Rumah aman yang diatur Bu Hartati berada di gang sempit di kawasan Jagakarsa, sebuah rumah petak dengan cat hijau pudar yang tidak menarik perhatian siapa pun. Mira tidur di kamar belakang, masih dengan tas kecil di pelukannya, seolah sewaktu-waktu harus lari lagi. Alika duduk di ruang depan, layar laptop menyala satu-satunya cahaya di ruangan, ketika ponselnya bergetar pukul setengah dua dini hari.
Nomor tak dikenal. Satu pesan, tanpa nama.
"Mbak Alika. Ini Pram. Jangan balas ke nomor ini, besok pagi sudah saya buang. Saya tahu Mbak nyuruh saya menjauh. Tapi saya nggak bisa diam lihat semua ini."
Jantung Alika berdegup. Ia menatap layar lama-lama, menimbang. Ia sudah menyuruh anak itu pergi sejauh mungkin di bab kehidupan mereka yang lalu, justru supaya Pram tidak terseret. Tapi pesan berikutnya masuk sebelum ia sempat memutuskan.
Sebuah lampiran. File PDF hasil foto layar, buram tapi terbaca. Sebuah jadwal. Bukan jadwal kerja firma biasa — ini catatan tangan yang difoto diam-diam dari meja Yusuf Wibawa, lalu disilang-tandai. Tiga baris yang membuat napas Alika tertahan:
Kamis, 19.30 — Hotel Mandala, lantai 12, ruang Anggrek. "D" hadir. Bahas penundaan pemeriksaan. Bawa map merah.
"D," ulang Alika dalam hati. Ia mengetuk pintu kamar, membangunkan tak seorang pun, hanya butuh mendengar suaranya sendiri berbicara untuk meyakini ini nyata. Tujuh tahun konspirasi ini bekerja dalam bisik-bisik dan amplop tunai. Sekarang, untuk pertama kalinya, ia memegang jadwal pertemuan — hitam di atas putih — antara Yusuf Wibawa dan seseorang yang dipanggil hanya dengan satu huruf.
Pram menulis lagi. "Saya nemu ini di tempat sampah ruang fotokopi. Pak Yusuf nyuruh saya gandain dokumen sore tadi, terus dia lupa satu lembar nyangkut di mesin. Saya nggak tahu siapa 'D'. Tapi yang hadir di pertemuan ini orang penting, Mbak. Pengawalnya pakai earpiece. Saya lihat dari lobi."
Alika menelepon Reno. Suara temannya serak, tapi langsung jernih ketika ia menyebut "map merah" dan "D."
"Hotel Mandala," ulang Reno. "Itu hotel yang biasa dipakai pejabat buat pertemuan yang nggak mau ada di kalender resmi. Kamis ini? Berarti besok lusa."
"Pram bilang pengawalnya pakai earpiece. Bukan preman sedan hitam. Ini level lebih tinggi."
Reno terdiam sejenak. "Alika, kalau 'D' ini siapa yang aku pikirkan—"
"Jangan diucap dulu." Alika menatap tiga baris di layar. "Kita verifikasi dulu. Aku nggak mau menebak. Aku mau bukti. Tapi satu hal yang aku yakin: kalau Yusuf bertemu orang ini buat 'membahas penundaan pemeriksaan,' artinya permohonan yang sudah kita daftarkan kemarin membuat mereka panik. Mereka nggak bisa lagi menghilangkan bukti diam-diam, jadi mereka mencoba menunda jadwal sidang lewat orang dalam."
"Berarti senjata kita bekerja."
"Berarti kita harus tahu siapa 'D.'" Alika menutup laptop. "Dan kita harus melindungi Pram. Dia mengirim ini dari dalam sarang. Kalau Yusuf tahu lembar itu hilang—"
Ia tak menyelesaikan kalimatnya. Ia teringat Darto yang anaknya jadi taruhan. Teringat Saraswati yang mobilnya terjun ke jurang. Pola yang sama, selalu pola yang sama: siapa pun yang membawa kebenaran keluar dari ruang gelap, dijemput maut atau ketakutan.
Pram mengirim satu pesan terakhir. "Mbak, saya minta maaf soal yang dulu. Soal Cipinang. Saya kepepet. Tapi saya nggak mau jadi orang yang diam terus. Bapak saya selalu bilang, lebih baik takut sambil benar daripada tenang sambil salah. Saya hapus nomor ini sekarang. Hati-hati, Mbak."
Lalu nomor itu mati. Pesan-pesan sebelumnya masih ada, tapi pengirimnya sudah lenyap ke dalam senyap, kembali ke kantor tempat ia harus tersenyum di depan Yusuf Wibawa seolah tak terjadi apa-apa.
Alika menyalin file itu ke tiga tempat — flashdisk, surel terenkripsi ke dirinya sendiri, dan folder bersama dengan Reno. Asuransi nyawa, ia mengingat kata-katanya sendiri. Setiap bukti harus hidup di banyak tempat, supaya membunuh pembawanya tidak lagi membunuh kebenarannya.
Di luar, gang Jagakarsa sunyi. Tapi Alika tahu, di suatu tempat di kota ini, dua hari dari sekarang, di lantai dua belas sebuah hotel, Yusuf Wibawa akan duduk berhadapan dengan seseorang berinisial D — dan ia berniat ada cukup dekat untuk tahu wajah orang itu.
Ia mengetik pesan ke Reno. "Kamis. Kita ke Hotel Mandala. Bawa kamera yang paling kecil."