Ardian Cakra.
Nama itu masih bergema di kepala Alika sepanjang perjalanan pulang. Ardian Cakra bukan sekadar pengusaha. Ia adalah konglomerat yang namanya menghiasi gedung pencakar langit, yayasan amal, dan, yang paling penting, ruang-ruang kekuasaan. Dua bulan lagi ia diisukan akan maju sebagai calon gubernur. Wajahnya tersenyum dari baliho-baliho yang mulai bermunculan di sudut-sudut kota: ARDIAN CAKRA, MEMBANGUN UNTUK SEMUA.
Termasuk membangun jembatan, pikir Alika getir.
Di apartemennya yang sempit malam itu, Alika menyebar fotokopi berkas di atas lantai. Ia tidak bisa tidur. Ia tidak mau tidur. Ia menelusuri jejak proyek jembatan yang disebut Bima melalui dokumen publik yang bisa ia akses: lelang pemerintah, akta perusahaan, berita lama.
Pola itu mulai terbentuk seperti gambar yang muncul dari kabut.
Maret 2019: Hendrawan Kusuma, pemilik PT Kusuma Bangun Sejahtera, memegang kontrak proyek Jembatan Kali Serayu senilai dua ratus tiga puluh miliar. April 2019: Hendrawan tewas, Bima ditahan. Juni 2019: kontrak proyek dialihkan ke Grup Cakrawala milik Ardian Cakra, melalui adendum yang ditandatangani pejabat dinas yang, Alika mencatat namanya, kini menjadi salah satu tim sukses kampanye Ardian.
Bukan kebetulan. Kebetulan tidak berbaris serapi ini.
Alika membuka laptopnya dan mulai mengetik kronologi, menyusun benang-benang yang sebelumnya berserakan. Tapi semakin ia menyusun, semakin ia sadar betapa rapuhnya posisinya. Ia tidak punya bukti langsung. Ia hanya punya kejanggalan, pola, dan kesaksian seorang narapidana yang tidak akan dipercaya siapa pun. Yang ia punya adalah teori. Dan teori, di ruang sidang, tidak lebih berharga dari kertas tisu.
Ponselnya bergetar. Pesan dari nomor tak dikenal.
"Sebaiknya kamu pulang lebih awal. Jalanan tidak aman malam-malam."
Alika menatap layar. Tidak ada nama. Tidak ada konteks. Tapi tubuhnya mendingin sendiri. Ia berdiri dan mengintip ke jendela. Jalanan di bawah sepi, hanya ada satu mobil sedan hitam diparkir di seberang, mesin menyala, lampu mati.
Ia menutup tirai dengan tangan gemetar dan menertawakan dirinya sendiri. Paranoid. Mungkin salah kirim. Mungkin teman lama. Tapi ia tahu, di lubuk hatinya, ia tahu, bahwa seseorang sudah memperhatikan.
Esok paginya, Alika datang ke firma lebih awal dari biasanya. Ia ingin memeriksa satu hal: arsip internal pembelaan Bima. Catatan strategi, korespondensi, apa pun yang dibuat tim Yusuf Wibawa pada tahun 2019.
Tapi ketika ia membuka folder fisik di lemari arsip lantai tiga, map perkara 417 yang seharusnya berisi dokumen kerja internal nyaris kosong. Hanya ada surat-surat formal. Tidak ada satu pun memo strategi, tidak ada catatan rapat, tidak ada korespondensi dengan klien. Untuk sebuah perkara pembunuhan seberat itu, kekosongan ini sendiri adalah sebuah pernyataan.
Seseorang sudah membersihkannya.
"Mencari sesuatu, Alika?"
Suara itu membuatnya nyaris menjatuhkan map. Yusuf Wibawa berdiri di ambang pintu ruang arsip, jas abu-abu rapi, senyum hangat yang sama yang muncul di brosur firma. Tapi matanya tidak tersenyum.
"Pak Yusuf." Alika menegakkan tubuh, memaksa suaranya ramah. "Saya sedang merapikan arsip lama untuk digitalisasi. Tugas dari Pak Reza."
"Ah, ya. Proyek digital itu." Yusuf melangkah masuk, perlahan, tangannya terlipat di belakang punggung. Ia menatap map di tangan Alika. "Perkara 417. Kasus lama. Salah satu kekalahan saya yang paling pahit." Ia menghela napas, dan untuk sesaat tampak sungguh-sungguh sedih. "Anak muda itu, Bima. Buktinya terlalu kuat. Sidik jari, kesaksian, motif. Kadang sebagai pengacara kita harus menerima bahwa klien kita memang bersalah."
"Saya membaca berkasnya," kata Alika, hati-hati menimbang setiap kata. "Ada hal yang membuat saya penasaran. Kesaksian satpam yang berubah antara laporan awal dan BAP. Apakah Bapak sempat mengeksplorasi itu?"
Senyum Yusuf tidak bergeser sedikit pun, tapi suhu di ruangan itu terasa turun beberapa derajat.
"Kau punya mata yang tajam," katanya pelan. "Itu kualitas bagus untuk seorang pengacara. Tapi juga bisa berbahaya kalau diarahkan ke tempat yang salah." Ia mengulurkan tangan. "Berikan mapnya. Biar aku yang menyelesaikan digitalisasi perkara ini. Ada hal-hal sensitif soal klien lama yang sebaiknya tidak beredar."
Alika menyerahkan map itu. Ia tidak punya pilihan. Tapi ia sudah memotret setiap halaman yang penting tadi malam, dan ia menjaga wajahnya tetap polos.
"Tentu, Pak."
Di pintu, Yusuf berhenti. Tanpa menoleh, ia berkata, "Alika. Ayahmu hakim yang baik. Aku menghormatinya. Aku tidak ingin melihat putrinya menghancurkan karier menjanjikan karena rasa penasaran terhadap perkara yang sudah ditutup tujuh tahun lalu."
Lalu ia pergi.
Alika berdiri sendiri di ruang arsip, dan untuk pertama kalinya menyadari bahwa ayahnya tidak pernah ia ceritakan ke siapa pun di firma ini.
Yusuf Wibawa sudah mencari tahu tentang dirinya.