Jembatan Kali Serayu lebih panjang dari yang Alika bayangkan.
Mereka berangkat sebelum subuh, Alika dan Reno dalam satu mobil sewaan, plus seorang lelaki tua bertopi yang Bu Hartati kenalkan sebagai Pak Sahid, mantan dosen teknik sipil yang pensiun dan tak punya apa-apa lagi untuk ditakuti. Lima jam ke arah selatan, jalanan menyempit, sawah membentang, lalu sungai yang lebar dan cokelat itu muncul di kejauhan, dan di atasnya, membentang dua ratus meter beton dan baja, jembatan yang membunuh Hendrawan Kusuma.
Mereka memarkir mobil di tepi, jauh dari pos penjaga, dan turun ke bantaran. Pak Sahid membawa tas berisi alat sederhana: palu kecil, kaca pembesar, kamera, dan sebuah alat ukur ketebalan yang ia bilang dipinjam dari laboratorium kampus lamanya.
"Lihat di sini," kata Pak Sahid, jongkok di bawah salah satu tiang penyangga. Ia menyentuh permukaan beton di sambungan dengan baja. "Kalian lihat garis-garis cokelat yang merembes keluar ini?"
Alika melihatnya. Noda kemerahan, seperti karat, mengalir dari celah sambungan ke bawah beton, meninggalkan jejak panjang seperti air mata berkarat.
"Itu karat," kata Reno.
"Itu karat yang seharusnya tidak ada." Pak Sahid mengetuk baja itu dengan palu kecil. Bunyinya tidak nyaring, agak tumpul. "Jembatan ini baru tujuh tahun. Baja struktur yang benar, dengan pelapisan yang benar, tidak akan mengeluarkan karat sebanyak ini di tahun ketujuh. Ini baja dengan mutu rendah, atau pelapisan yang dipangkas, atau dua-duanya." Ia memasang alat ukur ketebalan ke permukaan baja, menekan tombol, menunggu angka. Ia melihat angkanya, lalu mengulangi di titik lain, lalu titik ketiga. Wajahnya mengeras.
"Berapa?" tanya Alika.
"Spesifikasi kontrak untuk balok utama seperti ini, ketebalan pelat seharusnya sekian." Pak Sahid menyebut angka. "Yang saya ukur, kurang. Tidak banyak. Tapi cukup. Di tiga titik berbeda, semua kurang dari yang seharusnya." Ia berdiri perlahan, lututnya berderak. "Mereka memakai baja yang lebih tipis dari kontrak. Dan menghemat di pelapisan anti-karat. Selisih per ton mungkin tidak besar. Tapi kalikan dengan ribuan ton untuk jembatan sepanjang ini..."
"Puluhan miliar," kata Alika pelan.
"Mungkin." Pak Sahid menatap struktur di atas mereka, di mana sebuah truk baru saja menyeberang, dan getarannya terasa di tanah tempat mereka berdiri. "Tapi bukan uang yang membuat saya takut. Uang bisa dihitung." Ia menunjuk sambungan yang berkarat. "Karat masuk ke dalam. Pelan-pelan memakan baja dari dalam. Pada baja yang sudah lebih tipis dari seharusnya, proses ini lebih cepat. Saya tidak bisa bilang jembatan ini akan roboh besok. Tapi saya juga tidak bisa bilang jembatan ini aman dipakai sepuluh tahun lagi dengan beban penuh." Ia menoleh ke Alika. "Anak insinyur yang dipenjara itu — Bima — dia bilang jembatan ini bisa roboh dalam lima tahun?"
"Begitu yang dia katakan dulu, soal spesifikasi yang dia temukan."
"Dia agak terlalu pesimis. Atau agak terlalu cepat." Pak Sahid mengusap karat di jarinya. "Tapi arah pikirannya benar. Jembatan ini sakit. Dan orang-orang menyeberanginya setiap hari sambil percaya ia sehat."
Reno memotret semuanya: karat, angka di alat ukur, sambungan, truk yang menyeberang. Ia merekam Pak Sahid menjelaskan, wajah dosen tua itu tidak ditampakkan, hanya tangan dan alat dan baja.
Mereka bekerja cepat. Terlalu lama di sini berbahaya. Saat mereka mengemasi alat, sebuah mobil patroli melintas pelan di atas jembatan, melambat, lalu berhenti. Dua petugas turun, memandang ke arah bantaran.
"Naik," kata Reno tenang. "Pelan saja. Kita turis yang lihat sungai."
Mereka mendaki kembali ke tepi jalan, tersenyum sopan ke arah petugas, masuk ke mobil. Petugas itu mengawasi tapi tidak menghampiri. Mobil sewaan mereka berbalik arah dan melaju menjauhi jembatan.
Sepuluh kilometer kemudian, di sebuah warung makan sederhana, mereka berhenti. Pak Sahid memesan teh hangat dan menatap cangkirnya lama.
"Saya akan tulis laporannya," katanya. "Ditandatangani nama saya. Saya tua, anak-anak saya sudah mapan, istri saya sudah tiada. Mereka tidak punya apa-apa untuk diambil dari saya." Ia mengangkat wajah. "Tapi laporan saya cuma satu suara. Untuk pengadilan, untuk publik, kalian butuh lebih dari satu insinyur tua dengan palu. Kalian butuh dokumen aslinya. Laporan struktur yang dibuat waktu jembatan ini direncanakan. Yang menunjukkan apa yang seharusnya dipakai, dibandingkan apa yang akhirnya dipakai."
"Siapa yang punya dokumen itu?" tanya Alika.
Pak Sahid menyeruput tehnya. "Orang yang menghitungnya. Insinyur strukturnya. Kalau dia masih hidup, dan kalau dia masih menyimpan salinannya, dan kalau dia belum dibungkam seperti yang lain." Ia meletakkan cangkir. "Tiga kalau yang besar, Nak."
Di kursi belakang, Alika sudah memikirkan satu nama. Rekan kerja Bima. Insinyur lain di PT Kusuma Bangun Sejahtera yang mungkin ikut tahu soal baja itu. Seseorang yang, kalau masih hidup, pasti sudah bersembunyi sangat dalam selama tujuh tahun.