Berita itu datang persis seperti yang Alika takutkan, tapi lebih kejam dari bayangannya.
Pukul sepuluh pagi, sebuah portal berita kecil yang biasa memuat siaran pers kepolisian menurunkan judul: "Mantan Magang Firma Hukum Ternama Ditangkap atas Dugaan Pencurian Data Klien." Di dalamnya, foto Pramudya dengan wajah lelah, dikutip "sumber kepolisian" yang menyebut tersangka mencuri ribuan berkas rahasia klien firma untuk dijual ke pihak ketiga. Disebutkan pula bahwa firma Wibawa & Rekan "sangat menyayangkan pengkhianatan kepercayaan ini" dan "menyerahkan sepenuhnya pada proses hukum."
Alika membaca dengan rahang mengeras. Setiap kalimat adalah kebohongan yang dipoles begitu rapi sampai terdengar seperti keadilan. Pencurian data. Tuduhan yang sempurna: ia menyentuh dokumen firma karena memang tugasnya menggandakan dokumen; jejak digitalnya ada di mana-mana karena ia memang bekerja di sana. Mereka mengubah pekerjaan sah menjadi kejahatan, lalu membungkusnya dengan wibawa institusi.
"Mereka nggak cuma menahan dia," kata Reno, menatap layar. "Mereka mendiskreditkan dia lebih dulu. Supaya kalau nanti Pram bilang dia bekerja sama denganmu, kesaksiannya sudah cacat. Siapa yang percaya pencuri data?"
"Itu strategi yang sama dengan Darto," kata Alika lirih. "Sama dengan Saraswati. Sama dengan ayahku. Mereka tidak sekadar menyingkirkan orang. Mereka membunuh kredibilitasnya lebih dulu, supaya kebenaran yang dibawanya ikut mati."
Bu Hartati datang siang itu ke rumah aman, membawa map berisi salinan surat penahanan yang berhasil ia dapatkan lewat jaringan advokatnya. Perempuan tua itu duduk dengan punggung tegak meski usianya, kacamata bertengger di ujung hidung, membaca dokumen dengan ketelitian seseorang yang sudah empat dekade membaca jebakan hukum.
"Penahanannya cacat prosedur di beberapa titik," kata Bu Hartati akhirnya. "Tergesa-gesa. Mereka buru-buru. Itu kabar baik dan buruk sekaligus. Buruk, karena artinya mereka panik dan akan main kasar. Baik, karena pekerjaan yang dilakukan dengan panik selalu meninggalkan jejak."
"Bisa kita keluarkan dia?" tanya Alika.
"Tidak sekarang. Tidak cepat." Bu Hartati menatapnya, dan ada kelembutan di mata tua itu, juga ketegasan. "Tapi aku akan mendampingi anak itu secara hukum. Pro bono. Aku tidak akan membiarkan dia sendirian di ruang interogasi tanpa pengacara. Itu satu hal yang bisa kita pastikan."
Tiga hari kemudian, Bu Hartati berhasil menemui Pram di rutan. Ia kembali dengan wajah yang Alika tak pernah lupakan — campuran antara kekaguman dan kepedihan.
"Mereka menekannya untuk membuat pernyataan," kata Bu Hartati pelan, melepas kacamatanya, memijat pangkal hidungnya. "Mereka menawarkan keringanan. Tuduhan bisa diperingan, bahkan dibatalkan, asal ia menandatangani pernyataan bahwa kamu, Alika, yang menyuruhnya mencuri dokumen. Bahwa kamu otaknya. Bahwa seluruh tudingan terhadap firma adalah konspirasi mantan karyawan yang dendam."
Ruangan hening. Mira, yang duduk di sudut, menutup mulutnya dengan tangan.
"Apa jawabnya?" suara Alika nyaris tak terdengar.
Bu Hartati tersenyum tipis, dan matanya berkaca. "Anak itu menatap penyidik, dan ia bilang — aku mengutip persis, karena aku ada di sana — 'Saya bisa saja menandatangani itu dan pulang besok. Tapi saya sudah cukup lama jadi orang yang takut. Saya pernah membocorkan satu nama karena takut, dan nama itu hampir membuat orang baik celaka. Saya tidak mau jadi orang itu lagi. Silakan tahan saya selama yang Bapak mau. Saya tidak akan mengarang cerita tentang Mbak Alika.'"
Alika menunduk, dan air mata yang ia tahan berhari-hari akhirnya jatuh, satu, dua, ke punggung tangannya. Anak magang yang dulu gemetar di hadapan Yusuf, yang pernah ia maafkan karena takutnya manusiawi, kini duduk di balik jeruji dan menolak menukar kebebasannya dengan dusta.
"Dia jadi tameng," bisik Reno. "Dia menyerap pukulan supaya kita tetap berdiri."
"Bukan tameng," kata Bu Hartati, memakai kacamatanya kembali, suaranya kembali tegas. "Saksi. Kalau kita menang nanti — dan kita akan menang — pengorbanan anak ini akan jadi salah satu bukti bahwa pihak lawan menggunakan tuduhan palsu untuk membungkam orang. Mereka mengira menahan Pram menutup satu lubang. Yang mereka lakukan justru menggali lubang untuk diri mereka sendiri."
Malam itu Alika tak bisa tidur. Ia menulis di buku catatannya, di bawah daftar panjang korban — Hendrawan, Saraswati, ayahnya, Darto, Mira — satu nama baru. Pramudya. Tapi kali ini ia menulis sesuatu yang berbeda di sampingnya. Bukan "korban." Ia menulis: yang berani.
Dan ia bersumpah, ketika semua ini berakhir, nama itu tidak akan terkubur sebagai pencuri data. Nama itu akan disebut sebagai orang yang, di tengah ketakutan, memilih benar.