Adik dr. Saraswati bernama Mira, seorang guru sekolah dasar dengan mata yang sama lelahnya seperti orang yang menyimpan rahasia terlalu lama. Mereka bertemu di rumahnya yang kecil di Bekasi, jauh dari keramaian, dengan tirai tertutup rapat.
"Kakak saya tidak mati karena kecelakaan," kata Mira tanpa basa-basi, begitu mereka duduk. "Dia tidak pernah mengemudi malam-malam. Dia rabun senja. Tidak mungkin dia menyetir sendiri ke Puncak jam tiga dini hari."
Alika dan Reno bertukar pandang.
"Sebelum meninggal," Mira melanjutkan, suaranya bergetar, "Kak Sara berubah. Dia ketakutan. Dia menitipkan amplop ini ke saya dan bilang, 'Mira, kalau aku kenapa-napa, jangan kamu serahkan ini ke polisi. Jangan ke siapa pun yang berseragam. Tunggu sampai ada orang yang datang menanyakan kasus pembunuhan Hendrawan Kusuma. Orang yang bertanya karena ingin tahu kebenaran, bukan menutupinya. Kamu akan tahu bedanya.'" Mira menatap Alika lama. "Tujuh tahun saya menunggu. Tidak ada yang datang. Saya hampir percaya kebenaran memang sudah mati bersama kakak saya."
Ia menyodorkan sebuah amplop cokelat tebal yang sudah menguning di tepinya.
Tangan Alika gemetar saat menerimanya. "Kenapa Anda percaya pada saya?"
Mira tersenyum tipis dan sedih. "Karena Anda bertanya 'kenapa Anda percaya pada saya', bukan langsung merebut amplopnya."
Di dalam amplop ada beberapa lembar dokumen dan sebuah flashdisk. Dokumen pertama adalah salinan visum asli, lengkap, dengan tanda tangan basah dr. Saraswati. Alika membandingkannya dengan visum yang ada di berkas perkara, dan tangannya membeku.
Berbeda.
Visum di berkas perkara hanya memuat satu kalimat singkat soal arah luka. Tapi visum asli ini jauh lebih rinci. Di paragraf yang sama, ada kelanjutan yang dihilangkan dari versi resmi:
Berdasarkan derajat lebam mayat dan kekakuan otot, perkiraan waktu kematian korban antara pukul 19.00 sampai 20.00 WIB.
Alika mengangkat wajah, napasnya tertahan. "Antara jam tujuh dan delapan malam."
Reno yang paham implikasinya langsung. "Tapi kesaksian Darto, dan seluruh dakwaan jaksa, menempatkan waktu pembunuhan sekitar jam sembilan empat puluh lima. Saat Bima terlihat di lift."
"Karena kalau waktu kematian sebenarnya jam tujuh sampai delapan," kata Alika, suaranya nyaris berbisik, "Bima punya alibi. Dia masih di kantor sampai jam sembilan. Ada absensi, ada rekan kerja. Dia baru berangkat ke apartemen Hendrawan setelah ditelepon, dan tiba sekitar jam sepuluh, saat Hendrawan sudah mati dua jam." Ia menatap Reno. "Mereka menggeser waktu kematian dua jam untuk mencocokkannya dengan kehadiran Bima. Mereka memalsukan visum."
Mira menutup mulutnya dengan tangan.
Reno meraih flashdisk. "Dan ini?"
"Saya tidak pernah berani membukanya," kata Mira pelan. "Saya tidak punya komputer yang aman."
Mereka membukanya di laptop Reno yang sudah diputus dari internet. Di dalamnya ada rekaman audio. Reno menekan putar.
Suara dr. Saraswati, gemetar, terdengar dari speaker.
"Namaku Saraswati Dewanti. Jika kalian mendengar ini, kemungkinan besar aku sudah tidak ada. Pada tanggal 5 Maret 2019, aku memeriksa jenazah Hendrawan Kusuma. Kesimpulanku jelas: waktu kematian antara jam tujuh dan delapan malam, dan luka mengindikasikan pelaku kidal. Dua hari setelah aku menyerahkan visum, aku didatangi seseorang. Dia memintaku merevisi waktu kematian dan menghapus catatan soal tangan kidal. Aku menolak. Lalu visum resmi yang masuk ke berkas perkara ternyata sudah diubah, dengan tanda tanganku dipalsukan. Aku melapor ke atasanku. Atasanku menyuruhku diam. Orang yang datang menekanku menyebut satu nama sebagai pihak yang 'berkepentingan'. Dia bilang..."
Rekaman terhenti sejenak, hanya ada suara napas Saraswati yang berat.
"...dia bilang aku tidak akan mau berurusan dengan orang sebesar Ardian Cakra. Dan orang yang menjadi perantara, yang datang ke ruanganku dengan setelan mahal dan bicara seperti ahli hukum, memperkenalkan dirinya sebagai pengacara. Namanya Yusuf Wibawa."
Hening pekat mengisi ruangan.
Alika merasa darahnya membeku. Di sana, dari kubur, suara seorang perempuan mati menyebut nama bosnya sendiri. Pengacara yang seharusnya membela Bima, yang justru menjadi tangan yang memalsukan bukti untuk menjeratnya.
"Astaga," bisik Reno.
Alika menatap flashdisk itu seolah benda kecil itu bisa meledak. Ia memegang novum. Bukti baru yang nyata, yang bisa membuka kembali perkara, yang bisa membebaskan Bima dan menyeret nama-nama besar ke kursi terdakwa.
Tapi ia juga baru saja memegang alasan paling kuat bagi orang-orang itu untuk membunuhnya.
Ponsel Mira tiba-tiba berdering, memecah keheningan. Wajah perempuan itu memucat saat melihat layar.
"Nomor tidak dikenal," bisiknya.
Ia mengangkatnya dengan tangan gemetar. Suara di seberang terdengar samar, tapi cukup keras untuk didengar Alika dari tempat ia duduk.
"Bu Mira. Sudah tujuh tahun amplop itu Anda simpan dengan baik. Sayang sekali tamu Anda hari ini membuat semuanya jadi rumit."
Mira menjatuhkan ponsel.
Mereka diawasi. Bahkan di sini.