Alika butuh sekutu. Seseorang yang tidak terikat firma, yang punya akses ke informasi yang tidak bisa ia gali sendiri, dan yang cukup gila untuk percaya pada teori yang nyaris tanpa bukti.
Ia memikirkan satu nama: Reno Mahardika.
Mereka kuliah bersama dulu, dan Reno memilih jalur yang sangat berbeda. Ia menjadi jurnalis investigasi di sebuah media independen yang lebih sering hidup dari donasi pembaca daripada iklan. Reno punya reputasi sebagai pengganggu yang keras kepala, jenis orang yang menerbitkan berita yang membuat orang berkuasa menelepon pengacara mereka pukul tiga pagi.
Mereka bertemu di sebuah kedai kopi kecil di Tebet, jauh dari kantor mana pun.
"Jadi," kata Reno setelah Alika selesai menjelaskan, "kamu bilang Bima Satria, kasus pembunuhan Kebayoran tujuh tahun lalu, sebenarnya dijebak. Dan dalangnya Ardian Cakra. Calon gubernur." Ia menyeruput kopinya pelan. "Kamu sadar kamu baru saja menyebut nama yang bisa membuat kita berdua kehilangan banyak hal."
"Aku sadar."
Reno menatapnya lama. Mereka belum bertemu bertahun-tahun, tapi ia masih mengenali tatapan Alika yang dulu, tatapan yang sama saat ia mendebat dosen yang salah di kelas. Keras kepala. Tidak bisa membiarkan ketidakadilan lewat begitu saja.
"Kenapa kamu peduli?" tanya Reno. "Ini bukan kasusmu. Tidak ada yang membayar. Kamu bisa kehilangan pekerjaan, atau lebih buruk."
Alika memutar cangkirnya. "Kamu ingat ayahku?"
"Hakim Pramesti. Tentu. Orang lurus yang langka."
"Dia mati karena serangan jantung. Itu yang resmi." Alika menatap permukaan kopinya. "Tapi enam bulan sebelum meninggal, dia menolak menerima 'titipan' dalam sebuah perkara korupsi. Dia jadi sering ketakutan. Tidak tidur. Bilang ada yang mengikutinya. Kami semua pikir dia stres." Ia mengangkat wajah. "Aku tidak pernah tahu pasti. Tapi aku tahu rasanya melihat orang yang kucintai dihancurkan oleh sistem yang seharusnya melindunginya. Dan aku tidak bisa membiarkan Bima mengalami hal yang sama tanpa satu pun orang berdiri di sisinya."
Reno mengangguk pelan. Itu cukup. "Oke. Apa yang kamu butuhkan dariku?"
"Dua hal. Pertama, satpam itu, Darto. Aku perlu tahu di mana dia sekarang. Kalau dia mengubah kesaksiannya karena ditekan atau dibayar, dia bisa jadi saksi kunci untuk membuka kembali perkara ini lewat Peninjauan Kembali."
"PK," kata Reno. "Upaya hukum luar biasa. Butuh novum, bukti baru. Susah, tapi mungkin."
"Persis. Kedua," Alika menurunkan suaranya, "aku perlu tahu hubungan antara Yusuf Wibawa dan Ardian Cakra. Karena aku punya firasat buruk bahwa pengacara yang seharusnya membela Bima justru bekerja untuk orang yang menjebaknya."
Reno bersiul rendah. "Kalau itu benar, itu bukan cuma vonis salah. Itu pengkhianatan profesi paling kotor yang bisa kubayangkan."
Tiga hari kemudian, Reno mengirim pesan terenkripsi. Ia menemukan Darto.
Satpam itu tidak lagi bekerja di apartemen Kebayoran. Ia kini tinggal di sebuah rumah sederhana namun jauh lebih layak dari gaji seorang satpam di sebuah kompleks di pinggiran Depok. Menurut catatan, ia membeli rumah itu secara tunai pada akhir 2019. Beberapa bulan setelah memberikan kesaksian yang memenjarakan Bima.
"Tunai," ulang Alika saat mereka mengamati rumah itu dari dalam mobil Reno. "Seorang satpam membeli rumah tunai."
"Aku sudah cek riwayatnya," kata Reno. "Tidak ada warisan. Tidak ada bisnis. Tidak ada apa-apa yang menjelaskan uang itu."
Alika menatap rumah itu. Tirai di jendela bergerak sedikit. Ada seseorang di dalam, mengawasi mereka mengawasinya.
"Aku mau bicara dengannya," kata Alika.
"Sekarang? Dia tidak akan membuka pintu untuk pengacara yang muncul tiba-tiba."
"Tidak sebagai pengacara." Alika membuka pintu mobil. "Sebagai seseorang yang tahu rahasianya."
Ia melangkah menyeberangi jalan, dan saat ia mengetuk pintu, ia tidak tahu bahwa di ujung jalan, sebuah sedan hitam yang sama dengan yang ia lihat di bawah apartemennya tempo hari, perlahan menyalakan mesin.