Juru bicara Grup Cakrawala bernama Fandi Prakoso, lelaki rapi berusia awal empat puluhan, dengan jam tangan yang lebih mahal dari mobil Reno. Reno menjebaknya bukan dengan kasar, tapi dengan undangan yang terlalu menggoda untuk ditolak: sebuah diskusi daring soal infrastruktur dan transparansi, disiarkan langsung, tampak netral, tampak akademis. Fandi datang merasa akan berceramah. Ia tidak tahu Reno datang dengan dokumen.
Mereka duduk berhadapan di studio kecil, dua kamera, satu moderator dari sebuah forum mahasiswa teknik. Ribuan orang menonton langsung.
"Pak Fandi," Reno membuka, ramah, "Grup Cakrawala mengambil alih proyek Jembatan Kali Serayu pada pertengahan dua ribu sembilan belas. Bisa Bapak ceritakan bagaimana proses pengambilalihan itu?"
Fandi tersenyum. "Tentu. Proyek itu sebelumnya dipegang kontraktor lain yang mengalami kendala. Kontraknya kemudian dialihkan secara resmi, sesuai prosedur, melalui adendum yang ditandatangani pihak dinas. Semua legal. Semua tercatat."
"Kendala apa yang dialami kontraktor sebelumnya?"
"Saya kurang ingat detailnya. Yang jelas, mereka tidak bisa melanjutkan, jadi proyek dialihkan demi kepentingan publik. Supaya jembatan tetap selesai."
Reno mengangguk, lalu membuka mapnya. "Kontraktor sebelumnya adalah PT Kusuma Bangun Sejahtera. Pemiliknya Hendrawan Kusuma." Ia berhenti. "Pak Hendrawan meninggal pada empat Maret dua ribu sembilan belas. Kontrak dialihkan pada Juni dua ribu sembilan belas. Jadi 'kendala' yang Bapak maksud adalah kematian pemilik perusahaan?"
Fandi berkedip. "Saya... ya, mungkin itu salah satu faktornya. Saya tidak ada di posisi itu waktu itu."
"Adendum pengalihan kontrak ditandatangani pejabat dinas bernama," Reno melihat dokumennya, "yang kebetulan sekarang menjadi bagian dari tim sukses pencalonan Pak Ardian Cakra. Apakah Bapak tahu itu?"
Diam sejenak. Fandi memaksakan senyum. "Banyak orang berpindah pekerjaan, Pak Reno. Itu bukan hal aneh. Pejabat pensiun, lalu bergabung ke tim politik. Wajar."
"Wajar," Reno mengulang pelan. "Mari kita kembali ke kronologi, supaya saya tidak salah. Bapak tadi bilang proyek dialihkan 'demi kepentingan publik, supaya jembatan tetap selesai'. Tapi sebelum meninggal, Pak Hendrawan justru hampir membatalkan spesifikasi baja yang dipakai di proyek itu karena dianggap tidak sesuai kontrak. Apakah Grup Cakrawala melanjutkan dengan spesifikasi baja yang sama, atau menggantinya?"
Untuk pertama kali, Fandi tampak benar-benar tidak siap. "Saya... pertanyaan teknis seperti itu harus ditanyakan ke divisi teknik."
"Tapi Bapak juru bicara. Bapak yang tadi bilang semua sesuai prosedur." Reno mencondongkan badan. "Saya cuma minta jawaban ya atau tidak. Apakah baja yang dipakai membangun Jembatan Kali Serayu sesuai dengan spesifikasi dalam kontrak awal — kontrak yang sama yang Pak Hendrawan persoalkan sebelum ia dibunuh?"
"Saya keberatan dengan kata dibunuh," Fandi memotong, suaranya meninggi. "Itu masih perkara hukum. Belum ada putusan."
"Justru sudah ada putusan." Reno tidak menaikkan suara. Ia membiarkannya pelan, dan justru karena pelan, ribuan penonton mencondongkan badan. "Ada orang yang sudah divonis seumur hidup atas pembunuhan Hendrawan Kusuma. Namanya Bima Satria. Jadi menurut hukum negara ini, Pak Hendrawan memang dibunuh. Itu fakta hukum, bukan opini saya." Reno membiarkan keheningan menggantung. "Yang sedang diperiksa ulang sekarang adalah apakah orang yang dipenjara itu benar pelakunya. Jadi izinkan saya kembali ke pertanyaan teknis yang Bapak hindari. Apakah baja jembatan itu sesuai spesifikasi kontrak — ya, atau tidak?"
Fandi menarik napas, membuka mulut, menutupnya lagi.
"Saya tidak punya angka itu di sini," akhirnya ia berkata. Wajahnya berkeringat di bawah lampu studio. "Dan saya rasa diskusi ini sudah keluar dari tema infrastruktur."
"Ini tepat tema infrastruktur, Pak." Reno menutup mapnya. "Baja sebuah jembatan yang dilewati ribuan orang setiap hari. Tidak ada yang lebih infrastruktur dari itu." Ia menoleh ke moderator. "Saya kira jawaban 'saya tidak punya angka itu' sudah cukup menjelaskan banyak hal."
Siaran berakhir lima menit kemudian. Dalam satu jam, potongan dua puluh detik — Reno bertanya tentang baja, Fandi membuka dan menutup mulut tanpa suara — menyebar ke mana-mana.
Malam itu Alika menonton potongan itu untuk kelima kalinya di kontrakan. Bu Hartati duduk di sampingnya, menyesap teh.
"Mereka pasti marah sekali," kata Alika.
"Tentu." Bu Hartati meletakkan cangkir. "Tapi kemarahan bukan yang harus kau takutkan. Yang harus kau takutkan adalah ketakutan mereka. Reno baru saja membuat satu juta orang bertanya soal baja jembatan itu. Dan kalau baja itu benar-benar rapuh seperti kata Bima..." Ia memandang Alika. "Maka kita tidak cuma bicara soal satu pembunuhan tujuh tahun lalu. Kita bicara soal nyawa orang yang menyeberang jembatan itu besok pagi. Itu menaikkan taruhan untuk semua orang. Termasuk untuk kita."