Berita yang masuk ke ponsel Reno bukan dari media. Itu pesan dari kenalan fotografernya di Hotel Mandala. "Bro, abis lo pergi, ada keributan kecil. Orang Pak Yusuf nyariin sesuatu di resepsionis. Katanya ada dokumen bocor dari kantornya. Mereka panik."
Alika membaca dari samping, dan dingin merayap di tengkuknya. "Lembar jadwal itu. Yusuf sadar satu lembar hilang."
Mereka tahu apa artinya. Jika Yusuf melacak dari mana kebocoran berasal, ia akan menyusuri jejaknya kembali ke ruang fotokopi, ke mesin yang macet, ke siapa yang terakhir menggandakan dokumen sore itu. Dan satu nama akan muncul.
"Pram," kata Alika, sudah mengeluarkan ponsel. Tapi nomor Pram sudah mati sejak dua hari lalu — anak itu sendiri yang membuangnya. Alika tak punya cara menghubunginya.
"Kantor firma," kata Alika. "Aku harus memperingatkan dia."
"Kamu nggak bisa masuk ke sana, Alika. Kamu musuh nomor satu mereka sekarang."
"Lalu kita biarkan dia dijemput?" Suara Alika meninggi, lalu jatuh kembali. Ia menarik napas, memaksa pikirannya tenang seperti yang selalu dilatihkan ayahnya — panik adalah hakim yang buruk. "Pak Gunawan. Dia masih bekerja di sana. Dia satu-satunya orang dalam yang masih bisa aku percaya."
Pak Gunawan menjawab telepon dengan suara serak orang tua yang baru terjaga. Ketika Alika menjelaskan dengan cepat, terdengar helaan napas panjang di seberang. "Si Pram, ya," gumam lelaki tua itu. "Anak baik. Saya lihat tadi sore dia dipanggil ke ruang Pak Reza. Lama. Pintu ditutup. Keluarnya mukanya pucat."
Perut Alika mengempis. Terlambat. Selalu terlambat.
"Pak Gunawan, tolong. Kalau Bapak masih bisa, bilang ke Pram supaya jangan pulang ke kos malam ini. Suruh dia ke—" Alika menyebut nama sebuah masjid dekat kantor, tempat yang ramai dan terbuka, tempat yang sulit untuk membuat orang menghilang diam-diam.
"Saya coba, Nak. Tapi—" Pak Gunawan ragu. "Tadi ada dua orang nungguin di lobi. Bukan karyawan. Saya kenal tipenya. Mereka nungguin seseorang."
Sambungan ditutup. Alika menatap Reno. Tanpa kata, Reno menyalakan mesin dan melaju ke arah kawasan firma di Kuningan.
Mereka tidak bisa masuk gedung. Mereka berhenti di seberang, di area parkir gelap sebuah ruko, dan mengamati pintu kaca lobi firma Wibawa & Rekan yang masih menyala terang di lantai lobi. Pukul delapan malam. Sebagian besar karyawan sudah pulang. Tapi mobil-mobil tertentu masih di sana — termasuk sedan hitam yang terlalu Alika kenal.
Lalu mereka melihatnya. Pram keluar dari pintu kaca, ransel di punggung, langkahnya cepat dan canggung seperti orang yang berusaha tidak terlihat takut. Di belakangnya, dengan jarak yang sengaja dijaga, dua pria tegap mengikuti.
"Itu dia," bisik Reno.
Alika hampir membuka pintu mobil, tapi Reno mencengkeram lengannya. "Kalau kamu lari ke sana sekarang, kamu cuma mengonfirmasi ke mereka bahwa Pram bekerja untukmu. Kamu malah memperburuk."
Alika membeku, kuku menancap di telapak tangannya sendiri. Ia menonton tanpa daya saat Pram menyeberang jalan, menuju halte. Anak itu menoleh sekali — sekali saja — dan untuk sepersekian detik, di bawah lampu jalan yang temaram, matanya seakan menemukan mobil tempat Alika bersembunyi. Entah ia benar-benar melihat, atau hanya kebetulan. Tapi Pram tersenyum kecil. Senyum yang aneh. Senyum seseorang yang sudah berdamai dengan apa yang akan datang.
Lalu dua pria itu mendekat. Bukan menyeret, bukan memukul. Salah satu dari mereka berbicara pelan ke telinga Pram, menunjukkan sesuatu di ponsel. Pram berhenti. Bahunya turun. Lalu, perlahan, ia ikut berjalan bersama mereka ke arah sedan hitam.
Tidak ada teriakan. Tidak ada perlawanan. Hanya seorang pemuda yang berjalan masuk ke dalam mobil, karena ia tahu menolak akan membawa luka pada orang lain — entah keluarganya, entah Alika.
"Mereka nggak menculiknya," kata Reno pelan, suaranya tercekat. "Mereka menjebaknya. Lihat tadi, mereka nunjukin sesuatu di ponsel. Itu bukan ancaman fisik. Itu—"
"Itu tuduhan," potong Alika, dan suaranya pecah untuk pertama kali sejak lama. "Mereka punya cara yang lebih bersih dari membunuh. Mereka akan membuatnya jadi penjahat."
Sedan hitam itu melaju. Lampu belakangnya menyusut menjadi dua titik merah, lalu hilang di tikungan. Alika duduk diam, menatap tempat di mana Pram berdiri tadi, di mana senyum kecil itu masih menggantung di udara seperti pertanyaan yang tak terjawab.
"Aku menyuruhnya menjauh," bisik Alika. "Aku menyuruhnya menjauh supaya dia aman."
"Dia memilih sendiri, Alika." Reno menatap lurus ke depan. "Dia mengirim file itu dengan tahu risikonya. Dia tahu."
Alika menutup matanya. Di benaknya, kalimat terakhir Pram berputar: lebih baik takut sambil benar daripada tenang sambil salah. Anak magang itu, yang dulu membocorkan "Cipinang" karena ketakutan, malam ini berjalan masuk ke dalam jebakan dengan punggung tegak.
Dan Alika tahu, esok pagi, akan ada berita.