Ardian Cakra muncul di televisi pada hari ketujuh.
Bukan di acara berita. Di acara bincang-bincang sore yang ramah, dengan pembawa acara tersenyum lebar dan latar belakang biru bersih. Ardian duduk dengan kemeja putih digulung ke siku, lengan kemeja yang sengaja menunjukkan bahwa ia orang yang bekerja, bukan orang yang dilayani. Di pin kerahnya, slogan kampanye dalam bentuk lambang kecil: membangun untuk semua.
Alika menontonnya di kontrakan Tebet, bersama Reno dan Bu Hartati, tiga gelas kopi yang lupa diminum mengepul di meja.
"Pak Ardian," pembawa acara membuka, "belakangan beredar pemberitaan yang mengaitkan nama Bapak dengan sebuah perkara hukum lama. Perkara pembunuhan tahun dua ribu sembilan belas. Bagaimana tanggapan Bapak?"
Ardian tersenyum, sabar, seperti guru menghadapi pertanyaan keliru dari murid. "Saya senang Mbak menanyakan ini langsung, supaya jelas." Suaranya hangat, tidak buru-buru. "Pertama, saya turut berduka untuk korban, siapa pun dia, kapan pun itu terjadi. Pembunuhan adalah pembunuhan. Tidak boleh ada yang lolos."
Di kontrakan, Reno mendengus. "Pintar."
"Kedua," Ardian melanjutkan, "saya ini pengusaha. Grup Cakrawala mengerjakan ratusan proyek, mempekerjakan puluhan ribu orang. Dalam dunia bisnis sebesar itu, selalu ada pihak yang kalah tender, ada pesaing yang sakit hati, ada orang yang merasa dirugikan. Saya sudah biasa difitnah. Tapi memfitnah saya dengan menyeret nama korban pembunuhan yang sudah meninggal — itu yang saya sayangkan. Itu tidak menghormati yang meninggal."
Pembawa acara mengangguk-angguk. "Jadi Bapak membantah keterlibatan?"
"Saya tidak perlu membantah sesuatu yang tidak pernah ada." Ardian mencondongkan badan sedikit, matanya lurus ke kamera. "Saya percaya hukum. Saya percaya pengadilan. Kalau memang ada perkara, biar pengadilan yang memutus, bukan media sosial, bukan tagar, bukan orang yang punya dendam pribadi. Saya tunduk pada hukum negara ini. Selalu."
Bu Hartati menertawakan layar dengan suara pendek tanpa humor. "Dia tunduk pada hukum yang dia beli."
"Dan terakhir," Ardian menutup, suaranya melembut, "saya maju mencalonkan diri bukan untuk diri saya. Saya sudah punya segalanya. Saya maju karena saya ingin membangun. Jembatan, jalan, sekolah. Untuk semua. Kalau ada yang ingin menjatuhkan saya dengan cerita lama, silakan. Tapi yang akan dirugikan bukan saya. Yang dirugikan adalah rakyat yang menunggu jembatan mereka dibangun."
Pembawa acara nyaris bertepuk tangan.
Alika mematikan televisi. Ruangan jadi sunyi.
"Dia membalik semuanya," kata Alika pelan. "Dia menjadikan dirinya korban. Dan dia menjadikan kita orang yang tidak menghormati orang mati."
"Itu yang dia lakukan." Bu Hartati melepas kacamatanya. "Tujuh tahun saya kenal orang seperti Ardian dari jauh. Mereka tidak pernah berdebat soal fakta. Mereka selalu memindahkan medan perang ke soal niat. Begitu publik bicara 'siapa yang baik dan siapa yang jahat', dia menang, karena dia punya wajah baik dan kita cuma punya berkas."
Reno sudah membuka laptopnya, jarinya cepat. "Dia bilang dia menghormati korban. Bagus. Kita pegang itu." Ia menoleh ke Alika. "Korban pembunuhan tahun dua ribu sembilan belas itu Hendrawan Kusuma. Dan korban penjebakan tahun yang sama adalah Bima Satria. Ardian baru saja bilang di depan kamera bahwa pembunuhan tidak boleh ada yang lolos. Kita kutip itu. Persis. Dan kita tanya satu hal sederhana di artikel berikutnya: kalau Pak Ardian percaya tidak boleh ada pembunuh yang lolos, kenapa pihak Pak Ardian melawan permohonan untuk memeriksa ulang siapa pembunuh Hendrawan Kusuma sebenarnya?"
"Hati-hati," Bu Hartati memperingatkan lagi. "Jangan tuduh. Tanya."
"Aku tanya." Reno tersenyum tipis. "Pertanyaan tidak bisa digugat pencemaran nama. Pertanyaan cuma menunggu jawaban. Dan setiap hari dia tidak menjawab, pertanyaannya jadi makin keras."
Alika berdiri, berjalan ke jendela ruko, menatap jalan Tebet yang mulai gelap. Di seberang, sebuah sedan hitam parkir, mesin mati, kaca gelap. Mungkin kebetulan. Mungkin tidak. Ia sudah belajar untuk tidak lagi membedakan.
"Dia menyebut jembatan," kata Alika tanpa berbalik. "Tadi. 'Jembatan yang menunggu rakyat'. Dia tidak sadar dia baru saja memberi kita arah."
"Maksudmu?" tanya Reno.
"Jembatan Kali Serayu." Alika berbalik. "Dia sudah membangunnya. Dengan baja yang Hendrawan tahu substandar. Baja yang Bima temukan rapuh. Jembatan itu sekarang berdiri, dipakai orang, setiap hari." Ia menatap keduanya. "Ardian menjadikan jembatan sebagai citra kebaikannya. Bagaimana kalau kita buktikan jembatan itu justru bukti kejahatannya — dan bahaya nyata untuk orang yang lewat di atasnya setiap hari?"
Bu Hartati memandang Alika lama, lalu mengangguk perlahan. "Sekarang kau mulai berpikir seperti penuntut, bukan cuma pembela."