Mencari rekan kerja Bima sama seperti mencari orang yang sengaja tidak ingin ditemukan.
Alika mulai dari berkas perkara — daftar saksi yang pernah diperiksa polisi tahun 2019. Di sana ada nama beberapa pegawai PT Kusuma Bangun Sejahtera. Satu nama menarik perhatiannya karena di kolom jabatan tertulis "insinyur struktur": Wahyu Setiabudi.
Reno melacak jejak Wahyu lewat jaringannya. Hasilnya tipis dan aneh. Wahyu Setiabudi berhenti dari perusahaan tiga bulan setelah Hendrawan meninggal. Setelah itu, nyaris tidak ada jejak. Tidak ada media sosial aktif, tidak ada perusahaan baru yang mencantumkannya, tidak ada alamat terbaru. Seolah lelaki itu menguap.
"Orang tidak menguap," kata Reno, menutup laptop di kontrakan. "Orang sembunyi. Dan orang yang sembunyi selalu meninggalkan satu benang ke masa lalu yang tidak bisa dia putus. Keluarga."
Butuh sembilan hari. Reno menemukan ibu Wahyu, seorang perempuan tua di sebuah kota kecil di Jawa Tengah, masih tinggal di rumah yang sama, masih memakai nomor telepon yang sama selama dua puluh tahun. Reno tidak meneleponnya — telepon bisa disadap. Mereka datang langsung.
Ibu Wahyu menerima mereka dengan curiga, di teras rumah kecilnya yang bersih, dengan tanaman dalam pot kaleng bekas. Saat Alika menyebut nama anaknya, perempuan tua itu langsung menutup pintu setengah.
"Anak saya tidak ada," katanya. "Sudah lama merantau. Saya tidak tahu di mana."
"Bu," kata Alika lembut, tetap berdiri di luar pagar, tidak memaksa masuk. "Saya tidak dari polisi. Saya tidak dari perusahaan. Saya pengacara, dan saya sedang membela seorang lelaki bernama Bima Satria yang dipenjara tujuh tahun untuk pembunuhan yang tidak ia lakukan." Ia berhenti. "Saya rasa anak Ibu tahu kenapa Bima dipenjara. Dan saya rasa anak Ibu sembunyi karena takut bernasib sama."
Perempuan tua itu diam. Tangannya yang memegang pintu gemetar sedikit.
"Saya bukan mau mencelakakan anak Ibu," lanjut Alika. "Saya mau dia tidak perlu sembunyi lagi. Suatu hari nanti."
Lama sekali tidak ada jawaban. Lalu perempuan itu membuka pintu sedikit lebih lebar.
"Tujuh tahun," katanya, suaranya serak. "Tujuh tahun anak saya tidak pernah pulang Lebaran. Dia menelepon dari nomor yang ganti-ganti. Dia bilang dia baik-baik saja, tapi suaranya tidak pernah baik-baik saja." Mata tua itu berkaca. "Dia pernah bilang, satu kali, kalau ada yang mencarinya dengan sungguh-sungguh ingin tahu kebenaran, bukan ingin menutupnya, dia titip pesan." Perempuan itu menatap Alika lama, seperti mengukur. "Tapi saya tidak tahu apakah Mbak yang dia maksud, atau orang yang dia takutkan."
Alika mengeluarkan satu hal dari tasnya — bukan kartu nama firma yang sudah ia tinggalkan, tapi salinan tanda terima pendaftaran PK, dengan nama Bima Satria tercetak jelas, dan stempel pengadilan. "Ini permohonan resmi untuk membuka kembali perkara Bima," katanya. "Sudah tercatat di pengadilan. Sudah ada nomornya. Orang yang ingin menutup kebenaran tidak akan mendaftarkan ini, Bu. Mereka justru ingin menghapusnya. Saya yang mendaftarkannya."
Perempuan tua itu memandang kertas itu lama. Membaca nama Bima Satria. Lalu, dengan tangan gemetar, ia menerimanya dan menyimpannya di balik kebaya, dekat dada.
"Saya akan sampaikan ke Wahyu," katanya pelan. "Kalau dia menelepon. Itu saja yang bisa saya janjikan. Selebihnya keputusan dia. Saya cuma ibunya. Saya cuma ingin anak saya pulang sebelum saya mati."
Mereka pamit. Di mobil, Reno diam lama sebelum bicara.
"Kita tidak bisa memaksanya," katanya akhirnya. "Wahyu yang harus memilih datang. Dan dia sudah tujuh tahun memilih untuk tidak."
"Dia akan datang," kata Alika, menatap rumah kecil yang menjauh di kaca spion. "Kau lihat tadi? Ibunya menyimpan tanda terima itu dekat dada. Bukan di saku. Dekat dada." Ia menelan sesuatu yang menyesakkan. "Tujuh tahun orang itu sembunyi karena tidak ada yang berani bertanya. Begitu ada yang berani, dan begitu pertanyaannya tercatat resmi — dia akan tahu sembunyi bukan lagi satu-satunya cara untuk tetap hidup."
Lima hari kemudian, ponsel Alika berdering dari nomor yang tidak ia kenal. Bukan ancaman. Suara lelaki, pelan, hati-hati, seolah berbicara di dalam lemari.
"Anda yang membela Bima?" tanya suara itu.
Alika menahan napas. "Iya. Wahyu?"
Hening panjang di seberang. Lalu: "Saya menyimpan satu salinan. Laporan struktur asli. Yang dibuat sebelum mereka mengubah spesifikasinya." Suara itu bergetar. "Saya simpan tujuh tahun karena saya pikir suatu hari ada yang membutuhkannya. Atau supaya kalau saya mati, paling tidak ada bukti kenapa." Tarikan napas. "Saya capek sembunyi, Bu. Saya mau ini selesai."