Hotel Mandala berdiri di kawasan Sudirman, sebuah menara kaca yang pada malam hari memantulkan lampu kota seperti kolam tinta. Reno mendapatkan akses lewat seorang kenalan lama — fotografer lepas yang sesekali memotret acara di ballroom hotel itu. Mereka tidak masuk ke lantai dua belas; itu mustahil dan bunuh diri. Tapi mereka tidak perlu masuk. Mereka hanya perlu lobi, dan kesabaran.
Pukul tujuh kurang sepuluh, Alika duduk di kursi rendah di sudut lobi, di balik tiang marmer, menyamar sebagai tamu yang menunggu sambil membaca berkas. Reno berdiri di seberang, pura-pura menelepon, kamera saku terselip di kantong dada jaketnya dengan lensa mengintip lewat lubang kecil.
Yusuf Wibawa datang tepat waktu. Selalu tepat waktu, lelaki itu, bahkan saat hendak menundukkan keadilan. Setelan abu-abu, map merah di tangan kanan, langkahnya tenang seperti orang yang memiliki tempat ini. Ia tidak menoleh. Alika menundukkan kepala lebih dalam ke berkasnya, jantungnya menabuh.
Tiga menit kemudian, rombongan kedua tiba. Dan saat itulah Alika tahu Pram benar: ini level lebih tinggi.
Dua pria berbadan tegap masuk lebih dulu, memindai lobi dengan mata yang tak pernah berhenti bergerak, earpiece melingkar di telinga kanan mereka. Di antara keduanya berjalan seorang lelaki paruh baya, rambut kelabu disisir rapi, postur tegak khas orang yang terbiasa diberi hormat. Ia tak berseragam — kemeja batik gelap, biasa saja — tapi cara dua pengawal itu menjaga jarak, cara resepsionis nyaris membungkuk, semuanya berteriak: orang ini bukan sipil.
Alika menahan napas. Wajah itu. Ia pernah melihat wajah itu.
Lobi kantor polisi, malam itu. Pintu kaca yang nyaris terbuka. Perwira tinggi yang tersenyum menunggunya di samping Yusuf — wajah yang sama, yang sudah tujuh bulan menghantui mimpinya sebagai siluet tanpa nama.
Reno bergerak halus, mengubah sudut tubuhnya, dan lensa kecil itu menangkap dua hal sekaligus: wajah si lelaki kelabu, dan map merah yang berpindah dari tangan Yusuf ke pengawal yang lalu menyerahkannya ke dalam tas kerja. Klik tak bersuara. Sekali. Dua kali. Lalu rombongan itu menghilang ke dalam lift khusus.
Mereka tidak mengejar. Mengejar berarti mati. Mereka pergi sepuluh menit kemudian, terpisah, lewat dua pintu berbeda, dan baru bertemu di mobil yang diparkir tiga blok jauhnya.
"Kamu lihat wajahnya?" tanya Reno, napasnya memburu, sambil menyalakan layar kamera.
"Aku lihat." Suara Alika datar, tapi tangannya gemetar di pangkuan. "Itu orang yang di lobi polisi. Yang menungguku bareng Yusuf."
Reno memperbesar foto. Wajah itu jernih sekarang — garis rahang keras, mata yang dingin, kerut di kening seseorang yang sudah lama hidup di antara perintah dan rahasia. Reno menatapnya lama, lalu mengeluarkan ponselnya dan mulai mencari di arsip berita lama yang ia simpan.
"Aku kenal wajah ini," gumam Reno. "Tunggu. Tunggu sebentar."
Ia menggulir, membuka satu artikel lama, lalu menyodorkan layar ke Alika. Sebuah foto seremonial, beberapa tahun lalu, deretan perwira berseragam lengkap. Reno menunjuk satu nama di keterangan foto.
"Komisaris Jenderal Darwis," baca Reno pelan. "Tahun 2019 dia kepala satuan yang menangani kasus-kasus 'sensitif' di Jakarta. Termasuk—" ia menelan ludah, "—termasuk perkara yang melibatkan tokoh politik. Alika, dia yang mengamankan kasus 2019. Dia yang memastikan penyidikan pembunuhan Hendrawan berjalan persis seperti yang mereka mau. Sidik jari, BAP Darto yang berubah, semuanya lewat satuannya."
Alika menatap nama itu. Darwis. Akhirnya punya nama. Akhirnya bukan siluet. Selama tujuh tahun, dinding yang menjebak Bima bukan sekadar Yusuf, bukan sekadar Ardian — ada tangan negara di dalamnya, tangan berseragam yang seharusnya melindungi, malah memalsukan.
"Map merah itu," kata Alika. "Pram bilang isinya soal penundaan pemeriksaan. Mereka memakai Darwis untuk menekan pengadilan menunda sidang kita. Seorang jenderal polisi membantu menutupi pembunuhan demi proyek jembatan."
"Kita punya fotonya bertemu Yusuf," kata Reno. "Itu belum bukti kejahatan. Tapi itu benang. Benang yang bisa kita tarik."
Alika menyimpan foto Darwis ke tempat-tempat aman yang sama. Tiga salinan, tiga server. Lalu ia menatap lampu kota yang berpendar lewat kaca mobil.
"Darwis," ucapnya, seakan menamai sesuatu membuatnya bisa dilawan. "Sekarang kita tahu siapa orang di lobi itu. Dan dia tahu kita tahu — cepat atau lambat. Pertanyaannya, berapa lama lagi sampai Yusuf sadar lembar jadwal itu hilang dari ruang fotokopi."
Di kursi sebelah, ponsel Reno menyala. Sebuah berita masuk. Dan wajah Reno berubah.