Survei elektabilitas keluar pada hari Jumat, dan angka-angkanya membuat markas kampanye Ardian Cakra senyap seperti rumah duka.
Tiga minggu sebelumnya, Ardian memimpin dengan selisih nyaman. Slogannya — "ARDIAN CAKRA, MEMBANGUN UNTUK SEMUA" — terpampang di setiap perempatan kota, wajahnya tersenyum dari baliho raksasa, tangan terkatup penuh kebapakan. Sekarang, angka itu anjlok. Bukan sekadar turun; runtuh. Dan kolom alasan dalam survei menyebut satu hal berulang-ulang: "dikaitkan dengan kasus hukum Perkara 417."
Reno mendapatkan bocoran rapat internal tim kampanye dari sumber yang sama yang dulu ia jebak dalam wawancara. Konsultan politik Ardian menyarankan tiga hal: bantah keras, serang balik penyebar isu, atau — pilihan yang tak berani diucapkan dengan lantang — ambil jarak dari "masalah lama."
"Partai pendukungnya mulai gelisah," kata Reno, membacakan dari catatannya. "Dua tokoh yang dijadwalkan kampanye bareng dia minggu depan tiba-tiba 'berhalangan.' Itu bahasa politik untuk: kami tidak mau difoto di sampingmu kalau kamu tenggelam."
Alika mendengarkan sambil menyeduh teh untuk Mira, yang masih jarang keluar kamar. Ia memahami dinamika ini dengan jernih — bukan dari ilmu politik, tapi dari hukum. Ketika seekor kawanan mencium darah pada salah satu anggotanya, naluri pertama mereka bukan membela, melainkan menjauh agar tidak ikut dimangsa.
"Inilah yang membuat dia berbahaya sekarang," kata Bu Hartati, yang sejak pagi membaca berkas di meja. Ia melepas kacamatanya dan menatap Alika dengan serius. "Selama tujuh tahun, Ardian Cakra tenang karena ia menang. Orang yang menang tidak terburu-buru, tidak ceroboh, tidak meninggalkan jejak. Tapi orang yang merasa kerajaannya runtuh — dia akan melakukan apa saja. Dan dia punya sumber daya untuk melakukan hampir apa saja."
Gambaran Bu Hartati terbukti benar lebih cepat dari dugaan. Malam itu juga, Ardian Cakra muncul di sebuah acara televisi — bukan acara investigasi, tapi talk show ramah yang ia bayar untuk tampil — dan untuk pertama kalinya berbicara langsung soal Perkara 417.
Alika dan Reno menonton dari rumah aman. Ardian duduk dengan tenang yang terlatih, setelan rapi, suaranya hangat dan terkendali. "Saya prihatin," katanya kepada pembawa acara, "dengan bagaimana fitnah bisa menyebar di era media sosial. Saya seorang pengusaha yang membangun jalan, jembatan, rumah sakit. Grup saya mengambil alih proyek Jembatan Kali Serayu secara sah, lewat proses lelang dan adendum resmi yang ditandatangani pejabat berwenang. Soal kasus pidana yang menimpa seseorang tujuh tahun lalu — itu urusan hukum, dan saya percaya pada hukum. Saya tidak mengenal terpidana itu. Saya tidak pernah bertemu dengannya."
"Dia berbohong dengan begitu tenang," bisik Reno, geram.
Tapi Alika menatap layar dengan tatapan berbeda. Ia mempelajari setiap kata. "Dia membuat kesalahan," katanya pelan.
"Apa?"
"Dia menyebut adendum resmi yang ditandatangani pejabat berwenang. Dia membela legalitas pengambilalihan proyek. Tujuh tahun dia tidak pernah perlu menyebut itu, karena tidak ada yang bertanya. Sekarang dia merasa harus membela. Dan saat seseorang mulai membela hal yang tak ditanyakan, dia menunjukkan di mana letak luka yang ia takut tersentuh."
Bu Hartati mengangguk perlahan, senyum tipis di bibirnya yang keriput. "Pejabat yang menandatangani adendum itu. Yang sekarang ada di tim suksesnya. Itu benang yang baru saja Ardian Cakra tarik sendiri di depan jutaan penonton."
Reno sudah mencatat dengan cepat. "Aku bisa lacak siapa pejabat dinas yang meneken adendum Juni 2019. Kalau dia memang sekarang di tim sukses Ardian, itu bukti rasuah yang kasat mata."
Di layar, Ardian tersenyum kepada penonton, menutup wawancara dengan menyebut visinya membangun untuk semua, untuk rakyat kecil, untuk anak cucu. Tapi ada sesuatu di matanya — sebersit yang hanya bisa ditangkap orang yang sudah lama berhadapan dengan pendusta — sebersit perhitungan, sebersit takut.
Ponsel Alika bergetar. Pesan dari nomor tak dikenal, tapi ia sudah belajar membedakan: ini bukan dari Pram, bukan dari sekutu. Nadanya berbeda.
"Kamu pikir kamu sedang menaikkan tekanan. Sebenarnya kamu sedang memojokkan binatang. Dan binatang yang terpojok tidak menyerah — ia menerkam ke arah yang paling dekat. Jaga orang-orang di sekitarmu, Nona Pengacara."
Alika menatap pesan itu lama. Lalu ia menoleh ke kamar tempat Mira tidur, ke arah Bu Hartati yang sudah lanjut usia, ke arah Reno yang tertawa kecil membaca komentar publik. Orang-orang yang ia sayangi. Orang-orang yang menjadi rentan justru karena dekat dengannya.
Di seberang kota, di sebuah ruang tertutup, Ardian Cakra menutup pintu dan menelepon satu nomor. "Yusuf," katanya, suaranya tak lagi hangat seperti di televisi. "Aku tidak peduli caranya. Selesaikan ini. Cepat."