Mereka pulang malam, jalan tol lengang, lampu-lampu jarang. Map laporan struktur asli sudah ada salinan digitalnya di lima server, sudah dititipkan ke jurnalis luar negeri, sudah tidak bisa dihapus dengan menghapus satu mobil. Tapi Alika dan Reno masih hidup, dan bagi sebagian orang, itu saja sudah jadi masalah yang perlu diselesaikan.
Reno yang menyetir. Alika setengah terlelap di kursi penumpang, map asli dalam pelukan, ketika ia merasakan mobil melaju lebih cepat.
"Reno?"
"Ada yang mengikuti dari tadi." Mata Reno terpaku ke spion. "Dua mobil. Yang satu di belakang, yang satu menyalip tadi dan sekarang di depan, jaraknya dijaga. Mereka mengapit."
Alika langsung terjaga penuh, jantungnya menghantam dada. Ia menoleh. Di belakang, sepasang lampu mendekat cepat. Di depan, sebuah mobil melaju tepat di jalur yang sama, melambat perlahan, memaksa mereka mendekat.
"Mereka mau menjepit kita," kata Reno tenang, terlalu tenang, suara orang yang memaksa dirinya berpikir di tengah ketakutan. "Klasik. Mobil depan melambat, mobil belakang menabrak, jadi kelihatan kecelakaan beruntun. Tidak ada yang curiga."
"Apa yang kita lakukan?"
"Pegangan."
Mobil belakang menyentak maju dan menghantam bemper mereka. Benturan keras melempar kepala Alika ke depan, map asli terlepas dari pangkuannya, ban berdecit. Reno mempertahankan kemudi dengan kedua tangan memutih.
"Tahan!" teriaknya.
Mobil depan mulai mengerem, paksa, lampu remnya menyala merah seperti dua mata. Reno punya dua pilihan: menabrak mobil depan, atau membanting ke kiri menjauhi jepitan. Ia memilih yang ketiga — ia menginjak rem mendadak, keras, sehingga mobil belakang yang sedang menyalip untuk menabrak lagi terlanjur melewati mereka, lepas dari posisi menjepit.
"Sekarang!" Reno membanting kemudi ke bahu jalan, ke jalur darurat yang sempit, dua roda kanan menghantam marka bergerigi, mobil bergetar hebat, dan ia menyusup keluar dari jepitan dua mobil itu lewat celah yang nyaris tidak ada.
Mobil depan dan belakang, yang tadinya terkunci pada irama saling jepit, kehilangan target. Mereka terpaksa mengerem mendadak untuk tidak saling menabrak sendiri. Dalam tiga detik kacau itu, Reno sudah menancap gas, mobil mereka melesat di jalur darurat, melewati keduanya, dan keluar ke pintu tol terdekat yang muncul setengah kilometer di depan.
Reno membanting masuk ke jalur keluar tanpa memberi sein, ban menjerit, dan mereka meluncur turun dari tol, masuk ke jalan kota kecil yang remang, berbelok dua kali, lalu Reno mematikan lampu dan memasukkan mobil ke gang sempit di belakang deretan ruko tutup. Ia mematikan mesin.
Mereka duduk dalam gelap, terengah, jantung keduanya berdebar liar.
Tidak ada lampu yang mengikuti masuk gang.
Lima menit. Sepuluh. Tidak ada yang datang.
"Mereka kehilangan kita," bisik Reno akhirnya, kedua tangannya masih gemetar di kemudi. "Di kota kecil seperti ini, dengan lampu mati, mereka tidak tahu kita belok ke mana."
Alika baru menyadari ia memegang lengannya sendiri begitu erat sampai kukunya meninggalkan bekas. Ia memungut map asli dari lantai mobil, memeriksanya dengan tangan gemetar. Masih utuh. Bungkus kedap airnya menyelamatkan kertasnya dari benturan.
"Mereka bukan mau menakuti kita kali ini," kata Alika, suaranya nyaris tak terdengar. "Yang di apartemen dulu, yang di rumah Darto — itu menakuti. Memotret. Mengintai. Ini..." Ia menelan ludah. "Ini mau membunuh. Mereka mau kita mati di jalan tol, jadi kecelakaan, sama seperti Saraswati di Puncak."
Reno menyandarkan kepalanya ke kemudi, menghela napas panjang yang sebenarnya setengah isakan yang ditahan. "Berarti kita sudah melewati garisnya," katanya. "Selama ini mereka kira bisa menghentikan kita dengan takut. Sekarang mereka tahu tidak bisa. Jadi mereka pindah ke cara yang lain."
"Kenapa sekarang?" Alika menatap kegelapan di luar jendela. "Kenapa malam ini?"
Reno mengangkat kepala. "Karena malam ini kita punya laporan struktur asli. Karena malam ini kita punya motif tertulis." Ia menatap map di pangkuan Alika. "Mereka tidak menyerang kita karena kita lemah. Mereka menyerang kita karena untuk pertama kalinya, kita berbahaya."
Alika menempelkan map itu ke dadanya, di tempat yang sama di mana ibu Wahyu menyimpan tanda terima, di tempat yang sama di mana ia menyimpan tanda terima pendaftaran PK. Tangannya akhirnya berhenti gemetar.
"Kita tidak akan pulang ke kontrakan malam ini," katanya. "Mereka tahu di mana itu." Ia mengeluarkan ponsel. "Aku telepon Bu Hartati. Sudah waktunya kita pindahkan semua orang yang bisa mereka jadikan sasaran. Mira. Wahyu, kalau dia mau. Diri kita sendiri." Ia menatap Reno. "Mereka sudah berhenti main-main. Kita juga harus."