Lima hari setelah permohonan terdaftar, Alika menerima salinan penetapan dari kepaniteraan: majelis hakim yang akan memeriksa permohonan PK Bima sudah ditunjuk. Ia membaca tiga nama itu di meja kontrakan kecil yang kini berfungsi sebagai kantor mereka — dua kamar di lantai dua ruko Tebet, sewa bulanan, dibayar tunai.
Bu Hartati datang sore itu, melepas selendangnya, dan langsung meminta salinan penetapan. Ia membacanya dengan jari menelusuri setiap nama, dan di nama ketua majelis jarinya berhenti.
"Hakim Sutadi," katanya. Suaranya turun.
"Bu kenal?" tanya Alika.
"Saya kenal cara dia membuat putusan." Bu Hartati meletakkan kertas itu. "Tiga belas tahun lalu ada perkara pengadaan alat kesehatan, terdakwanya pejabat dinas. Bukti kuat. Hakim Sutadi membebaskan dengan pertimbangan yang ditulis seperti puisi — indah, panjang, dan kosong. Setelah itu kariernya naik cepat sekali. Terlalu cepat untuk hakim yang membebaskan orang bersalah."
Reno, yang sedang menyeduh kopi di sudut, berbalik. "Maksud Bu, dia orangnya Ardian?"
"Saya tidak bilang begitu." Bu Hartati menatap Reno tajam. "Anak muda, jangan pernah menuduh hakim tanpa bukti, apalagi di depan jurnalis. Saya bilang dia punya pola. Pola adalah pola, bukan tuduhan." Ia menoleh ke Alika. "Tapi pola yang seperti ini, dalam perkara yang seperti ini, tidak boleh kita biarkan saja."
"Kita bisa apa?" Alika menyandarkan punggung. "Penunjukan majelis itu wewenang ketua pengadilan. Kita tidak bisa memilih hakim."
"Tidak. Tapi kita bisa membuat majelis ini tidak nyaman menjadi tidak adil." Bu Hartati menarik kertas dan pena. "Pertama, kita ajukan permohonan agar persidangan PK ini terbuka untuk umum dan boleh diliput. PK biasanya sepi, tidak ada yang menonton. Kalau sepi, putusan apa pun bisa ditulis seperti puisi dan tidak ada yang peduli. Kita ramaikan. Kita buat setiap kata pertimbangan mereka dibaca seribu orang."
Alika mengangguk pelan, mulai mengikuti arah pikir perempuan itu.
"Kedua," lanjut Bu Hartati, "kita ajukan keberatan resmi dan tertulis terhadap susunan majelis, dengan dasar yang sopan tapi terang: kita minta majelis ini menyatakan tidak ada konflik kepentingan dengan pihak mana pun yang terkait kasus, termasuk dengan firma Wibawa dan Rekan, termasuk dengan Grup Cakrawala. Kita tidak menuduh. Kita hanya minta mereka menyatakannya di atas kertas."
"Dan kalau mereka menolak menyatakan?"
"Maka penolakan itu sendiri yang jadi berita." Bu Hartati tersenyum kecil. "Itulah gunanya cahaya, Alika. Kita tidak perlu membuktikan hakim curang. Kita cukup membuat ruangan terlalu terang untuk berani curang."
Reno meletakkan dua gelas kopi di meja. "Aku tulis itu malam ini. 'Permohonan PK Perkara 417 ditangani majelis yang dipimpin hakim dengan rekam jejak kontroversial.' Faktual. Tidak menuduh. Cuma menyebut rekam jejak yang memang ada di putusan publik."
"Hati-hati dengan kata kontroversial," Bu Hartati memperingatkan. "Yusuf sudah menggugatmu sekali soal pencemaran nama. Tulis 'rekam jejak yang menjadi sorotan', dan kutip putusan-putusan itu apa adanya. Biarkan pembaca yang menyimpulkan."
Malam itu artikel Reno tayang. Subuh, ponsel Alika sudah penuh. Bukan dari musuh, tapi dari dua organisasi advokat dan satu kelompok pemantau peradilan yang menyatakan akan ikut mengamati jalannya sidang PK.
Pukul sembilan pagi, kepaniteraan menelepon. Suara petugas terdengar kaku, terbaca seperti orang yang sedang menyampaikan pesan dari atasannya.
"Bu Alika, ada penetapan baru. Ketua majelis diganti."
Alika menahan napas. "Diganti dengan siapa?"
"Hakim Sutadi mengundurkan diri dari majelis dengan alasan kesehatan. Ketua pengadilan menunjuk Hakim Marwoto sebagai ketua majelis yang baru."
Alika menutup telepon dan menatap Bu Hartati. "Sutadi mundur. Alasan kesehatan."
Bu Hartati tidak tersenyum. Ia justru terlihat lebih waspada. "Hakim Marwoto," ulangnya pelan. "Saya tidak kenal namanya. Itu bisa berarti dua hal. Dia hakim bersih yang tidak punya jejak, atau dia hakim yang jejaknya sengaja dibersihkan." Ia meraih kopi yang sudah dingin. "Mundurnya Sutadi terlalu cepat, Alika. Kita menekan, dan mereka langsung mengalah di titik kecil ini. Orang tidak mengalah kalau tidak punya rencana cadangan."
"Bu pikir Marwoto juga orang mereka?"
"Saya pikir," kata Bu Hartati, meletakkan gelas, "kita baru saja memenangi babak yang sengaja mereka kalah. Dan itu jenis kemenangan yang paling membuat saya tidak bisa tidur."