Bu Hartati mengangkat telepon pada dering ketiga, suaranya jernih meski itu lewat tengah malam, suara orang tua yang tidurnya memang sudah lama tidak nyenyak.
Alika menceritakan semuanya dalam tiga kalimat pendek: laporan struktur asli sudah di tangan, mobil mereka diserang di tol, mereka selamat dan sedang bersembunyi di kota kecil. Bu Hartati mendengarkan tanpa memotong, lalu, setelah hening sejenak, ia bertanya satu hal yang membuat dada Alika dingin.
"Kalian baik-baik saja. Tapi pernahkah terpikir, kalau mereka tidak bisa menghentikan kalian, ke siapa lagi mereka akan pergi?"
Alika menutup mata. "Mira."
"Mira," Bu Hartati mengulang. "Perempuan yang menyimpan amplop tujuh tahun. Perempuan yang menyerahkan visum asli dan rekaman Saraswati. Dalam permohonan yang kau daftarkan, namanya tercantum sebagai pihak yang menyerahkan novum. Mereka sudah membaca berkas itu. Mereka tahu Mira ada, dan mereka tahu di mana."
Alika sudah menekan nomor Mira sebelum Bu Hartati selesai bicara. Berdering. Berdering. Tidak diangkat.
"Tidak diangkat," kata Alika, panik mulai merayap.
"Ini lewat tengah malam, dia mungkin tidur," kata Reno, tapi suaranya tidak meyakinkan dirinya sendiri.
Alika menelepon lagi. Kali ini, pada dering keempat, diangkat. Tapi yang terdengar bukan halo. Yang terdengar adalah napas, lalu suara Mira, pelan, bergetar, hampir berbisik.
"Bu Alika." Suara itu tipis. "Ada orang di luar rumah saya."
Jantung Alika berhenti. "Mira, dengarkan saya. Sekarang juga. Kunci semua pintu. Nyalakan semua lampu. Ada berapa orang?"
"Dua mobil. Sejak jam sembilan tadi mereka diam di depan, tidak turun, tidak melakukan apa-apa, cuma... ada." Mira menahan isak. "Tadi sore ada telepon. Suara laki-laki. Dia bilang... dia bilang masih ada waktu buat saya berubah pikiran. Dia bilang amplop yang saya serahkan ke pengadilan itu palsu, dan kalau saya mau, saya bisa membuat pernyataan baru bahwa kakak saya tidak pernah menitipkan apa pun ke saya, bahwa semuanya karangan." Suaranya pecah. "Dia bilang kalau saya menurut, semua ini berhenti malam ini juga, dan saya bisa hidup tenang lagi. Kalau tidak..."
"Mira." Alika memaksa suaranya tetap tenang, tetap mengikat. "Kamu sudah bertahan tujuh tahun. Kamu sudah menyimpan kebenaran Saraswati lebih lama dari mereka kira bisa. Jangan menyerah di malam terakhir sebelum subuh."
"Saya tidak menyerah." Suara Mira mengeras sedikit, di balik ketakutannya. "Saya bilang ke orang di telepon itu — kalau amplop itu palsu, kenapa kalian sibuk sekali memintanya kembali? Barang palsu tidak ada yang takut." Ia menarik napas bergetar. "Tapi saya takut, Bu. Bukan takut mereka membunuh saya. Saya takut mereka membuat saya kelihatan gila. Mencabut keterangan. Membuat seolah saya berbohong tentang kakak saya. Saya tidak mau kakak saya mati dua kali."
Alika menutup mata, dan untuk sesaat ia tidak melihat Mira, ia melihat ayahnya, yang juga mati dua kali — sekali oleh racun yang menyamar jadi serangan jantung, sekali oleh surat kematian palsu yang menghapus kebenaran tentang bagaimana ia pergi.
"Dengar," kata Alika. "Sebentar lagi subuh. Kamu jangan keluar, jangan buka pintu untuk siapa pun, sampai kamu dengar suara saya di depan rumahmu. Mengerti? Hanya suara saya. Bukan polisi, bukan siapa pun yang mengaku menolong. Hanya saya." Ia menatap Reno, yang sudah menyalakan mesin mobil. "Kami berangkat sekarang."
"Sekarang? Dari mana? Kalian sedang dikejar."
"Justru karena mereka sedang sibuk mencari kami," kata Alika, "mungkin tidak semua dari mereka ada di depan rumahmu. Bertahan, Mira."
Ia menutup telepon dan langsung menelepon Bu Hartati lagi, sambil Reno membawa mobil keluar gang, menembus jalan kota kecil yang sepi ke arah jalan menuju Bekasi.
"Bu," kata Alika cepat, "Mira dikepung di rumahnya. Mereka mengintimidasi, belum menyentuh. Mereka mau dia mencabut keterangan."
"Mereka tidak akan menyentuhnya," kata Bu Hartati, dan suaranya sekarang tajam seperti pisau yang baru diasah. "Belum. Membunuh saksi yang namanya sudah tercatat di permohonan justru memberatkan mereka. Mereka tahu itu. Yang mereka mau adalah membuat Mira mencabut keterangan dengan sukarela, supaya tampak Mira sendiri yang ragu, bukan ditekan. Itu lebih berharga buat mereka daripada mayat." Hening sebentar. "Tapi kalau mereka panik, kalau Ardian menekan Yusuf untuk cepat selesai — perhitungan itu bisa berubah. Jadi kalian benar. Kita pindahkan dia. Malam ini juga."
"Ke mana?"
"Saya punya tempat." Suara Bu Hartati pasti. "Rumah aman. Sudah saya siapkan sejak kalian mendaftarkan permohonan, karena saya tahu malam seperti ini pasti datang. Bukan rumah saya, bukan atas nama saya, tidak ada di dokumen mana pun. Reno punya jaringan yang bisa membawa orang tanpa jejak. Saya kirim alamatnya lewat saluran aman." Ia berhenti. "Bawa Mira ke sana. Dan Alika — setelah ini, kau dan Reno juga tidak boleh tidur di tempat yang punya namamu di atasnya lagi. Mereka sudah mencoba membunuhmu malam ini. Itu bukan ancaman lagi. Itu sudah niat."
Di kejauhan, langit di timur mulai memucat, garis tipis abu-abu di atas perbukitan. Subuh hampir tiba. Reno menambah kecepatan, dan Alika menggenggam ponselnya, menghitung kilometer yang memisahkannya dari rumah kecil di Bekasi tempat seorang guru SD sedang duduk di balik pintu terkunci, menjaga kebenaran kakaknya supaya kakaknya tidak mati untuk kedua kalinya.