dan mendaftarkan PK secepat mungkin."
Reno menatapnya sekilas. "Kau sadar kalau kau keluar dari firma, kau kehilangan perlindungan? Penghasilan, jaringan, semuanya. Kau jadi pengacara sendirian melawan konglomerat dan calon gubernur."
"Aku tidak sendirian." Alika menatapnya. "Aku punya jurnalis keras kepala yang tidak tahu kapan harus berhenti."
Reno tersenyum tipis, untuk pertama kalinya hari itu. "Dua orang gila melawan kerajaan. Aku pernah dengar cerita berakhir lebih buruk."
Mereka menghabiskan malam itu di sebuah penginapan kecil yang dibayar tunai, jauh dari kamera dan nama. Alika tidak tidur. Ia menyusun rancangan memori Peninjauan Kembali, menata argumen, menyandingkan bukti lama dengan novum, membangun narasi hukum yang rapat dan tak terbantahkan. Tangannya bergerak cepat di keyboard, dan untuk pertama kalinya sejak menemukan map berdebu itu, ia merasa bukan lagi korban yang dikejar, melainkan pemburu yang mulai memasang jerat.
Pagi-pagi sekali, Reno mengunggah salinan terenkripsi seluruh bukti ke beberapa server berbeda, dan menitipkan satu salinan ke rekan jurnalisnya di luar negeri dengan pesan: terbitkan jika aku menghilang lebih dari tujuh hari. Asuransi nyawa, katanya.
Lalu Alika menulis surat pengunduran diri dari firma Wibawa & Rekan. Singkat, formal, tanpa menyebut alasan sebenarnya. Ia mengirimnya lewat email pukul enam pagi, dan menutup laptop dengan tangan yang anehnya stabil.
Tidak ada jalan kembali sekarang.
Pukul sembilan, mereka berkendara ke Cipinang. Alika membawa map berisi surat kuasa kosong yang harus ditandatangani Bima, dan dadanya dipenuhi campuran takut dan tekad. Hari ini, Bima Satria akan tahu bahwa untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun, ada seseorang yang benar-benar membelanya.
Tapi di gerbang lapas, seorang petugas menghentikan mereka.
"Maaf, kunjungan untuk narapidana Bima Satria ditangguhkan."
Alika mengernyit. "Ditangguhkan? Kenapa?"
Petugas itu menatap layar komputernya, lalu menatap Alika dengan wajah yang sulit dibaca. "Narapidana yang bersangkutan dipindahkan tadi malam. Transfer mendadak ke lapas lain. Atas perintah dari atas."
"Dipindahkan ke mana?"
"Informasi itu tidak bisa kami berikan."
Alika merasa tanah seolah bergeser di bawah kakinya. Mereka memindahkan Bima. Tepat saat ia akan datang dengan surat kuasa. Bukan kebetulan. Tidak pernah kebetulan.
"Mereka tahu," bisik Alika pada Reno saat mereka mundur dari gerbang. "Mereka tahu aku mau menemuinya hari ini. Mereka memindahkannya supaya aku tidak bisa dapat surat kuasa. Tanpa surat kuasa, aku tidak bisa daftarkan PK."
Wajah Reno mengeras. "Berarti ada yang membocorkan rencana kita. Seseorang yang dekat."
Alika menatap ponselnya, dan sebuah pikiran dingin merayap. Hanya segelintir orang yang tahu ia berencana ke Cipinang hari ini. Dan salah satunya bukan Reno.